G. THE POWER OF VISION

PENGANTAR

Judul Materi: THE POWER OF VISION

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu merumuskan dan menerapkan visi untuk berdampak menjadi garam dan terang dunia dengan kompetensi dan kreatifitas unggul.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah:

  1. Memahami dan menerapkan visi
  2. Menerapkan strategi perencanaan untuk mewujudkan visi

KUALITAS HIDUP TERGANTUNG DARI TUJUAN HIDUP

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Apakah perbedaan antara manusia dengan hewan? Para ahli sekuler cenderung tidak melihat adanya banyak perbedaan. Para evolusionis percaya bahwa monyet atau hewan sejenisnya (the missing link) adalah nenek-moyang manusia modern sekarang ini. Para sosiolog menyebut manusia sebagai the social animal. Manusia tidak lebih dari seekor ”hewan yang berpikir”.

Kalau tujuan hidup Anda tidak lebih dari urusan memenuhi kebutuhan perut dan seks, maaf, Anda tidak lebih dari seekor hewan. Taruhlah anjing sebagai contoh. Ia hidup melulu untuk makan, minum, dan seks, titik. Manusia memang lebih canggih. Untuk memenuhi kebutuhan perut, ia menutut ilmu dan bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan seks, manusia menciptakan sistem kekerabatan, ritual perkawinan, dan mitos-mitos tentang cinta. Namun, intinya tetap seputar urusan perut dan seks, bukan?

Bahkan, manusia sering lebih biadab ketimbang hewan. Hewan masih mengenal musim kawin. Seekor burung merpati selalu setia dengan pasangannya. Manusia? Nggak punya aturan! Homoseksualitas dan lesbianisme, itu buktinya. Bahkan, manusia doyan berhubungan seks dengan mayat (necrophillia).

Sejarah kehidupan mencatat bahwa manusia diciptakan berbeda dengan hewan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, lebih tinggi kodratnya daripada hewan dan tumbuhan (Kej 1:26-27). Namun, karena jatuh, manusia putus hubungan dengan Tuhan. Kehidupan moral-spiritualnya rusak (total depravity). Manusia hidup dalam daging. Karena itu, kehidupannya sedemikian merosot sampai kadang-kadang tidak lebih baik daripada hewan.

Bagaimana dengan anak Tuhan? Orang Kristen sejati berbeda dengan hewan dan berbeda dengan manusia duniawi. Pertama, ia adalah ”mahkluk illahi” karena Roh Tuhan berkenan tinggal dan memenuhi dirinya (1 Kor 6:19). Kedua, tujuan hidupnya berbeda. Ia hidup bukan sekedar untuk urusan perut dan seks. Orang Kristen hidup untuk Tuhan. Hidup untuk Kristus (Flp 1:21).

Namun, ciri kekristenan yang kedua ini sering tidak disadari dan dijalani oleh anak-anak Tuhan. Meski sudah didiami dan bahkan dipenuhi Roh Kudus, orang Kristen tidak hidup dengan tujuan illahi yang jelas. Akibatnya, mereka hidup liar karena tidak mempunyai visi (Ams 29:18). Banyak orang Kristen hidup seperti orang-orang duniawi, melulu untuk urusan perut dan seks. Hidupnya berkisar pada life cycle: lahir, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu, pensiun, lalu mati. Selesai!

ORANG KRISTEN VISIONER: PUNYA TUJUAN ILLAHI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Tidak semua orang Kristen visioner. Banyak anak Tuhan hidup tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas. Tentu saja, tidak sedikit orang Kristen yang mempunyai cita-cita dan obsesi. Namun, cita-cita dan obsesinya tidak selalu selaras dengan panggilan hidup dan pelayanan yang diberikan Tuhan. Cita-cita dan obsesi berorientasi pada kepentingan diri, sedangkan visi berorientasi pada panggilan Tuhan.

Sebutan ”Kristen” yang pertama kali muncul di Antiokia menunjuk pada para murid Kristus (Kis 11:26). Dengan demikian, sebutan Kristen secara historis merefer pada anak-anak Tuhan dalam masa pertumbuhan gereja mula-mula. Kekristenan pada waktu itu bukan sekedar kehidupan beragama secara tradisional, tetapi sebuah kehidupan spiritualitas yang mendalam (band. Kis 2).

Orang Kristen sejati bukan hanya berhenti pada tahapan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun bertumbuh dalam karya Roh Kristus. Dalam diri setiap orang percaya, Roh Kudus bekerja sebagai berikut: Melahirkan baru (Yoh 3:5; Tit 3:5), Memeteraikan (2 Kor 1:22; Ef 1:13), Mendiami (1 Kor 6:19), Memenuhi (Ef 5:18), Memberi karunia-karunia Roh (1 Kor 12:7-11), Menumbuhkan buah-buah Roh (Gal 5:22-23). Dengan demikian, menjadi Kristen berarti bertumbuh ke arah Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus, dalam kehidupan yang penuh kasih dan kuasa illahi.

Selanjutnya, orang Kristen harus hidup dengan tujuan illahi. Dalam buku The Purpose Driven Life, Rick Warren mengatakan bahwa tujuan hidup setiap anak Tuhan secara umum adalah sbb. Pertama, Hidup untuk menyenangkan hati Tuhan. Kedua, hidup untuk menjadi Keluarga Tuhan (Gereja). Ketiga, hidup untuk menjadi serupa dengan Kristus. Keempat, hidup untuk melayani Tuhan. Kelima, hidup untuk memberitakan Injil (Mission).Namun, itu baru merupakan visi umum (general vision). Itu merupakan tujuan yang harus dicapai oleh semua orang Kristen. Bagaimana dengan visi khusus masing-masing anak Tuhan?

VISI SEBAGAI TUJUAN KHUSUS

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Setiap anak Tuhan diciptakan spesifik: you are very special. Panggilan Tuhan atas setiap anakNya sangat spesifik. Itulah yang disebut dengan visi. Georga Barna memberikan definisi visi Kristen sebagai berikut: visi adalah suatu gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang lebih baik yang ditanamkan oleh Tuhan kepada hamba pilihanNya dan didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang Tuhan, tentang diri sendiri, dan tentang lingkungannya.

Pertama ,visi adalah gambaran mental yang jelas tentang masa depan. Visi adalah sebuah konsep atau rumusan cita-cita yang rinci yang memberi arah atau tujuan jelas menuju masa depan.

Kedua, visi diimpartasikan oleh Tuhan. Sedangkan cita-cita, obsesi, atau ambisi, muncul dari pikiran, perasaan, dan kehendak diri sendiri. Visi adalah cita-cita masa depan yang diberikan Tuhan.

Ketiga, visi diberikan kepada hamba Tuhan. Artinya, visi adalah sebuah panggilan pelayanan. Visi bukan sekedar rasa terbeban, tetapi sebuah tugas yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya.

Keempat, visi diperoleh (ditemukan, digali, ditangkap) melalui proses belajar, memahami Tuhan, memahami diri sendiri, dan memahami lingkungan.

Tokoh-tokoh besar dalam Alkitab adalah orang-orang visioner. Paulus memiliki visi yang jelas, yaitu menjadi penginjil, rasul, dan pengajar (2 Tim 1:11). Demikian juga dengan Musa (Kel 3:1-10), Yosua (Yos 1:1-5), Nehemia (Neh 1:3; 2:4-5, 12), Daud (1 Sam 23:15-18), Yesaya (Yes 1:1; 6:1-10), dan Yeremia (Yer 1:1-28). Mereka menjalani hidup dan pelayanan dengan cita-cita illahi yang jelas.

KARAKTERISTIK VISI KRISTEN

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Kini, banyak orang menetapkan visi sebagai bagian dari intelektualitas dan profesionalitas.. Perusahaan-perusahaan mempunyai visi. Kalau orang membuat organisasi seperti yayasan atau lembaga, juga membuat visi dan misi. Pada tataran individu, orang-orang sukses adalah para visioner.

Baik visi, cita-cita, obsesi, atau idealisme sama-sama merupakan konsep tentang rumusan masa depan yang akan dicapai. Tetapi kita harus jeli melihat perbedaannya.

CITA-CITA biasanya merupakan obsesi masa depan menurut pikiran kita sendiri (manusia). Anak kecil sudah ditanya dan diajari untuk mempunyai dan mengejar cita-cita. Misalnya ketika ditanya, si anak menjawab kalau ia ingin menjadi dokter atau insinyur. Cita-cita adalah keinginan diri untuk berhasil menurut ukuran dunia ini.

IDEALISME biasanya semacam cita-cita yang bersifat ideologis atau filosofis. Suatu ambisi yang didasarkan pada pemikiran ideal tentang sesuatu yang lebih dari sekedar urusan kepentingan jasmaniah-lahiriah-material-finansial (makan minum, kawin mawin, uang dan kekayaan). Para penggiat LSM misalnya, terkadang mempunyai idealisme. Mereka berjuang untuk, misalya kaum buruh, untuk orang miskin, dst. Mereka bahkan rela berkorban, mau dipenjara, dan bahkan rela mati demi idealisme mereka. Seniman yang idealis tidak hanya berkiprah untuk mencari duit tetapi ia akan berprinsip seni untuk seni. Muhammad Hatta, proklamator dan wapres pertama kita, adalah seorang nasionalis yang idealis. Pada 1945 ketika berusia 43 tahun, beliau berkata, ”Aku belum akan menikah dulu sampai Indonesia meraih kemerdekaan!” Cita-cita hidupnya sangat mulia, tinggi, filosofis, tidak terkungkung oleh kebutuhan-kebutuhan sesaat yang rendahan.

VISI lebih dari cita-cita dan lebih dari idealisme. Visi adalah cita-cita idealis yang ditanamkan (diimpartasikan) oleh Tuhan dalam rangka melakukan panggilan pelayanan (mandat Tuhan). Hal itu bukan berarti harus menjadi pendeta atau penginjil.Apa pun pekerjaan kita – termasuk bekerja di ranah sekuler – merupakan visi jika itu merupakan cita-cita yang diberikan Tuhan dan dilakukan untuk Tuhan.

Jadi, sebagai contoh, ada orang Kristen menjadi dokter karena sekedar cita-cita, atau karena idealisme, atau karena visi illahi. Kalau sekedar cita-cita, ia hanya ingin menjadi kaya dan sukses lewat profesi itu. Kalau dokter idealis, biasanya bekerja untuk cita-cita kemanusiaan, tidak sekedar mencari uang. Sedangkan dokter Kristen yang visioner akan menjalani profesi itu untuk memuliakan Tuhan, dalam rangka menjalani panggilan pelayanan kepada Kristus. Masalah visi akan berimplikasi sangat luas pada tataran praksisnya.

VISI TERKAIT DUA MANDAT ILLAHI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Visi setiap anak Tuhan harus kait mengait dengan 2 mandat illahi yang diberikan Tuhan. Pertama, mandat pembangunan: tugas untuk mengelola dan membangun bumi menjadi baik (Kej 1:28). Kedua, mandat pembaharuan rohani: amanat Agung, penginjilan, misi (Mat 28:19-20). Kedua mandat itu saling berkaitan. Keduanya merupakan satu paket tugas yang diberikan Tuhan. Keduanya adalah pelayanan kepada Tuhan. Jadi, jangan menarik garis pemisah antara tugas sekuler dan tugas rohani.

Dengan demikian, menjadi dokter, insinyur, atau pengacara – jika dalam rangka melaksanakan mandat illahi – adalah sebuah pelayanan. Sebaliknya, menjadi penginjil atau pendeta – jika tidak dalam rangka melaksanakan mandat illahi – bukan sebuah pelayanan. Sekarang, banyak orang menjadi pendeta supaya kaya, menjadikan gereja sebagai bisnis.

Kecuali itu, kedua mandat itu saling melengkapi. Pelaksanaan pembangunan dunia dilakukan untuk membuka jalan bagi penginjilan. Sebaliknya, penginjilan harus membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik, bukan hanya secara rohani, namun maju secara duniawi (pendidikan, kemapanan ekonomi, status sosial, kemajuan IPTEK, dll).

CARA MENANGKAP VISI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Kalau cita-cita, pada dasarnya adalah keinginan diri sendiri. Kalau idealisme, adalah cita-cita yang dirumuskan dengan berpikir mendalam, filosofis, tidak sekedar dangkal saja. Sedangkan visi, dirumuskan dengan berkonsultasi dengan Tuhan dan Firman-Nya, karena visi adalah panggilan illahi, cita-cita illahi.

Menangkap visi illahi tidak semudah merumuskan cita-cita manusiawi. Kita dapat dengan mudah memutuskan untuk menjadi dokter, insinyur, atau bahkan menjadi pendeta. Anak kecil pun bisa menyebut cita-citanya saat ditanyai gurunya. Persoalannya adalah apakah itu sekedar cita-cita, atau suatu idealisme, atau visi illahi.

Seringkali, Tuhan memberi visi pada saat tidak terduga. Ketika Musa sibuk dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai penggembala, Tuhan memberi visi untuk menjadi pemimpin dan pembebas umat-Nya (Kel 3:1-4). Bahkan, Paulus menerima panggilan pada saat ia giat melawan Tuhan (Kis 9:1-5).

Tetapi, pada umumnya, pemberian visi itu dilakukan Tuhan seiring dengan pertumbuhan kehidupan rohani. Paulus berkata kepada Timotius bahwa jika ia semakin hidup kudus, maka Tuhan akan memberi kepercayaan yang besar (2 Tim 2:20-21). Tuhan akan mempercayakan visi illahi kepada anak-anak-Nya yang memenuhi syarat.

Faktor kesetiaan juga penting. Jika kita setia melakukan visi yang kecil, Tuhan akan memberikan visi-visi yang lebih besar (band. Mat 25:23).

Seringkali, orang mau visinya, tetapi tidak mau memenuhi tuntutannya. Ingin dipakai Tuhan, melakukan perkara besar, dan diberkati. Tetapi, ia tidak mau memenuhi syarat-syaratnya. Maunya, instan dan serba menyenangkan.

VISI TUHAN VS CITA-CITA DAN IDEALISME DIRI SENDIRI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Visi illahi yang diberikan Tuhan terkadang berbeda, dan bisa jadi bahkan berseberangan dengan cita-cita diri. Pikiran Tuhan dan pikiran manusia berbeda jauh seperti langit dan bumi. Rancangan Tuhan bukan seperti rancangan manusia (Yes 55:8-9)

Kadang kala, kita harus mengorbankan cita-cita diri demi mengikuti visi illahi. Akibatnya, sering terjadi konflik batin, tarik ulur, perbantahan, dan pemberontakan. Apalagi jika visi illahi itu tidak menyenangkan secara daging. Tidak heran jika Yunus menolak visi untuk melayani di Niniwe, malahan lari ke Tarsis (Yun 1:1-3). Dalam hal ketaatan, Yesus memberi teladan ketaatan. Keputusan-Nya adalah: ”Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”  (Mat 26:39).

Namun, visi yang dari Tuhan itu indah adanya. Rancangan Tuhan itu membukakan masa depan yang cerah (Yer 29:11). Sekalipun sepertinya buruk, di dalam pusat kehendak-Nya pasti ada kedahsyatan.

Seringkali, kita mengkompromikan visi Tuhan dan cita-cita/ambisi/obsesi diri. Di satu sisi, ingin melakukan panggilan-Nya. Di sisi lain, masih ingin mengejar obsesi diri. Ketaatan yang setengah-setengah tidak akan maksimal. Tuhan sendiri menuntut anak-anak-Nya untuk tidak menjadi suam-suam kuku (band. Why 3:15-16).

Berkat Tuhan tercurah maksimal manakala kita berada di pusat kehendak-Nya (in the center of God’s plan). Hidup dalam totalitas panggilan dan visi illahi akan membukakan berkat Tuhan. Jika setengah-setengah, malah susah. Karena tidak fokus dalam visi, bangsa Israel harus mengembara 40 tahun, bukan?

CARA MENANGKAP VISI: PAHAMI DIRI SENDIRI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Kalau Tuhan menaruh (mengimpartasi) visi, jiwa kita akan dicengkeram olehnya. Karena itu, sangat penting untuk menyelidiki hal-hal berikut ini. Pertama, talenta dan karunia apa yang ada pada kita? Setiap talenta dan karunia yang sudah diberikan Tuhan pasti akan dipakai Tuhan. Kedua, kerinduan-kerinduan rohani apa yang kuat? Tidak semua rasa terbeban merupakan indikator adanya visi illahi. Namun, jika Tuhan menaruh visi, pasti muncul kerinduan-kerinduan untuk melayani jiwa-jiwa. Ketiga, dalam hal apa hati kita berkobar-kobar? Visi illahi akan membuat hati seorang visioner berkobar-kobar. Bahkan, ia rela berkorban dan bahkan berani mati demi visi itu. Keempat, pelayanan apa yang paling menarik minat? Kertertarikan pada sebuah pelayanan bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk faktor-faktor ingin menjadi terkenal dan kaya. Namun, kalau Tuhan memberi visi, kita akan tertarik untuk melayani bukan karena hal-hal yang fana. Kelima, pekerjaan apa yang paling membahagiakan? Melakukan pekerjaan atau pelayanan yang sesuai visi akan memberi kepuasan batin.

CARA MENANGKAP VISI: DENGAR SUARA TUHAN

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Menangkap visi illahi berarti mendengar suara Tuhan. Bagaimana Roh Kudus berbicara? Melalui penerangan (iluminasi) saat membaca dan mempelajari Alkitab. Melalui kesaksian/suara batin (Rom 9:1). Melalui suara supranatural Roh Kudus (Kis 10:19-23; 1 Sam 3:2-4). Melalui karunia nubuat (1 Kor 14:1,3). Melalui penglihatan-penglihatan – dalam suasana diliputi Roh (Kis 10:9-10), penglihatan terbuka (Luk 1:26-38), dan mimpi-mimpi (Mat 2:13). Namun, setiap penyataan supranatural harus diuji (1 Tes 5:19-21). Karena itu, kita harus tinggal dalam komunitas rohani yang bisa memberi pertimbangan dan peneguhan (1 Kor 14:29-31).

Untuk bisa menangkap visi, seorang anak Tuhan harus dewasa secara rohani. Ia dekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan Roh Kudus. Ia tulus dalam motivasi dan mencintai Tuhan, sehingga hidup dalam ketaatan akan panggilan illahi.

UKURAN SUKSES SEORANG VISIONER

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Definisi sukses (success) adalah the accomplishment of an aim or purpose. Sukses terjadi apabila kita memenuhi atau mencapai tujuan atau sasaran kita. Sedangkan tujuan atau sasaran orang Kristen sejati adalah visi illahi tersebut. Jadi, orang Kristen disebut sukses jika ia menyelesaikan visinya.

Sukses orang Kristen diukur dari pencapaian visinya. Dan, itu bukan soal kaya atau miskin. Bukan soal mempunyai rumah megah atau mobil mewah. Juga bukan soal mempunyai gereja mentereng dan jemaat ribuan. Namun, soal menyelesaikan panggilan hidup dan pelayanan yang sudah diberikan Tuhan.

Dari sudut pandang dunia, kehidupan Yesus berakhir dengan sangat mengenaskan. Ia dikhianati oleh Yudas dan disangkali oleh Petrus, murid-murid kepercayaan-Nya sendiri. Menjelang ajal, Yesus mengalami tekanan batin yang berat (Mat 26:38), sementara para murid-Nya tidak peduli dan tertidur (Mat 26:40, 43). Bahkan, semua murid meninggalkan-Nya (Mat 26:56). Akhirnya, Yesus meninggal setelah mengalami siksaan yang tak terperikan. Meskipun demikian, Yesus berkata: “It’s finish!” (Yoh 19 :30). Dengan kata lain: “Mission accomplished!” Artinya, Yesus berkata: “Aku sukses, Aku berhasil!”

Perjalanan hidup dan akhir hidup Paulus juga menyedihkan. Paulus membuat daftar panjang penderitaannya dalam suratnya kepada jemaat Korintus (2 Kor 11:23-28). Menjelang dihukum mati, Paulus mendekam di dalam penjara dan dilupakan banyak orang. Namun, Paulus berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir!” (2 Tim 4:7). Paulus menilai bahwa dirinya sukses! Jadi, ukuran sukses bagi Yesus dan Paulus adalah penyelesaian visi. Meski menderita dan miskin, kita disebut sukses jika berhasil menunaikan panggilan Tuhan!

Tapi, jangan kuatir soal berkat. Kalau mengutamakan visi, Tuhan pasti memberkati. Kalau kita mengutamakan Kerajaan Allah, semua berkat pasti ditambahkan (band. Mat 6:33). Kalau kita hidup demi visi, Tuhan akan mendukung hidup kita dengan berlimpah berkat. Perhatikan hidup Yesus, kaya dan makmur! Ia disupport oleh wanita-wanita kaya (Luk 8:1-3). Perahu-perahu, rumah-rumah, kamar-kamar tamu dan keledai-keledai siap bagi-Nya (Luk 5:1-3; Mrk 14:12-16; 11:1-7). Yesus punya bendahara dan selalu membantu orang-orang miskin (Yoh 12:4-8).

VISI DAN PERENCANAAN

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Visi akan tinggal tetap menjadi mimpi jika tidak diwujudkan melalui perencanaan yang praktis. Karena visi, seorang bisa menjadi pembual dan pendongeng. Itulah yang dialami oleh Yusuf bin Yakub manakala ia menerima visi dari Tuhan (Kej 37:1-11). Kepolosan seorang visioner menjadikan dirinya dibenci dan ditolak sebelum visi itu jadi.

Menjadi visioner harus membumi. Pikirannya tidak hanya melayang di awan. Ia harus berikhtiar sedemikian rupa supaya mimpi-mimpinya itu menjadi kenyataan dalam hidupnya di dunia.

Alkitab menekankan pentingnya sebuah perencanaan. Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang (Ams 24:6). Tuhan adalah Perencana Agung. Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah kehidupan dari kekal menuju kekal berada dibawah perencanaan-Nya. Bagaimana Yesus lahir, mati, bangkit, dan naik sudah diatur menurut time schedule yang sangat rinci. Dan, agenda-agenda illahi itu sudah disharingkan-Nya dalam bentuk nubuatan sejak dulu melalui perantaraan para nabi dan penulis Alkitab.

Tokoh-tokoh visioner dalam Alkitab adalah perencana-perencana yang mangkus. Nehemia berhasi membangun Yerusalem karena melakukan perencanaan yang matang. Paulus berhasil mengadakan perjalanan-perjalanan misi karena membuat perencanaan yang baik.

Perencanaan dimulai dari visi. Tanpa visi yang dirumuskan dengan jelas, takkan ada perencanaan. Langkah-langkah berikutnya adalah sbb. Pertama, merumuskan sasaran-sasaran yang nyata. Kedua, mengumpulkan data tentang posisi saat ini. Ketiga, menganalisis kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang-peluang (opportunities), dan ancaman-ancaman (threats) yang ada. Keempat, menetapkan alternatif-alternatif strategi untuk usaha pencapaian tujuan. Kelima, mengkategorikan strategi-strategi ke dalam perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek (1 th) harus dibuat terinci dan implementatif. Keenam, membuat agenda (time scheduling) dari setiap tindakan strategi pencapaian tujuan-tujuan. Ketujuh, memperhitungkan implikasi-implikasi setiap strategi seperti dana yang dibutuhkan, SDM yang terlibat, waktu, dll.

Membuat perencanaan membutuhkan pemikiran rasional dan sekaligus kepekaan pada pimpinan Roh Kudus. Terkadang, Roh Kudus melakukan interupsi, seperti dialami oleh Paulus dalam perencanaan perjalanan penginjilannya (Kis 16:4-12). Di sisi lain, mengandalkan Roh Kudus bukan berarti mengesampingkan pemikiran-pemikiran rasional.

SOAL

  1. Jelaskan perbedaan antara cita-cita, idealisme, dan visi!
  2. Apakah ukuran sukses dalam hidup Kristen itu?
  3. Mengapa orang visioner harus membuat perencanaan?

TUGAS

Rumuskan visi anda dan buatlah perencanaan taktis dan strategis untuk mewujudkan visi anda itu supaya menjadi kenyataan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: