L. DUNIA MEDIA

PENGANTAR

Judul Materi: DUNIA MEDIA

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa memahami dunia kerja secara praktis dan memahami serta menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk  meraih sukses di marketplace.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah:

  1. Memahami masalah media massa masa kini
  2. Memahami dan menerapkan prinsip Alkitabiah bagi orang Kristen yang bekerja di dunia media
  3. Menerapkan pemanfaatan media untuk pelayanan rohani

MORDERNITAS DAN MEDIA

Berikut ini adalah artikel opini Haryadi Baskoro yang dimuat di Harian ”Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta (23 Juli 2009), berjudul ”Sehari Tanpa Teve, untuk Apa?”

Tanggal 23 Juli, sejak 2006 diperingati sebagai Hari Tanpa Tivi (HTT). Di era sekarang, mencegah orang menonton tivi serasa mengada-ada. Malahan bisa dianggap tidak wajar karena media ini harus diakui sangat bermanfaat memajukan bangsa. Lalu, apa makna yang pas dari seruan berpuasa nonton tivi itu?

Teknologi tivi yang mendunia bahkan telah merambah daerah-daerah yang masih terpencil sekalipun. Bayangkan, Tuareg, suku pengembara terbesar di gurun Sahara, memutuskan untuk menunda migrasi tahunan mereka selama 10 hari pada 1983 hanya supaya dapat menonton film seri Dallas di tivi (Naisbitt, 1990). Artinya, mencegah orang supaya tidak menonton tivi itu hampir tidak mungkin.

Tivi, bukan teknologinya namun sebagai media massa, telah lama dikritik. Para kritikus ideologis menyoroti masalah imperialisme kultural yang terjadi lewat proses globalisasi tivi. Di Amerika Latin misalnya, sekitar 60 persen program tivi diimpor dan 80 persen dari program impor itu berasal dari Amerika Serikat. Kolumnis Georgie Anne Geyer pernah mengecam keras imperialisme kultural Barat atas negara-negara berkembang yang menderita melalui globalisasi tivi tersebut. Michael Jay Salomon dari Lorimar Telepictures mengatakan bahwa Cina yang merupakan ”benteng pertahanan terakhir” pun sudah tak bisa menghadang penetrasi tivi global. Pada era 1990-an saja, 70 persen penonton tivi di negeri tirai bambu itu setia menonton film seri Hunter asal AS.

Tivi yang mampu memanjakan para konsumennya dengan sajian audio-visual yang menarik telah menjadi media hiburan murah meriah. Maka melalui tivi pulalah kebudayaan populer (pop culture) yang mengedepankan selera-selera rendahan tanpa kedalaman nilai-nilai itu merebak ke mana-mana. Mulai dari film, drama sinetron, sampai aneka kuiz yang tidak edukatif dan bahkan tidak bermartabat dipancarkan sebagai sajian-sajian harian melalui layar kaca.

William J. Rivers (2004) merangkumkan beberapa kritik atas media (termasuk tivi) sebagai berikut. Pertama, dalam melakukan pemberitaan cenderung menonjolkan aspek sensasinya daripada esensinya. Kedua, hanya menyediakan hiburan semu yang jauh dari unsur artistik. Ketiga, sajian-sajiannya sering membahayakan moral publik. Keempat, tanpa alasan yang jelas sering menyerang privasi dan melecehkan martabat individu. Kelima, pemirsa hanya dijadikan sebagai konsumen atau penonton saja. Keenam, menonjolkan gaya hidup sukses secara kilat sehingga generasi muda enggan bekerja keras. Ketujuh, memberitakan lebih banyak daripada kejadian yang sebenarnya, dan seringkali tidak akurat.

Apalagi dengan merebaknya iklan, tivi cenderung semakin tidak edukatif. Pimpinan Consumers Union AS Colston E Warne dalam Rivers (2004) merangkumkan beberapa kritik utama atas iklan. Pertama, iklan menonjolkan nilai-nilai yang tidak penting. Kedua, iklan memunculkan perspektif keliru tentang mutu suatu produk sehingga lebih sering menyesatkan ketimbang memberitahu. Ketiga, iklan menurunkan standar etika karena terlalu sering melontarkan bujukan. Keempat, iklan mengacaukan dan melencengkan berita. Kelima, iklan membuat orangtua sulit mendidik anak-anaknya. Keenam, iklan menjadikan masyarakat memuja mode, gaya, dan perilaku boros.

Era posmodern yang mengapresiasi heterogenitas, pluralitas, dan aneka ragam keunikan dengan semangat relativisme budaya semakin memperparah keadaan, meskipun itu memacu kreatifitas di satu sisi. Kini, antara yang benar dan salah, antara yang baik dan buruk, antara yang suci dan tidak suci, antara yang indah dan tidak indah, semuanya relatif. Sebagai contoh, tontotan-tontonan berbau spiritisme yang musrik dan satanis kini disiarkan bebas lewat tivi. Sihir-menyihir, ramal-meramal, dan hipnotisme semakin marak. Bahkan ditayangkan dalam bentuk program interaktif dan reality show.

Tetapi, ya begiitulah selera masyarakat. Sebagai bisnis yang profit oriented tentu perusahaan-perusahaan tivi mengutamakan rating. Wajar jika mereka lebih memilih menayangkan skandal, gosip, berita sensasi, pertunjukan seronok, dan seterusnya, karena dari situlah keuntungan diraup. Lalu, siapa yang harus dikontrol? Pemirsanya yang tidak boleh nonton ini itu, atau stasiun tivinya yang dilarang begini dan begitu?

Mencegah anak-anak, remaja, dan kawula muda untuk tidak nonton tivi itu mustahil. Generasi yang lahir di atas 1976-an sampai 2001-an sering disebut sebagai generasi ”Y” yang merupakan ”generasi digital”. Generasi teknologi canggih ini bisa dikatakan sudah hidup menyatu dengan media elektronik mulai dari tivi, telepon selular, sampai internet dengan berbagai kecanggihan inovasinya. Bagi dua generasi di atasnya yang lazim disebut ”generasi bom bayi” (lahir setelah Perang Dunia II) dan ”generasi X” yang adalah anak-anak dari generasi bom bayi itu, puasa nonton tivi barang sehari mungkin masih bisa. Moralitas dan idealisme masih diresapi. Tetapi, buat anak muda sekarang, teknologi yang nyaris bebas nilai adalah jantung kehidupan.

Namun, ada satu hal yang bisa diterima oleh semua generasi, yaitu pendidikan yang mencerdaskan. Visi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tetap relevan dari generasi ke generasi. Yang tua dan yang muda pasti tidak mau menjadi orang bodoh. Sikap untuk melawan segala jenis pembodohan dengan sikap kritis (cerdas) adalah standar universal lintas generasi. Sikap seperti itu yang harus ditumbuhkan pada semua elemen masyarakat sehingga tidak terbodohi oleh media tivi.

Anak muda dan masyarakat tidak bisa hanya dilarang-larang. Mereka justru akan memberontak. Tetapi, ketika mereka dibina menjadi generasi yang kritis dan cerdas maka akan mempunyai kearifan dalam merespon tivi. Apalagi jika kecerdasan mereka lengkap, bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual. Mereka tidak akan mau tertipu oleh tayangan-tayangan yang sifatnya membodohkan.

Di sisi lain, kepada para pebisnis media tivi perlu ditanamkan visi mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut. Ketika mereka memiliki ”panggilan” sebagai pendidik maka meskipun membuat program-pgoram hiburan, nuansanya akan edukatif (edutainment). Syukurlah sekarang sudah mulai banyak acara tivi yang seperti itu. Dan, terbukti bahwa rating acara-acara itu – jika ditangani secara kreatif – juga berdaya saing tinggi. Jadi, Hari Tanpa Tivi bukanlah ungkapan sikap anti terhadap tivi, tetapi wujud harapan supaya media tivi menjadi alat yang sangat efektif untuk mencerdaskan bangsa.

MEDIA UNTUK KEBAIKAN

Berikut ini adalah artikel opini Haryadi Baskoro yang dimuat di Harian ”Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta (9 Februari 2009), berjudul ”Refeksi Hari Pers Nasional (9 Februari 2009: Solidaritas Pembaca, Jurnalisme Kasih Sayang”

Tri Haryanto (17) penduduk Selang III RT 03/03 Selang Wonosari, benar-benar terenggut masa remajanya. Hari-harinya habis di tempat tidur karena lumpuh. Ayahnya telah tiada. Tinggal ibunya Suwarni umur 50 tahun yang harus menanggung lima anak. Berobat di rumah sakit, tinggal harapan. Harta orangtuanya hampir habis untuk membayar biaya rumah sakit sebelumnya. (KR, 27 Januari 2008).

Berita-berita semacam itu senantiasa menghiasi halaman-halaman tertentu dari harian ini. Sebagian pembaca berkomentar, berita-berita seperti itu kurang berbobot, tidak intelek. Namun sebenarnya sajian-sajian itu justru merupakan salah satu kekuatan dari surat kabar ini. Konsisten dengan mottonya, ”Suara Hari Nurani Rakyat”, KR senantiasa menggalang solidaritas para pembacanya.

Komitmen untuk menggalang solidaritas pembaca sudah dilakukan harian ini sejak lama sebagaimana tercatat dalam buku 50 tahun harian KR (”Amanat Sejarah: dari Pekik Merdeka hingga Suara Hati Nurani Rakyat”). Pada 1947 KR bukan hanya mengirim wartawan-wartawan perangnya ke medan pertempuran (Bramono dan Martomo) tetapi juga membuka kolom sumbangan perang (Fonds Perang). Mulai tanggal 24 Juli 1947 banyak pembaca dari Yogyakarta dan sekitarnya menyalurkan berbagai sumbangan berupa uang dan bermacam-macam materi seperti kalung emas, cincin emas, sayur mayur, almari pakaian, tempat tidur, jam saku, buffet, dan bahkan rokok. Ketika gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada 1951, KR juga membuka Fonds Kelud. Penggalangan dana oleh KR yang dilakukan dari tanggal 1 sampai 5 September 1951 itu berhasil mencapai jumlah Rp. 8.996,30.

Komitmen harian KR sebagai koran penggalang solidaritas sosial dari masa ke masa cukup besar. ”Dompet  Kasih Sayang KR” untuk korban bencana gunung Merapi (13 Januari – 17 Maret 1969) berhasil menggalang dana Rp. 773.367,37 plus barang-barang dan pakaian-pakaian. Pada 1975 KR membuka ”Dompet Korban Keganasan Fretilin” dan berhasil menghimpun dan menyalurkan dana Rp. 3.036.358. Pada 1979, KR membuka ”Dompet Rachmat Wahyudi” yang menderita penyakit aneh. Dana Rp. 4.502.180 yang terkumpul diberikan kepada yang bersangkutan. Ketika terjadi bencana gas beracun dari kawah Sinila pegunungan Dieng, KR membuka ”Dompet Kemanusiaan Dieng” (27 Februari – 17 Maret 1979) dan berhasil mengumpulkan dan menyalurkan bantuan dana Rp. 10.046.827. Pada 1981 KR membuka ”Dompet Kali Code”. Sampai hari ini KR tetap melanjutkan penggalangan solidaritas pembaca semacam itu.

Pers di era modern seringkali hanya menjadi alat bisnis kapitalistik yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat, apalagi rakyat bawah yang menderita. Rivers dan Jensen (2004) merangkumkan beberapa kritik atas pers modern masa kini. Pertama, kebanyakan media, termasuk pers, cenderung menggunakan kekuatan besarnya untuk hanya mempromosikan kepentingan pemiliknya saja. Kedua, media massa sering hanya menjadi alat bisnis. Dengan iklan, si pebisnis mengendalikan kebijakan dan isi media. Media massa hanya menjadi sarana untuk mencari profit dan bukannya benefit bagi masyarakat banyak. Ketiga, media massa cenderung menghambat perubahan dan mempertahankan status quo. Media massa juga membahayakan dan memerosotkan moral publik. Media massa cenderung menonjolkan pemberitaan-pemberitaan sensasional yang bersifat hiburan populer semata. Keempat, media massa sering menjadikan para pembaca, pendengar, dan pemirsa hanya sebagai konsumen. Mereka hanya dijadikan sebagai penikmat dan penonton saja. Bukannya menjadi para pelaku yang membawa perubahan dan perbaikan dalam kehidupan bersama. Kelima, media massa sering menonjolkan gaya hidup sukses secara kilat sehingga generasi muda enggan bekerja keras. Apalagi dengan kemasan populernya, media massa telah menanamkan pola-pola kehidupan pragmatis yang dangkal.

Yang diharapkan dari kiprah pers adalah terbelanya kepentingan umum. Apresiasi besar semestinya diberikan kepada pers yang berpihak kepada rakyat, khususnya rakyat yang melarat dan sengsara. Penghargaan Pulitzer misalnya, sangat mengapresiasi pers dan jurnalis yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang dirugikan. Menurut catatan Rivers dan Jensen (2004), tahun 1970 adalah puncak penghargaan bagi koran-koran yang membela kepentingan umum. William J Eaton dari koran Daily News Chicago AS memenangkan penghargaan Pulitzer setelah berhasil membongkar kecurangan Hakim Clement Haynsworth untuk menjadi anggota Mahkamah Agung. Sementara itu, Seymour Hersh dari koran Dispath News Service mendapat penghargaan Pulitzer karena mengungkap kasus pembunuhan penduduk sipil Vietnam di My Lai oleh pasukan AS. Pada tahun itu pula koran Newsday dari Long Island memenangkan Pulitzer untuk kedua kalinya karena komitmennya untuk melayani masyarakat. Selama tiga tahun penuh Newsday mengungkap manipulasi tanah yang diam-diam dilakukan oleh beberapa pejabat korup dan para pengusaha di Long Island. Skandal itu sangat merugikan masyarakat. Berkat kegigihan koran itu akhirnya  tiga orang divonis bersalah dan empat orang dipaksa mundur dari jabatan publik. Kecuali itu, empat lainnya mengundurkan diri.

Dalam konteks krisis multi dimensi dan krisis global sekarang, keberpihakan kepada rakyat berarti keberpihakan pada kesengsaraan rakyat. Di Indonesia, kesengsaraan rakyat berarti kemiskinan, kemelaratan, kondisi menderita karena berbagai sakit-penyakit, keadaan sengsara karena bencana alam, dan seterusnya. Peran pers semestinya bukan hanya mengekspos semua itu namun turut menggalang solidaritas sosial berdasar kasih sayang yang tulus. Pers perlu menggalang solidaritas pembaca dengan mengedepankan jurnalisme kasih sayang (love journalism).

Belakangan ini banyak media massa, termasuk televisi menjadikan kemiskinan dan penderitaan sebagai sebuah sajian atau tayangan yang menarik. Kisah-kisah balada penderitaan orang-orang bernasib malang dikemas menjadi tontonan bernuansa melo yang menggetarkan jiwa. Pemberian karitas (charity) kepada orang-orang sengsara itu pun diskenario dan difilmkan sedemikian rupa sehingga menjadi tontonan dramatis yang menarik bak sebuah sinetron.

Sebagai sebuah bisnis kreatif tentu sah-sah saja bagi media massa untuk membuat tulisan atau tayangan menarik seperti itu. Namun tentu kurang elok kalau kemudian menjadikan kemiskinan dan kesengsaraan sebagai sebuah komoditas. Penderitaan itu bukan barang tontonan. Bahkan pemberian derma yang tulus dan penuh kasih sayang sejati tak perlu diekspos berlebihan seperti kata-kata bijak ”jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”.

MASALAH PORNOGRAFI

Belum lagi pornografi via internet. Melalui bisnis jaringan di dunia maya ini, Amerika Serikat telah menarik keuntungan US $ 18 triliun pada tahun 1999. Menurut riset David Brazil, sebuah situs porno di Singapura dikunjungi tak kurang dari 10.000 orang saban harinya, 40 persennya dari negeri itu sendiri.

Jadi, perang melawan pornografi memang sangat penting. Perang melawan pornografi adalah bentuk ”pertobatan nasional” yang baik. Singapura pun melarang beredarnya majalah Playboy dan Penthouse yang syur itu. Beberapa situs porno tidak bisa dibuka di Singapura karena dikontrol melalui Singapore’s Internet Content Regulation oleh Otoritas Penyiaran Singapura. Di negeri itu juga terdapat CID’s Computer Crimes Division yang memberi peraturan: ”Tiap warga setempat yang membuat website tentang materi pornografi akan beresiko pengadilan dan penjara, bahkan jika host server­-nya dari luar negeri.”

ORANG KRISTEN BEKERJA DI MEDIA

Kalau anak Tuhan bekerja di dunia media, dia harus memiliki beberapa kekuatan. Pertama, mempunyai kapasitas atau kompetensi unggul dalam SDM-nya. Hal itu penting sekali karena era teknologi digital super canggih sekarang menuntut para praktisi media mempunyai keahlian dan spesialisasi yang di atas rata-rata.

Kedua, memiliki daya kreatifitas yang unggul. Karena dunia media adalah dunia kreatif. Persaingan di dunia ini pada dasarnya adalah persaingan kreatifitas.

Ketiga, memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) yang unggul. Bisnis di dunia media sangat keras dan persaingannya sangat ketat. Media cetak misalnya, kalau tidak kreatif maka akan terlibas oleh media elektronik dan media yang berbasis internet.

Keempat, harus kuat dalam integritas, khususnya kekudusan. Hal itu penting sebab kenajisan sudah begitu menguasai dunia media. Pornografi dalam segala bentuk dan ’kreatifitas’-nya begitu merebak. Kalau tidak memiliki visi kekudusan bisa-bisa kita malah menjadi salah satu kreator kenajisan itu sendiri.

Kelima, harus memiliki kasih. Kapitalisme dalam bisnis media menyebabkan para pebisnis media menjadi sangat hedonis dan materialistik. Padahal media sangat efektif untuk mengalirkan kasih kepada masyarakat. Harus diingat pula supaya media tidak justru memanfaatkan orang miskin dan kemiskinan untuk kepentingan entertainment dan pengejaran keuntungan sendiri.

Keenam, memiliki jiwa mendidik sehingga bisa mengembangkan acara atau kegiatan yang edutainment (menghibur namun mendidik). Dalam konteks kekristenan, unsur pendidikan itu terkait dengan penanaman nilai-nilai Kristen. Sekalipun tidak frontal namun yang penting nilai-nilai Alkitab (kasih, kebaikan, pengampunan, kesucian, dst) tersosialisasi dan terimpartasi ke masyarakat.

Ketujuh, memiliki urapan Roh Kudus untuk melawan setan-setan dan jangan justru berkompromi dengan okultisme. Hal itu penting sebab sekarang (di era posmordern) media dan okultisme (sihir, pedukunan, paranormal, dst) saling terkait. Banyak film, acara, reality show, dst yang okultis dan satanis.

MEDIA UNTUK PELAYANAN

Media sebagai teknologi dan sistem pada prinsipnya netral. Internet misalnya, tergantung siapa yang menguasai. Orang bisa membuat situs porno. Tetapi, kita bisa pula membuat situs pelayanan. Karena itu, orang Kristen perlu memanfaatkan media untuk mengembangkan pelayanan.

Dulu pernah ada perdebatan soal pemanfaatan media untuk pelayanan. Billy Graham (penginjil dunia) waktu itu mempunyai ide untuk menyiarkan KKR penginjilannya via satelit. Beberapa orang menentang karena dianggap tidak Alkitabiah. Namun, Billy menegaskan bahwa teknologi media adalah alat yang netral. Sama seperti perahu, rumah, pakaian, uang, yang juga dipakai oleh Yesus untuk melayani.

Keberhasilan Christian Broadcasting Network (CBN) di bawah pimpinan Pat Robertson adalah sebuah contoh kreatifitas pelayanan media yang dipimpin Roh Kudus. Sekarang, CBN berkembang menjadi sebuah badan hukum siaran radio dan televisi bernilai multi jutaan dollar yang setiap hari melayani jutaan pendengar dan pemirsa di seluruh dunia. Kehadiran pelayanan CBN di Indonesia juga telah membawa angin perubahan masyarakat yang sangat berarti.

Bagaimana CBN dimulai? Pat Robertson yang lahir pada tanggal 22 Maret 1930 adalah anak laki-laki seorang senator di Amerika Serikat. Pada tahun 1956, di tengah kehidupan jet-setnya, Pat merenungkan tujuan hidupnya. Ia mendengar sebuah suara lembut jauh di dalam hatinya. Suara itu berkata tentang panggilan untuk melayani Tuhan. Akhirnya, Pat meninggalkan semua bisnisnya dan terjun dalam pelayanan. Ia pun meninggalkan kebiasaan ”dugem”-nya dan hidup kudus bagi Tuhan.

Namun, proses untuk menangkap visi pelayanan itu ternyata sangat tidak mudah. Meskipun sudah malang melintang dalam dunia pelayanan, Pat tak kunjung menemukan visi spesifiknya. Tetapi, satu hal yang bagus dari Pat adalah ketekunan doanya. Pat terus bergumul untuk mencari kehendak Tuhan. Sementara itu, karena tidak bekerja, kehidupan ekonomi Pat dan istrinya semakin lama semakin merosot.

Tiba-tiba, suatu malam setelah sekian lama bergumul, Pat mendapat ilham tentang pelayanan media televisi Kristen. Pada tanggal 11 Januari 1960, Pat bersama istrinya, Dede, dan rekan-rekan lain (Herald Bredesen, Bob Walker, dan George Laudardale) mendirikan Christian Broadcasting Network, Inc. Pat mulai dengan sebuah stasiun televisi yang sangat buruk dengan perabotan rusak dan sumbangan orang sebesar $ 3. Untuk lembaga itu, Pat membuka rekening di bank Virginia yang mewah dengan setoran awal $ 3 dan mendapat buku tabungan $ 6 secara gratis. Petugas bank saat itu sempat menahan tawa. Tetapi, ide kreatif dari Tuhan telah berbuah lebat pada musimnya.

SOAL

  1. Jelaskan perkembangan positif dan negatif media masa kini.
  2. Karakteristik seperti apa yang harus dimiliki/dikembangkan orang Kristen yang hendak menjadi praktisi di dunia media?
  3. Bagaimana cara mengembangkan pelayanan berbasis media?

TUGAS

Rancanglah sebuah pelayanan rohani berbasis media. Kembangkan keunikan tertentu yang belum digarap oleh pelayanan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: