N. DUNIA PENDIDIKAN

PENGANTAR

Judul Materi: DUNIA PENDIDIKAN

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa memahami dunia kerja secara praktis dan memahami serta menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk  meraih sukses di marketplace.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah:

  1. Memahami dunia pendidikan dan masalah-masalahnya
  2. Memahami dan menerapkan kompetensi seorang pendidik
  3. Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab untuk bekerja di dunia pendidikan

APAKAH PENDIDIKAN ITU?

Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

John Dewey dalam pandangan Thoha sebagaimana dikutip Ma’arif (2005) membedakan antara pengertian pendidikan secara teoritis filosofis dan pengertian pendidikan secara praktis. Secara teoritis filosofis, pendidikan adalah pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan mendasarkan pemikiran normatif, spekulatif, rasional empiris, rasional filosofis, dan historis filosofis. Sedangkan secara praktis, pendidikan adalah proses pemindahan pengetahuan dan pengembangan potensi-potensi yang dimiliki oleh subyek didik untuk mencapai perkembangan optimal. Pendidikan secara praktis juga merupakan proses membudayakan manusia melalui proses transformasi nilai-nilai yang utama.

Ma’arif (2005) mengatakan bahwa pengertian pendidikan berkembang dari masa ke masa. Pada jaman Yunani, pendidikan diartikan sebagai proses penyiapan tipe-tipe manusia. Pertama, manusia pemikir yang nantinya berkompeten menjadi pengatur negara. Kedua, manusia ksatria, nantinya menjadi pengaman negara. Ketiga, manusia pengusaha yang akan menjadi orang-orang yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan negara.

Pada jaman Romawi, pendidikan dimaknai sebagai proses untuk mempersiapkan manusia-manusia yang terbaik. Manusia ideal itu dididik untuk mempunyai beragam kompetensi yaitu menjadi orator, menguasai bahasa-bahasa asing, logika, bahasa, geometri, fisika, astronomi, sejarah, dan musik.

Pakar yang lain, Roger F Kaufman dalam Danim (2008) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses mempengaruhi individu (learner) dengan skill, pengetahuan, dan sikap tertentu sehingga mereka dapat hidup dan berproduksi dalam masyarakat setelah mereka secara legal keluar dari lembaga pendidikan. Setidaknya pendidikan memberi bekal berupa ketrampilan, pengetahuan dam sikap yang minimal dibuthkan dalam masyarakat.

MASALAH KAPITALISME PENDIDIKAN

Kapitalisme adalah konsep peradaban ekonomi yang memiliki beberapa ciri, pertama, penguasaan individu-individu atas alat-alat produksi (tanah, pabrik-pabrik, mesin-mesin, dan sebagainya). Kedua, harga di pasar ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan secara bebas, tidak dikendalikan oleh pemerintah atau negara. Ketiga, dalam sistem ekonomi pasar bebas ini pengusaha bebas memilih macam usahanya dan mendirikan usaha itu di tempat mana ia suka. Konsumen pun berdaulat penuh asal mempunyai daya beli yang kuat. Keempat, terjadi persaingan bebas yang bertolak dari empat kebebasan kapitalis yang pokok: (1) kebebasan untuk berdagang dan mempunyai pekerjaan, (2) kebebasan untuk mengadakan kontrak, (3) kebebasan hak milik, (4) kebebasan untuk membuat untung, (5) penekanan pada prinsip keuntungan (profit).

Jika bisnis pendidikan atau industri pendidikan dijalankan dengan konsep kapitalisme ekonomi semacam itu maka produk dan jasa pendidikan hanya dipandang sebagai komoditi yang diperdagangkan (komodifikasi pendidikan). Semangat berkuasa secara ekonomi dan obsesi untuk mencari untung semata dalam persaingan bebas akan menjadikan lembaga-lembaga pendidikan bekerja secara hedonis. Akibatnya, hanya yang bisa bayar yang bisa menerima jasa pendidikan. Masyarakat miskin dan terlantar terabaikan.

Francis Wahono (2001) menolak faham kapitalisme pendidikan berdasar pemikiran bahwa seharusnya pendidikan itu dijalankan dengan tujuan memberi keadilan sosial bagi semua.  Paradigma keadilan sosial seharusnya menekankan pendekatan ”pemberdayaan manusia” yang berarti memanusiakan manusia. Artinya, manusia tidak dapat direduksir menjadi komoditi atau disejajarkan dengan barang.

KOMPETENSI PENDIDIK

Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi pendidik adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

PANGGILAN MENJADI GURU

Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan  mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Pada Pasal 2 dikatakan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional padan jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun pengakuan kedudukan guru itu dibuktikan dengan adanya sertifikat pendidik.

Pemerintah menekankan bahwa guru sebagai tenaga profesional harus memiliki kualifikasi yang jelas. Pada Pasal 8 dikatakan bahwa kualifikasi akademik guru dan kompetensi guru sangat penting. Disamping itu guru harus mempunyai sertifikat guru, sehat jasmani rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pasal 20 menjelaskan tugas keprofesionalan seorang guru. Pertama, merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kedua, meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Ketiga, bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran. Keempat, menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika. Kelima, memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Secara umum, guru menurut W Taylor sebagaimana dikutip Hamalik (2004) mengemban peran-peran sebagai ukuran kognitif, agen moral, dan inovator. Sedangkan menurut E Curtis danWilma W. Bidwell sebagaimana dikutip Hamalik (2004) guru yang baik harus bisa menjadi model, menjadi perencana, menjadi ahli yang bisa mendiagnosis kemajuan belajar siswa, menjadi pemimpin, dan menjadi penunjuk jalan atau pembimbing ke arah pusat-pusat belajar.

Dalam memakinkan peran sebagai fasilitator belajar, Hamalik (2004) mendaftarkan 9 peran guru sebagai berikut. (1) Menciptakan iklim kelas atau pengalaman kelas. (2) membantu membuka rahasia pelajaran. (3) Mengimplementasikan tujuan-tujuan belajar bagi siswa. (4) Mengorganisasi dan mempermudah serta memperluas sumber-sumber belajar. (5) Mengelola ekspresi kelompok kelas dengan menerima sikap intelektual dan emosional para siswa. (6) Menjadi sumber yang fleksibel untuk dimanfaatkan untuk kemajuan siswa. (7) Bertindak sebagai peserta belajar dan memberikan pendapat-pendapatnya. (8) Berhati-hati dengan pernyataan-pernyataan yang diberikannya. (9) Berusaha menyadari dan menerima keterbatasan dirinya.

Menurut Fullan (1991) peran seorang guru sangat majemuk, yaitu sebagai berikut. (1) Manajer (manager), mengelola totalitas proses belajar mengajar. (2) Pengamat (observer), yaitu mengawasi perilaku anak didik dan proses belajar mereka. (3) Pendiagnostik (diagnostician), yaitu mengetahui kondisi anak didik dalam proses belajar mereka. (4) Pendidik (educator), menetapkan tujuan belajar, membuat bahan ajar, dan melaksanakan proses belajar mengajar. (5) Pengorganisasian (organizer), yaitu memberdayakan kelas atau proses belajar-mengajar. (6) Pembuat keputusan (decision maker), khususnya dalam memutuskan atau menetapkan bahan ajar, topik, kegiatan bagi kelas dan anak-anak didiknya. (7) Penyaji (presenter), yaitu sebagai ekspositor, narator, pemberi penjelasan, dan juga pemimpin diskusi. (8) Komentator dan penghubung (commentator) yang memfasilitasi proses belajar-mengajar di kelas. (9) Fasilitator dalam membimbing siswa dalam proses belajar. (10) Konselor (counselor) bagi anak didiknya dalam hal yang berkaitan dengan pendidikan maupun masalah-masalah pribadi. (11) Penilai (evaluator), yaitu menilai program, mengakses kemampuan, kemajuan, dan hasil belajar para siswa.

Guru diwajibkan mempunyai tingkat kompetensi pendidik yang tinggi. Pasal 10 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 menyebutkan beberapa jenis kompetensi yang haru dimiliki guru yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi social, (4) kompetensi professional yang diperleh melalui pendidikan profesi

Menurut pasal 43 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kode etik guru dibuat oleh organisasi profesi guru untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan. Kode etik tersebut berisi norma dan etika yang mengikuti perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan.

PANGGILAN MENJADI KEPALA SEKOLAH

Kepala Sekolah adalah seorang manajer dalam manajemen sekolah dan sekaligus seorang pemimpin dalam organisasi sekolah. Menurut Thomas J. Sergiovanni dan Robert J. Starratt sebagaimana dikutip Rohiat (2008), kepala sekolah sebagai manajer melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan proses-proses pengelolaan, pemeliharaan, birokrasi, perencanaan agenda kegiatan dan pendanaannya, pelatihan, pengendalian, dan koordinasi. Kemudian, sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah menjalankan pengaruhnya untuk memberi pertumbuhan, memberi arahan, mengarahkan moral organisasi, membangkitkan orang-orang, memberi visi, memotivasi, memberi inspirasi, dan memberi penerangan.

Menurut Peters dan Austin dalam Sallis sebagamana dikutip Rohiat (2008), dalam menjalankan kepemimpinannya kepala sekolah harus bisa, pertama, membagi visi dan nilai-nilai kepada para guru, karyawan, dan murid-murid. Kedua, bisa menjalankan manajemen sekolah. Ketiga, dekat dengan anak-anak didik. Keempat, mempunyai otonomi dan inovatif. Kelima, menciptakan rasa kekeluargaan. Keenam, membangkitkan antusiasme kerja.

PANGGILAN MENJADI DOSEN

Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada Pasal 3 dikatakan bahwa dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi. Dosen diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan pengakuan dosen sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

Pada Pasal 5 dikatakan bahwa dosen sebagai tenaga profesional mempunyai martabat dan peran sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat. Fungsi dosen menurut pasal ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Pasal 60 menyebutkan tugas-tugas profesional seorang dosen. Pertama, melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kedua, merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Ketiga, meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dosen dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Keempat, bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, kondisi fisik tertentu, atau latar belakang sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran. Kelima, menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik, serta nilai-nilai agama dan etika. Keenam, memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

PENDIDIK KRISTEN YANG BAIK

Seorang pendidik Kristen yang baik minimal mempunyai karakteristik sebagai berikut. Pertama, harus memiliki dan mengembangkan setiap kompetensi profesional yang dituntut di atas. Kedua, memilik integritas yang tinggi. Ketiga, memiliki keunggulan dalam karakter. Keempat, dapat menjadi teladan.

Banyak orang pandai bisa mendidik, tetapi pendidik Kristen seharusnya bukan hanya pandai namun memiliki hati bapa. Paulus mengatakan, ”Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa” (1 Kor 4:15a).

Ditinjau dari konsep Alkitabiah (Perjanjian Baru) tentang pendidikan (dari bahasa aslinya), pendidik Kristen harus mempunyai kualifikasi kompetensi sebagai berikut. Pertama, bisa mengajar, karena mendidik (Didasko), yang paling sering dipakai dalam PB berarti “mengajar”. Dalam Versi King James juga diartikan sebagai “mengajar doktrin” (Kis 2:42; 2 Tim 3:16). Kata Didaskolos, artinya pengajar. Misalnya Paulus mengatakan, “Aku telah ditetapkan…sebagai pengajar (didaskolos) orang-orang bukan Yahudi….” (1 Tim 2:7).

Kedua, pendidik Kristen harus bisa melatih. Dalam PB dipakai kata Paideuo, artinya memberi petunjuk dan pelatihan (to give guidance and training) (Ef 6:4; 2 Tim 3:16).

Ketiga, pendidik Kristen harus bisa mengembangkan intelektualitas para muridnya. Dalam PB dipakai kata Noutheteo, artinya mempertajam pikiran (to shape the mind) atau dalam KJV diartikan memperingatkan (1 Kor 4:14; 10:11; Ef 6:4; Kol 3:16).

Keempat, pendidik Kristen harus bisa menumbuhkan moral-kerohanian para muridnya. Dalam PB dipakai kata Oikodomeo, artinya memberi instruksi atau memperbaiki moral/intelektual (to edify) atau membangun (to build up) yang berkaitan dengan pertumbuhan rohani dan kedewasaan (1 Kor 3:9; 8:1; 1 Tes 5:11; 1 Ptr 2:5). Implikasinya, pendidik Kristen harus dewasa rohani dan diurapi Roh Kudus sehingga bisa mengubahkan para muridnya.

Kelima, pendidik Kristen harus bisa membangun kemampuan ilmiah para murid. Dalam PB dipakai kata Ektithemi, artinya menjelaskan fakta secara logis (to explain facts in logical order) (Kis 11:4; 18:26; 28:23).

Keenam, pendidik Kristen adalah seorang pemimpin karena mendidik diterjemahkan dari kata Hodogeo, artinya memimpin (leading), memberi petunjuk (guiding), dan menunjukkan jalan (showing the way) (Kis 1:16; Yoh 16:13; Kis 8:31; Mat 15:14; 23:16, 24; Why  7:17).

SOAL

  1. Jelaskan cakupan dunia pendidikan itu.
  2. Jelaskan karakteristik guru dan dosen yang professional.
  3. Jelaskan karakteristik pendidik Kristen yang unggul.

TUGAS

Rancanglah sebuah lembaga pendidikan yang bisa menjadi berkat bagi orang-orang miskin karena karena kemelaratannya tidak bisa mendapatkan pendidikan formal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: