E. PUJIAN-PENYEMBAHAN

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: PUJIAN-PENYEMBAHAN

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah

  1. Mahasiswa mengidentifikasi musik rohani dan musik non rohani
  2. Mahasiswa memahami dan menerapkan pujian dan penyembahan
  3. Mahasiswa memehami lirik lagu-lagu rohani

LAGU DUNIA DAN LAGU ROHANI

Orang sering membedakan antara lagu dunia dan lagu rohani. Terkadang, pembedaan yang dilakukan dengan ekstrem bersifat menghakimi lagu-lagu dunia sebagai dosa, sesat, dan tidak baik. Sementara itu, banyak lagu rohani (lagu Kristen) yang baik lirik maupun musiknya mirip-mirip seperti lagu dunia (misalnya lagu bertema cinta).

Lagu secara umum adalah kebudayaan. Adapun kebudayaan itu didefinisikan sebagai segala system gagasan, system perilaku, dan benda-benda hasil karya manusia yang dijadikan milik diri melalui proses belajar. Jadi, lagu merupakan system gagasan (ada liriknya, ada musiknya), system perilaku (ada cara menyanyi, cara memainkan musik), dan benda-benda hasil karya (kaset, CD, VCD, klip, alat musik, panggung, dst). Dan untuk menguasai lagu itu perlu proses belajar (belajar vocal, belajar musik, belajar tampil di panggung, dst).

Yang membedakan apakah suatu lagu itu rohani atau tidak, pertama pada system gagasan liriknya. Lirik lagu rohani berasal dari pelajaran Firman Tuhan, Alkitab, ide tentang Tuhan, wahyu dari Roh Kudus, dan seterusnya. Lirik lagu sekuler berasal dari pemikiran manusiawi, keinginan hawa nafsu kedagingan, dan bahkan ilham dari setan. Kedua, pada tujuan penciptaan dan penggunaan lagu itu. Lagu rohani untuk memuji Tuhan, membawa orang mendekat kepada Kristus. Lagu duniawi bertujuan untuk menghibur, mengungkapkan pikiran manusia, membina pergaulan sosiologis, bahkan untuk memuja setan. Ketiga, (seharusnya) pada penyanyi dan pemusiknya. Lagu sekuler menuntut semata-mata keahlian, ketrampilan, dan performansi. Sedangkan untuk menyanyikan lagu rohani seharusnya seorang pemuji (pemazmur) hidup kudus, motivasinya melayani Tuhan, dan tidak meninggikan diri.

Sedangkan pada unsur-unsur lainnya, lagu rohani dan lagu sekuler sama-sama merupakan karya budaya manusia. Keduanya menggunakan bahasa manusia, memakai alat-alat musik karya manusia, menggunakan teknik-teknik musik universal, dst.

Apakah semua lagu non-rohani sesat? Tidak! Tentunya ada lirik-lirik lagu sekuler yang sufatnya dosa (misalnya mengekspos kenajisan, perselingkuhan, kebencian, dst). Tetapi, seringkali/banyak kali lagu-lagu sekuler – meskipun tidak Alkitabiah – membawa pesan-pesan yang baik yang tidak bertentangan dengan pandangan Alkitab. Misalnya lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu pergaulan, persahabatan, lagu-lagu bertema pembangunan (misalnya ”Heal The World”-nya Michael Jackson), lagu-lagu etnis, dst. Orang Kristen tidak perlu anti dengan lagu-lagu seperti itu. Bahkan bisa memakainya untuk menyampaikan nilai-nilai Kristen dan pesan-pesan Alkitab.

Namun harus diingat bahwa kebudayaan itu bersifat pemujaan atau agama. Contoh, nasionalisme (semangat kebangsaan) itu pada dasarnya semacam ”agama”. Menurut Smith (2002), semangat kebangsaan tumbuh dari keyakinan akan semacam ”harta sakral” (sacred properties) yaitu, pertama, keyakinan akan keterpilihan etnik. Yaitu gagasan bahwa bangsa kita adalah anugerah dan pilihan Tuhan. Kita pun meyakini itu sehingga Tuhan diposisikan sebagai Penyebab pertama (kausa prima) dalam Pancasila. Kedua, keyakinan tentang tanah yang suci. Nasionalisme adalah cinta tanah air, tanah tumpah darah kita. Ketiga, keyakinan akan ”zaman keemasan”, yaitu sejarah masa silam yang hebat yang merupakan asal usul suatu bangsa. Karena itu, nasionalisme Indonesia sering dikaitkan dengan kebanggaan akan jaman Mahapahit, Sriwijaya, Mataram, dan sejarah yang menjadi asal-usul kita sekarang. Keempat, keyakinan akan adanya para pahlawan yang dalam konteks agama disebut orang-orang suci atau nabi-nabi dan rasul-rasul. Makanya, nasionalisme sering dikaitkan dengan penghargaan dan doa (mengheningkan cipta) untuk para pahlawan. Makanya, lagu-lagu bertema nasionalisme bersifat memuja dan menyembah sesuatu yang dituhankan yaitu bendera, negara, kejayaan etnis, ideologi, pahlawan, tokoh bangsa, dst.

Lagu sekuler sendiri pada tataran filosofi bersiat memuja apa yang bisa disebut illah tertetu. Misalnya memuja ”cinta”, memuja kekasih, memuja dunia, dst. Dunia entertainment itu sendiri bersifat pemujaan. Makanya penonton bisa menjadi sangat histeris dan mengkultuskan para penyanyi. Para artis menjadi ”idol” yang pada hakikatnya adalah dewa pujaan atau orang yang disembah (an image or representation of a god used as an object of worship; a person who is greatly admired or revered: a soccer idol). Dalam hal inilah orang Kristen perlu waspada tanpa harus menaruh rasa benci, menghakimi, dan menjadi paranoid terhadap lagu-lagu non Kristen.

LAGU SATANIS?

Di sisi lain memang ada lagu-lagu yang benar-benar diciptakan oleh ide dari kuasa kegelapan dan diciptakan untuk memuja-muji setan-setan. Bahkan para penyanyinya memang mempunyai kegiatan okultisme  yang berkaitan dengan setan-setan. Karena itu mereka memakai lambang-lambang satanis seperti pentagram, salib terbalik, dll yang jelas-jelas merupakan symbol-simbol setan dan pemujaan setan. Lambang-lambang seperti itu juga dipakai dalam ritual-ritual satanis seperti di gereja setan (satanic church).

HAKIKAT PUJIAN PENYEMBAHAN

Pujian dan penyembahan kita lakukan jika kita menyadari dan menghargai Tuhan yang adalah Raja. Yesaya dipanggil untuk melayani setelah berjumpa dengan Tuhan yang menyatakan diri sebagai Raja (Yehovah Melek). Alkitab mencatat pengalaman Yesaya: Namun mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan semesta alam (Yes 6:5). Pemazmur juga mengatakan: Tuhan adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya (Mzm 10:16).

Raja adalah Penguasa yang berdaulat penuh. Makanya kita berdoa: ”Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu” (Mat 6:10).Raja yang berdaulat juga berkuasa untuk memerintahkan bawahan-bawahannya. Demikianlah Tuhan berkuasa atas malaikat-malaikat. Kita pun (orang percaya), sekalipun lebih tinggi statusnya daripada para malaikat, adalah hamba-hamba Tuhan yang harus taat pada perintah-perintah-Nya.

Umat Tuhan yang adalah rakyat dari Sang Raja wajib memuji dan menyembah Dia. Para malaikat yang adalah para pelayan Raja wajib menyembah Dia. Siapa pun yang tidak menyembah Tuhan, apalagi yang menghina Tuhan, pasti akan dihukum dan dicampakkan ke dalam hukuman kekal.

KUASA PUJIAN

Saat kita memuji dan menyembah, Tuhan hadir. Ketika Dia hadir atau menyatakan kehadiran-Nya secara khusus, manifestasi dahsyat pasti terjadi. Hal itu bukan berarti Tuhan tidak hadir pada saat kita tidak sedang menyambah-Nya. Tuhan itu Mahahadir (omnipresen). Namun, Ia merespon pujian-penyembahan secara khusus sehingga menyatakan manifestasi kehadiran-Nya secara khusus pula.

Manifestasi dahsyat misalnya terjadi para saat pujian-penyembahan dinaikkan kepada Tuhan pada upacara penahbisan Bait Suci. Kitab Suci (2 Taw 5:12-14): ”Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus, dan kecapinya, bersama-sama 120 imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji Tuhan dengan ucapan: ”Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan, sehingga iman-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”

Manifestasi dahsyat juga terjadi pada saat Paulus dan Silas berdoa dan memuji Tuhan. Alkitab mencatat (Kis 16:24-26): ”Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah, dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.”

MENYANYI DENGAN ROH DAN AKAL BUDI

Alkitab mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh (jasmani), jiwa (akal budi), dan roh (”Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita – 1 Tes 5:23). Memuji Tuhan itu harus dengan segenap apa yang ada pada kita, ya dengan tubuh (bertepuk tangan, berlutut, menari, dst), ya dengan jiwa (bahasa dan nyanyian akal budi), ya dengan roh (bahasa roh). Makanya ada karunia berbasaha roh (1 Kor 12:10). Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya, oleh Roh ia mengucapkan hal-hal rahasia (1 Kor 14:2).

Paulus dengan jelas menekankan doa dan pujian dengan akal budi (jiwa) dan dengan roh. Katanya (1 Kor 14:15): ”Jadi apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku, aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”

TEKNIS IBADAH PUJIAN-PENYEMBAHAN

Ibadah yang di dalamnya biasa dilakukan pujian dan penyembahan biasanya memiliki corak beragam. Ada gereja Protestan yang mengutamakan keteraturan liturgis dengan pelantunan lagu-lagu pujian dari Kidung Jemaat atau sejenisnya. Ada pula gereja karismatik yang lebih memakai lagu-lagu populer rohani untuk memuji dan menyembah Tuhan.

Mengenai cara (teknis) memuji dan menyembah Tuhan juga bermacam-macam. Namun Alkitab memberikan variasi yang beragam tentang cara-cara itu, sebagai berikut. Pertama, memuji Tuhan dengan mulut, misalnya menyanyi (2 Taw 20:19-21; Mzm 100:4; Ef 5:18-19), mengeluarkan suara atau kata-kata yang memuji Tuhan (Luk 17:15; Mzm 109:30; Mzm 71:8), berseru, berteriak dan bersorak bagi Tuhan (Mzm 32:11; Yes 12:6; 2 Sam 6:15).

Kedua, memuji Tuhan dengan gerakan-gerakan tangan. Misalnya bertepuk tangan (Mzm 47:1; Yes 55:12; 2 Raj 11:12; Mzm 98:8. Kemudian juga memuji-menyembah Tuhan dengan mengangkat tangan ke atas (Rat 3:41; 1 Tim 2:8; Mzm 63:5; Mzm 88:10; Mzm 141:2; Mzm 134:2).

Ketiga, memuji dan menyembah Tuhan dengan ekspresi tubuh. Misalnya dengan berdiri (2 Taw 6:13-14; 1 Sam 12:7), membungkuk dan berlutut (Mzm 95:6; Rom 14:11; Flp 2:10), dan bahkan menari-nari bagi Tuhan (Mzm 149:3; 150:4; 30:20; Yer 31:12-13; Kel 15:20; 2 Sam 6:14; Kis 3:8; Luk 15:25; 1 Taw 15:28-29).

MUSIK

Tuhan ingin supaya kita memakai musik (alat-alat musik) untuk memuji Tuhan (Yes 38:20; 1 Sam 16:23). Tentang memuji Tuhan dengan musik, pemazmur menulis (Mzm 150): ”Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permaian kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan. Haleluya!”

DIVINE LYRIC

Kata lirik (lyric) berasal dari bahasa Yunani (lurikos) dan bahasa Latin (lyricus). Lirik adalah salah satu bentuk utama dalam seni sastra. Dalam terminologi seni, lirik merupakan ungkapan langsung tentang pengalaman-pengalaman perasaan subyektif yang sifatnya lebih personal. Istilah lirik kemudian dipakai untuk menunjuk pada syair dalam sebuah lagu (the words of a song).

Dalam konteks lagu-lagu pujian Kristen, kita mengenal banyak lirik yang terkenal. Sebagai contoh adalah lagu berjudul “Amazing Grace”, liriknya digubah oleh John Newton pada tahun 1779. Lagu “How Great Thou Art”, liriknya dikarang oleh Carl Gustaf Boberg pada tahun 1886. Sedangkan lagu “Silent Night” yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Malam Kudus”, syairnya ditulis oleh Joseph Mohr dan lagunya diciptakan oleh Franz Xaver Gruber pada tahun 1818.

Seiring dengan perkembangan kekristenan, lagu-lagu rohani pun mengalami evolusi dari coraknya yang bersifat himne menjadi lebih bernuansa “pop” seperti lagu-lagu pujian-penyembahan (praise-worship) sekarang ini. Seperti tak mau kalah dengan perkembangan lagu-lagu pop sekuler, lagu-lagu pujian-penyembahan Kristen pun berkembang secara luar biasa. Jonathan Prawira adalah salah seorang song writer yang sangat produktif. Sejak tahun 1995 sampai medio 2008, tak kurang dari 500 lagu karyanya tersebar di 440 album rohani dan 21 VCD rohani, dikeluarkan oleh 65 Recording Company.

Hal mendasar yang membedakan lagu rohani dengan lagu sekuler adalah pesan-pesan yang terkandung di dalam liriknya. Musiknya mungkin bisa sama, namun syair lagunya berbeda. Lirik-lirik lagu penyembahan karya Jonathan Prawira mengandung pesan-pesan Firman Tuhan yang membawa kita mengenal Tuhan. Banyak lagu rohani yang pesannya tidak jelas dan ambigu atau multi tafsir. Lagu-lagu Jonathan Prawira sangat powerfull dan jika dilantunkan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita masuk ke hadirat-Nya serta mengalami jamahan kuasa-Nya. Mengapa? Karena lagu-lagu itu menumbuhkan iman kita tentang Tuhan.

SOAL

  1. Mengapa anak Tuhan harus memuji dan menyembah Tuhan?
  2. Bagaimana cara memuji dan menyembah Tuhan itu?
  3. Apa beda lirik lagu rohani dengan lirik lagu sekuler?

TUGAS

Pilihlah beberapa lagu rohani dan adakan klasifikasi, apalah lagu itu cocok untuk misalnya memberikan penghiburan, membangkitkan iman, atau menyatakan kebenaran Injil. Selidikilah karakteristik itu dari lirik-liriknya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.