D. IMAN DAN DOA

PENGANTAR

Judul Materi: IMAN DAN DOA

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah

  1. Mahasiswa memahami dan menerapkan iman dalam doa Kristen
  2. Mahasiswa memahami dan menerapkan beberapa jenis doa Kristen yang Alkitabiah

IMAN KRISTEN

Doa dan iman itu satu adanya. Doa tanpa iman hanyalah kegiatan membaca puisi. Sedangkan doa yang dinaikkan dengan iman sangat besar kuasanya (Yak 5:16b). Iman di sini adalah iman sebagai tindakan keyakinan yang berkuasa menciptakan mujizat. Saat mendoakan orang sakit, mendoakan kebutuhan hidup, atau lainnya, iman harus melandasi doa tersebut.

Crefflo A. Dollar (1993) merumuskan sepuluh langkah doa yang penuh iman itu sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi masalah (identity the problem). Sebelum berdoa, kita perlu mengerti lebih dulu apa penyebab timbulnya masalah. Misalnya, apakah itu karena dosa kita sendiri? Karena serangan iblis? Atau karena diijinkan Tuhan sebagai didikan rohani? Semua itu menentukan langkah berikutnya. Kalau ada dosa, ya bertobat dulu.

Kedua, mengambil keputusan dengan jelas (the quality decision). Tuhan tidak akan bergerak sebelum kita mengambil keputusan dalam hidup ini. Kita mempunyai pilihan bebas, bukan seperti robot. Tuhan berfirman: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ul 30:19).

Ketiga, temukan adanya peneguhan dari Tuhan (finding your “title deed”). Kita harus berdoa sampai mendapatkan peneguhan dari Roh Kudus tentang langkah apa yang harus kita lakukan. Ini menuntut kepekaan rohani dan ketekunan doa. Contohnya adalah ketika suatu kali kita terjebak oleh sebuah sungai yang dalam yang tak mungkin terseberangi. Tidak salah jika kita kemudian berpikir bahwa kita bisa berjalan di atas air untuk menyeberangi sungai itu. Justru salah (tidak beriman) kalau kita mengatakan bahwa itu mustahil. Namun, masalahnya adalah apa kehendak Tuhan. Petrus bisa berjalan di atas air sebab ia lebih dulu mendapatkan konfirmasi dari Yesus yang berkata: ”Datanglah!” (Mat 14:29). Kalau kita tidak mendapatkan peneguhan dari Tuhan (title deed), jangan sekali-kali melakukan tindakan konyol. Ada banyak orang karismatik melakukan tindakan konyol seperti itu karena emosi sesaat. Misalnya mereka meminjam uang milyaran di bank untuk membangun bisnis, pikirnya untuk kepentingan Tuhan, ternyata malah terjerat hutang.

Keempat, mendengarkan Firman (hearing). Untuk membangun iman, caranya adalah dengan mendengarkan Firman Tuhan (Rom 10:17). Tutuplah telinga kita dari suara-suara negatif dan berita-berita yang melemahkan iman.

Kelima, melakukan permenungan (succes through meditation). Kunci sukses Yosua, si ”penguasa matahari dan bulan” itu, adalah merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Yos 1:6). Permenungan mencakup tiga aktifitas: (1) mutter [berkomat-kamit], berkata-kata pada diri sendiri, speaking to yourself [Ef 5:19 KJV], (2) talking [memperkatakan], menyebut-nyebut kebaikan Tuhan [Mzm 77:12-13], (3) musing [meditasi, merenung], memikirkan, membayangkan, mengingat-ingat Firman Tuhan sampai yakin penuh [Mzm 143:5].

Keenam, melancarkan perkataan iman (harness the power of confession). Jangan terburu berkata-kata sebelum permenungan kita berhasil. Sepanjang kita masih ragu dan bimbang, perkataan kita tidak berkuasa (Mrk 11:23). Ketika hendak meruntuhkan tembok Yeriko dengan iman,Yosua memerintahkan bangsa Israel mengelilingi tembok itu sampai beberapa kali, baru kemudian berseru dengan iman (Yos 6:10). Tindakan mengelilingi itu adalah proses merenungkan kuasa Tuhan atas alam. Setelah mereka cukup beriman, mareka berseru dan mujizat pun terjadi: Yeriko roboh.

Ketujuh, melakukan Firman Tuhan (acting the Word). Kita bukan hanya mendengar, merenungkan, dan memperkatakan Firman, tetapi juga menjadi pelaku Firman itu. Setelah sepanjang malam para murid gagal menangkap ikan, Yesus berkata: “Bertolaklah le tempat yang dalam dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan!” (Luk 5:4). Kunci mujizat yang terjadi pada waktu itu adalah ketaatan untuk bertindak sesuai Firman itu (Luk 5:5). Mengapa Petrus bisa berjalan di atas air? Kuncinya adalah Firman Yesus “Datanglah” (Mat 14:29) yang dilakukannya, sebuah tindakan iman (faith in action).

Kedelapan, bersikap sabar (applying the pressure of patience). Dalam menanti jawaban doa, kita harus tetap beriman dan bersabar (Ibr 6:12). Ada kalanya Tuhan membuat mujizat secara instant, ada kalanya bertahap. Yang jelas Tuhan bekerja untuk kebaikan kita (Rom 8:28).

Kesembilan, menanti waktu Tuhan (waiting for God’s timing). Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah kolong langit ini ada waktunya (Pkh 3:1). Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh 3:11). Terkadang, kita terburu-buru. Ibu Yesus tidak sabar ketika melihat pesta perkawinan di Kana kekurangan anggur, katanya: ”Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Bukannya tidak mau mengadakan mujizat, tetapi Yesus menegur ibu-Nya sendiri: ”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba!” (Yoh 2:4).

Kesepuluh, menghadapkan terus jawaban doa (expect the answer). Artinya, jangan hilang pengharapan. Jangan berputus asa. Hanya pada Tuhan saja kita menjadi tenang, sebab daripada-Nyalah pengharapan kita (Mzm 62:6).

DOA OTORITATIF

Doa otoritatif adalah jenis doa yang dengannya kita bisa memerintah dengan kuasa perkataan iman. Pada waktu mendoakan orang sakit misalnya, kita berdoa, “Dalam nama Yesus, jadilah sembuh,” dan orang sakit itu pun sembuh. Prinsipnya di sini adalah perkataan iman yang diucapkan dengan doa.

Prinsip penting dalam doa otoritatif ini adalah keyakinan bahwa perkataan iman orang percaya sangat besar kuasanya. Alkitab menekankan pentingnya kuasa perkataan itu. Dalam Amsal dikatakan bahwa ”lidah” berkuasa menentukan kehidupan (Ams 18:21). Yakobus menulis bahwa meskipun kecil ”lidah” mempunyai kekuatan besar, seperti api kecil yang bisa membakar hutan (Yak 3:5). Ucapan kita menentukan apakah kita akan dibenarkan atau akan dihukum (Mat 12:37). Orang yang sempurna adalah orang yang tidak bersalah dalam perkataannya (Yak 3:2).

Bagaimana perkataan orang percaya bisa memiliki kuasa yang sangat besar? Pertama, kita adalah ”manusia super” karena didiami oleh Roh Tuhan (1 Kor 6:19). Dalam diri kita ada kuasa illahi, urapan Roh Kudus, kekuatan supranatural dari Kristus. Ucapan orang percaya memiliki kekuatan supranatural. Kedua, orang percaya mempunyai iman yang tumbuh dari Firman Tuhan (Rom 10:17). Yesus mengajarkan bahwa apa yang dikatakan dengan iman, asal tidak ragu dan percaya, memiliki kuasa untuk menciptakan mujizat. Kata Yesus: ”Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Mrk 11:23). Itulah formula doa otoritatif.

DOA PERMOHONAN

Yesus mengajar bahwa doa permohonan adalah prosedur standar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari Tuhan. Alkitab versi ”Penuntun Hidup Berkelimpahan” memberi komentar atas Injil Matius 7:7-11 sebagai berikut. Pertama, ”meminta” mengandung pengertian adanya kesadaran akan kebutuhan dan kepercayaan bahwa Tuhan mendengar permintaan kita. Kedua, ”mencari” berarti memohon dengan sungguh-sunguh yang disertai dengan ketaatan pada kehendak Tuhan. Ketiga, ”mengetok” berarti tekun dalam menghampiri Tuhan sekalipun Tuhan tidak memberi jawaban dengan segera. Keempat, prinsip ”meminta-mencari-mengetok” mengandung arti suatu usaha yang dilakukan terus-menerus.

Mengenai ketekunan dalam menaikkan doa permohonan, Yesus memberi dua perumpamaan. Pertama, perumpamaan tentang seorang sahabat yang tanpa malu meminta pertolongan kepada sahabatnya (Luk 11:5-8). Kedua, perumpamaan tentang seorang janda yang tiada henti memperjuangkan nasibnya di hadapan seorang hakim yang tidak adil (Luk 18:1-8).

Sehubungan dengan doa permohonan itu, Yesus sangat menghargai doa yang dinaikkan dalam kesehatian. Yesus berjanji: ”Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapaku yang di sorga” (Mat 18:19). Gereja (persekutuan orang percaya) yang tekun berdoa akan menerima banyak mujizat dari Tuhan.

DOA SYAFAAT

Sebelum bencana ”natural-supranatural” berupa hujan api dan belerang membumihanguskan kota Sodom dan Gomora, Abraham sudah menaikkan doa syafaat untuk segenap penduduk kota itu. Doa syafaat Abraham adalah memperjuangkan nasib kota itu supaya diampuni oleh Tuhan. Abraham memohonkan belas kasihan. Dalam syafaat itu, terjadi proses doa dialogis berupa tawar-menawar antara Tuhan dan Abraham seperti di bawah ini (Kej 18:24-32).

Jim W. Goll (1999) menunjukkan keunikan peran pendoa syafaat sebagai seorang perantara (intercessor) dengan ungkapan ”berdiri di celah antara” (standing on the gap). Maksudnya adalah ”berdiri” di antara manusia dan Tuhan. Ketika manusia melakukan dosa, terjadilah perseteruan antara manusia dan Tuhan. Kejahatan manusia memicu murka Tuhan. Syafaat menggerakkan hati Tuhan untuk memberi pengampunan. Abraham, seperti telah dibahas, berdiri di celah antara itu untuk memperdamaikan perseteruan manusia berdosa dengan Tuhan.

Yehezkiel menggambarkan posisi pendoa syafaat sebagai orang yang hendak mempertahankan negeri di hadapan Tuhan.”Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya. Maka Aku mencurahkan geram-Ku atas mereka dan membinasakan mereka dengan api kemurkaan-Ku; kelakuan mereka Kutimpakan atas kepala mereka, demikianlah firman Tuhan.” (Yehz 22:30-31).

Musa berdiri di celah antara bangsa Israel dan Tuhan. Ketika bangsa itu berdosa karena telah membuat patung berhala berupa anak lembu emas, Tuhan menjadi murka dan berencana untuk memberi hukuman berat. Namun, Musa berkata kepada Tuhan: ”Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu, dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dalam kitab yang telah Kautulis” (Kel 32:32). Karena sangat mengasihi bangsanya, Musa memperjuangkan nasib mereka di hadapan Tuhan. Ia rela berkorban apa pun demi bangsanya diselamatkan.

DOA PEPERANGAN ROHANI (MENGUSIR SETAN)

Pada dasarnya, doa peperangan adalah doa yang bersifat melawan, mengusir, dan menghancurkan setan-setan. Secara umum, doa peperangan sering dibedakan sebagai berikut. Pertama, doa peperangan tingkat dasar, yaitu mengusir setan-setan yang mengikat, mengganggu, dan menyerang orang secara individual (pelayanan pelepasan). Kedua, doa peperangan tingkat okultisme, yaitu menghancurkan kekuatan kuasa gelap yang terorganisir, misalnya praktek pedukunan, satanisme, gerakan gereja setan (satanic church), dan sebagainya. Ketiga, doa peperangan tingkat strategis, yaitu menghancurkan pemerintahan-pemerintahan roh-roh jahat yang menguasai wilayah tertentu (kota, desa, bangsa, dan sebagainya).

Selama Yesus melayani di muka bumi, para murid dilatih-Nya untuk melakukan doa-doa peperangan. Suatu kali para murid melayani pelepasan (doa peperangan tingkat dasar) seorang anak muda yang dirasuk setan sehingga menderita sakit ayan, namun gagal (Mat 17:14-16). Pada kesempatan yang lain, para murid berhasil secara luar biasa sehingga mereka sangat bersukacita, sampai ditegur Yesus karena keberhasilan mengusir setan tidak boleh dijadikan sebagai sumber sukacita (Luk 10:17-20).

Ketika melayani di Filipi, Paulus melancarkan doa peperangan tingkat okultisme. Di kota itu, seorang petenung perempuan mengganggu Paulus dengan seolah-olah memuji Paulus sebagai hamba Tuhan (Kis 16:16-17). Paulus akhirnya mengusir roh tenung itu keluar dari perempuan tersebut (Kis 16:18). Peperangan yang dilancarkan Paulus ternyata memicu “serangan balik” dari iblis berupa aniaya. Ketika tuan-tuan petenung perempuan itu tidak terima, mereka menangkap Paulus dan Silas, mengadukan mereka berdua kepada para penguasa kota, sampai akhirnya kedua hamba-Nya itu dijebloskan dalam penjara (Kis 16:19-24). Menyadari kuatnya serangan iblis itu, Paulus dan Silas terus berperang dengan tetap berdoa dan menaikkan pujian (Kis 16:25). Menurut Peter Wagner (2000), pujian yang dinaikkan Paulus dan Silas itu adalah pujian peperangan (battle song). Puji-pujian merupakan salah satu bentuk senjata peperangan rohani, seperti dulu dipakai oleh Yosafat pada saat berperang (2 Taw 20:17-22). Setelelah Paulus dan Silas berdoa dan menaikkan pujian peperangan, Tuhan menyatakan kuasanya yang dahsyat dengan manifestasi fisik berupa gempa bumi (Kis 16:26).

Dalam doa nabi Daniel, terjadi peperangan tingkat strategis. Alkitab memberi catatan demikian (Dan 10:12-14). Pertama, doa Daniel menggerakkan para malaikat untuk membawa jawaban doa kepadanya. Kedua, kedatangan malaikat itu dihambat, dihadang oleh roh-roh penguasa wilayah (roh-roh territorial). Dalam buku Commentar on The Old Testament karya Kiel dan Delitzch, sebagaimana dikutip Cho (1991), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “raja-raja orang Persia” adalah roh-roh jahat penguasa wilayah Persia. Ketiga, peperangan tingkat strategis ini sangat berat, memakan waktu (21 hari) dan perlu bantuan malaikat-malaikat lain (Mikael).

SOAL

  1. Bagaimana cara berdoa yang dilandasi iman itu?
  2. Apa beda doa permohonan dan doa syafaat?
  3. Apakah orang Kristen bisa mengusir setan dengan doa-doanya? Bagaimana caranya?

TUGAS

Identifikasikan beberapa masalah dalam hidup anda dan rumuskan strategi doa yang harus anda lakukan untuk mendapatkan mujizat dari Tuhan atas masalah itu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: