J. DUNIA BISNIS (ENTREPRENEURSHIP)

PENGANTAR

Judul Materi: DUNIA BISNIS (WIRAUSAHA)

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa memahami dunia kerja secara praktis dan memahami serta menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk  meraih sukses di marketplace.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah:

  1. Memahami aktivitas berwirausaha
  2. Memahami dan menerapkan dunia wirausaha
  3. Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Kristen dalam bisnis

MENGAPA TIDAK BERWIRAUSAHA?

Secara umum “entrepreneurship” atau “kewirausahaan” adalah salah satu varian kegiatan bekerja untuk mencari nafkah. Menurut kamus (Concise Oxford English Dictionary), seorang entrepreneur adalah a person who sets up a business or businesses, taking on financial risks in the hope of profit (orang yang membangun bisnis atau usaha dengan mengambil resiko keuangan dengan harapan mendapat keuntungan).

Meskipun jenis pekerjaan ini menjanjikan masa depan, masih ada yang sebagian masyarakat yang kurang antusias dalam menanggapinya. Beberapa faktor yang menyebabkan kelambanan itu adalah, pertama, faktor mental-psikologis, misalnya kemalasan, sikap fatalistik. Kedua, faktor pendidikan/pengetahuan, misalnya pemikiran sempit mengenai dunia kerja, berpikir bahwa bekerja itu hanya menjadi pegawai/karyawan, kurang mengikuti perkembangan dunia kerja dan dunia usaha masa kini, kurang mendapat pendidikan mengenai entrepreneurship. Ketiga, faktor kebudayaan, misalnya pandangan tradisional bahwa lulus dari sekoah harus mencari pekerjaan (bukan menciptakan pekerjaan) atau stigma bahwa hanya kelompok etnik tertentu yang bisa berbisnis (pandangan bahwa wirausaha itu ”bukan budaya kita”). Keempat, faktor keagamaan, misalnya pandangan bahwa berbisnis itu tidak suci, atau pengertian bahwa mencari uang itu dosa, dsb.

WHAT: APAKAH ENTREPRENEURSHIP ITU?

Istilah entrepreneurship muncul sejak tahun 1700-an. Semula, entrepreneurship diartikan sebagai melakukan bisnis sendiri. Tetapi kemudian para ahli ekonomi melihat bahwa artinya lebih luas dari sekedar seperti itu.

Mengenai apakah entrepreneurship itu, para ahli memberikan penekanan yang berbeda-beda. Ada yang menekankan bahwa entrepreneur adalah orang yang mengambil resiko untuk melakukan bisnis baru dengan tujuan mencari untung (profit). Ada yang menekankan bahwa entrepreneur adalah inovator yang memasarkan inovasinya itu. Ada yang menekankan bahwa entrepreneur adalah pencipta barang atau jasa baru yang di pasar belum ada atau belum tersedia. Menurut Joseph Schumpeter (1883-1950), entrepreneur adalah seorang pencipta pasar (market maker). Menurut Peter Drucker (1909-2005), entrepreneur adalah orang yang menyelidiki dan menanggapi perubahan serta mengeksploitasinya sebagai sebuah peluang.

Jadi, seorang entrepreneur adalah orang yang, pertama, melakukan usaha untuk mencari keuntungan (profit). Kedua, caranya adalah dengan memasarkan barang atau jasa yang inovatif yang belum tersedia di pasar. Ketiga, kesuksesannya tergantung dari inovasi dan kejelian melihat peluang.

Disamping entrepreneurship, sekarang berkembang pula apa yang disebut sebagai SOCIAL ENTREPRENEURSHIP. Ini adalah entrepreneurship yang tidak semata-mata bertujuan untuk mencari keuntungan (profit). Kegiatan entrepreneurship ini berorientasi sosial, membawa keuntungan sosial seperti: membuka lapangan kerja, menolong orang/masyarakat miskin untuk bekerja dan memperbaiki taraf hidup, membawa perubahan sosial-ekonomi masyarakat. Kegiatan entrepreneurship ini bertolak dari ”idealisme” pelayanan sosial seperti filosofi berikut ini: ”The greatest good we can do for others is not just to share our riches with them, but to reveal theirs” (Zig Ziglar) dan “You can have everything in life that you want if you will just help enough other people get what they want” (Zig Ziglar).

WHO: SIAPA YANG BISA MENJADI ENTREPRENEUR?

Prinsipnya, siapa saja bisa menjadi entrepreneur atau wirausahawan/wirausahawati. Tidak peduli apa latar belakang gender, usia, etnik, ras, agama, dan pendidikan mereka. Sebagai contoh adalah Colonel Sanders memulai usaha ayam goreng pada usia di atas 60 tahun. Ia mengalami penolakan sampai 1.009 kali sebelum akhirnya mendirikan restoran ayam gorek Kentucky Fried Chicken (KFC) yang sekarang mendunia.

Semua orang berpeluang untuk bisa menjadi entrepreneur karena, pertama, Entrepreneurship adalah kegiatan yang bisa dipelajari (learned-achieved career). Kedua,   Entrepreneurship bisa dimulai dengan modal awal yang kecil. Ketiga, masyarakat memberi pasar yang luas yang merupakan peluang bagi setiap orang untuk melakukan kegiatan entrepreneurship. Keempat, semua orang berpeluang melakuka inovasi sehingga berpeluang untuk memasarkan kreatifitasnya itu. Kelima, Entrepreneurship bisa dilakukan dalam tim, tidak harus seorang diri.

Untuk menjadi seorang entrepreneur kita dituntut memiliki kualifikasi SDM sebagai berikut, pertama, CREATIVITY (kreatifitas), seorang entrepreneur dituntut untuk selalu melakukan inovasi, mencipta barang atau layanan jasa baru. Kedua, DEDICATION  (pengabdian), seorang entrepreneur dituntut untuk tekun bekerja, mempunyai ketahanan untuk berusaha keras, tahan banting (adversity quotient). Ketiga,  DETERMINATION (kebulatan tekad), seorang entrepreneur tidak bekerja setengah-setegah, tekadnya bulat, tidak plin-plan. Kelima, FLEKSIBILITY (fleksibel, lentur, tidak kaku), seorang entrepreneur harus siap melakukan perubahan, misalnya melakukan manufer dalam memilih bisnis baru. Keenam, LEADERSHIP (kepemimpinan), seorang entrepreneur adalah bos atas para karyawannya, sehingga harus memiliki kepemimpinan yang bagus. Ketujuh, PASSION (semangat, gairah), seorang entrepreneur harus menjalankan usahanya dengan penuh semangat, tidak mudah patah semangat, tidak ”panas-panas tahi ayam”. Kedelapan,  SELF CONFIDENCE (percaya diri), seorang entrepreneur harus percaya diri, tidak mudah terpengaruh, tidak mudah tertuduh dan terhakimi. Kesembilan, SMART (cerdas), seorang entrepreneur harus pandai membaca peluang, pandai melihat kebutuhan pasar dan lihai dalam melakukan inovasi dan manufer bisnis.

WHEN: KAPAN KITA BISA MEMULAI BERWIRAUSAHA?

Menjalankan  entrepreneurship membutuhkan kesiapan tertentu. Jadi, mengenai kapan kita bisa menjalankan entrepreneurship itu tergantung pula dari kesiapan kita. Adapun kesiapan itu mencakup kesiapan dalam hal memiliki jiwa sebagai seorang entrepreneur. Melakukan entrepreneurship berarti memasarkan inovasi. Dengan demikian, kita harus memiliki karya inovatif terlebih dahulu dan baru kemudian memasarkannya. Dalam menjalankan entrepreneurship juga harus melihat situasi dan kondisi yang ada, termasuk tuntutan pasar. Pada waktu musim dingin misalnya, berjualan es kurang cocok. Dalam hal ini diperlukan fleksibilitas. Dalam menjalankan entrepreneurship diperlukan perencanaan yang matang. Langkah demi langkah perlu diagendakan dengan baik.

WHERE: DI MANA KITA MELAKUKAN WIRAUSAHA?

Beberapa usaha bisnis memerlukan lokasi yang baik. Misalnya adalah bisnis berjualan (membuka restoran atau warung makan), membutuhkan lokasi yang strategis. Tetapi, ada banyak yang bisa dikerjakan di rumah sendiri. Karena itu sekarang berkembang apa yang disebut sebagai SOHO (Small Office Home Office), yaitu menjadikan rumah sendiri sebagai kantor kecil (RuKancil = Rumah Kantor Kecil). Beberapa usaha jasa seperti katering, jasa konsultasi, penulis-penerjemah, dan sebagainya bisa dikerjakan di SOHO.

Sekarang berkembang entrepreneurship yang berbasis internet sehingga bisa dijalankan di mana saja dan kapan saja. Usaha ini disebut juga sebagai ”bisnis online” atau ”internet marketing”. Pada tahun 2004 terdapat 11 juta pengguna internet di Indonesia. Jumlah itu melonjat sampai 16 juta pemakai pada tahun 2006. Barang, produk, dan jasa kita bisa dijual melalui media internet ini. Bisnis online bisa dijalankan dari rumah atau dari mana saja selama 24 jam penuh.

WHY: MENGAPA MEMILIH MENJADI ENTREPRENEUR?

Beberapa alasan yang mendorong orang menjadi entrepreneur adalah sebagai berikut. Pertama, Entrepreneurship memberi peluang yang lebih besar dalam mendapatkan keuntungan atau penghasilan (profit). Kedua, Entrepreneurship merupakan jenis pekerjaan yang mempunyai nilai (gengsi) di masyarakat. Ketiga, Entrepreneurship memungkinkan seorang entrepreneur mempunyai warisan kekayaan yang bisa disimpan, dijual, atau diberikan kepada anak cucunya. Keempat, Entrepreneurship menjadikan seorang entrepreneur sebagai BOSS dalam kegiatan atau usaha bisnis miliknya sendiri. Kelima, Entrepreneurship memungkinkan seorang entrepreneur mengontrol sendiri semua kegiatan bisnisnya dari konsep, disain, penjualan, sampai menangani konsumen (involve in the total operation of bussiness). Keenam, Entrepreneurship memberi kesempatan bagi seorang entrepreneur untuk memberi kontribusi bagi perkembangan masyarakat. Sebagai contoh adalah Steve Jobs, inovator komputer ”Apple” (1976) memberi kontribusi besar bagi perkembangan dunia komputer

SISTEM EKONOMI KRISTEN

Gereja mula-mula dirintis dalam kesatuan doa: “Mereka semua bertekun bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama….” (Kis 1:14). Kesatuan rohani ini menjadi dasar kehidupan Gereja yang adalah “Keluarga Tuhan” (Ef 2:19), “Bangunan Allah” (1 Kor 3:9; Ef 2:20-22), “Bait Allah” (1 Kor 3:16-17).

Sebagai sebuah “keluarga”, anggota-anggotanya bersatu dalam semua aspek kehidupan. Kesatuan bukan hanya dalam hal rohani: tolong menolong secara rohani saja (Gal 6:1-2). Kesatuan dalam gereja pertama, mencakup dimensi sosial ekonomi (Kis 2:44-45): “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu (sosiologis), dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (ekonomi), dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (ekonomi)”.

Dengan konsep ekonomi komunal seperti itulah maka gereja pertama menjadi sangat diberkati: “Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaan itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (Kis 4:34-35). Tuhan sangat berkenan dan tidak mentolelir kesalahan/kejahatan apapun berkenaan dengan  masalah ekonomi ini – kasus Ananias dan Safira (Kis 5:1-11).

Jadi, soal bagaimana ”hidup diberkati/berkelimpahan” harus dipahami secara komprehensif, yaitu: Pertama, Berkat diperoleh sebagai ”upaya pribadi”. Prinsipnya, Hidup benar maka diberkati, Hidup beriman maka diberkati, Berdoa dan bekerja maka diberkati. Kedua, Berkat diperioleh sebagai ”upaya korporat”, prinsipnya harus ada Kesatuan dan kerjasama dalam Tubuh Kristus

Seringkali kita tidak berpikir secara komprehensif.. Ketika ada orang Kristen miskin, kita menghakiminya bahwa itu karena ia kurang beriman atau kurang berdoa, padahal ia kurang bekerja. Kemiskinan juga disebabkan belum adanya ”praktek kebersamaan ekonomi” dalan Gereja seperti diterapkan dalam gereja mula-mula. Sekarang, gereja kaya makin kaya, gereja miskin makin miskin. Seandainya orang-orang Kristen di sebuah kota saja, benar-benar hidup seperti gereja mula-mula, pasti tidak akan ada yang berkekurangan secara ekonomi.

PRINSIP TENTANG BEKERJA

Bekerja adalah aktifitas Tuhan (Kej 2:1-2). Dalam sepuluh perintah-Nya, Tuhan juga menyuruh manusia untuk bekerja secara proporsional: ”Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu” (Kel 20:8-9).

Namun, hukum Tuhan yang banyak itu sudah dirangkum oleh Yesus menjadi dua hukum saja: pertama, kasihilah Tuhan, dan kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:37-40). Dengan demikian, ”perintah bekerja” harus diletakkan dalam konteks pelaksanaan hukum Kristus tersebut. Artinya, bekerja harus dengan tujuan untuk mengasihi Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri.

Prinsipnya, bekerja itu = untuk mengasihi Tuhan. Berkat yang merupakan hasil kerja dipersembahkan untuk Tuhan (Ams 3:9). Dengan bekerja maka orang percaya menjadi garam dan terang dunia – di  marketplace (Mat 5:13-16).Dengan bekerja di marketplace maka kita dapat bersaksi dan memberitakan Injil.

Prinsipnya, bekerja = untuk mengasihi sesama. Dengan bekerja dan diberkati maka kita dapat memberkati orang lain – membagikan berkat pada yang berkekurangan (Ef 4:28).

Prinsipnya, bekerja = untuk mengasihi diri sendiri. Kita dapat menghidupi keluarga (1 Tim 5:8). Kita dapat mengatasi kemiskinan dan menjadi kaya (Ams 6:6-11).Kita dapat makan, bertahan dan melangsungkan kehidupan (2 Tes 3:10). Kita mendapat upah (band. Luk 10:7)

Jadi, yang membedakan antara orang percaya dan orang dunia adalah VISI atau TUJUAN hidup dan bekerja itu. Orang dunia hidup sekedar untuk diri sendiri. Paling-paling, kalau dia seorang idealis, ia akan bekerja untuk menjadi berkat bagi orang lain. Sedangkan anak Tuhan bekerja untuk menjalani visi seperti di atas.

KARAKTERISTIK ENTREPRENEURSHIP KRISTEN

Prinsip Alkitab tentang bekerja di atas memberi dasar dan peneguhan bagi orang percaya untuk melakukan entrepreneurship di dalamnya. Jika prinsip-prinsip itu diterapkan dalam praktek maka karakterisrik entrepreneurship Kristen adalah, pertama, Entrepreneurship yang mengasihi Tuhan: (1) Menjaga integritas: kekudusan, kebenaran, (2) Bisnis atau pekerjaan yang memuliakan Tuhan,(3) Bisnis atau pekerjaan yang melaluinya kita bersaksi tentang Tuhan, (4) Taat dalam persepuluhan dan persembahan. Kedua, Entrepreneurship yang mengasihi sesama: (1) Bisnis yang membuka lapangan kerja, menolong orang menjadi produktif, (2) Bisnis yang memberkati banyak orang à social entrepreneurship, (3) Kepemimpinan yang mengasihi para karyawan atau buruh à karakter boss  yang baik. Ketiga, Entrepreneurshipyang mengasihi diri sendiri: Bisnis yang ditangani dengan manajemen profesional sehingga menghasilkan profit yang maksimal

WASPADAI JERAT BISNIS

Bekerja sebagai entrepreneur itu mengasyikkan dan sangat menyibukkan. Apalagi jika mulai banyak keuntungan, kita bisa menjadi hamba entrepreneurship itu sendiri. Padahal entrepreneurship adalah ”alat” atau ”cara” supaya kita memuliakan Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri. Tetapi ketika kita menjadikan entrepreneurship itu segalanya maka itu menjadi berhala. Prinsipnya, Tuhanlah sumber berkat (Mat 6:33).

Karena itu kita harus mewaspadai gejala-gejala diperbudak oleh bisnis, misalnya (menurut Larry Burkett, ”Kunci Sukses Bisnis Menurut Alkitab”). Pertama, Merasa superior, menjadi Christian celebrity (Yak 2:9). Kedua, Gila kerja (Mzm 127:2). Ketiga, Pemakaian kredit berlebihan (Ams 27:12). Keempat, Salah organisasi (Ams 10:4). Kelima, Sikap mental cepat kaya (Flp 2:3). Keenam, Menjadi hamba uang, cinta uang (1 Tim 3:3; 6:10

ENTREPRENEURSHIP DAN PELAYANAN

Bagaimana jika seorang hamba Tuhan (misalnya pendeta) melakukan entrepreneurship? Alkitab Perjanjian Baru memberi fakta tentang dua tipe pelayanan, keduanya sama-sama pelayanan ”full time”. Pertama, TIPE PETRUS. Petrus adalah hamba Tuhan dengan panggilan kusus. Tuhan Yesus memanggil dia untuk berhenti dari pekerjaan sekuler (penjala ikan) dan beralih total ke pekerjaan rohan/pelayanan (penjala manusia), beralih pekerjaan secara total (Mat 4:19; Mrk 1:17). Kedua, TIPE PAULUS. Paulus adalah hamba Tuhan dengan paggilan khusus, ia masuk ke dalam jajaran para rasul. Tetapi, tidak ada perintah spesifik dari Tuhan untuk dia harus tidak bekerja sekuler sama sekali.

Atas dasar pemikiran supaya tidak membebani jemaat maka ia bekerja sebagai tukang pembuat tenda/kemah (Kis 18:3).

SOAL

  1. Mengapa semua orang bisa berwirausaha?
  2. Apa dasar ajaran Alkitab tentang bekerja?
  3. Bagaimana ciri wirausahawan Kristen yang baik?

TUGAS

Cobalah merancang sebuah wirausaha baru yang berorientasi sosial (social entrepreneurship) yang melaluinya nilai-nilai Kristen bisa disharingkan ke dalam kehidupan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: