A. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

January 15, 2010

“SMART FOR CHRIST” FOR ALL

Foto: Haryadi Baskoro (tengah depan berdasi) menyampaikan Firman di STII Palu (2009)

Selama ini program pelajaran (Kuliah Agama Kristen Komprehensif) Smart for Christ (SFC) telah diselenggarakan di berbagai tempat sebagai berikut:

  1. Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta sebagai kuliah formal pada setiap semester ganjil (sejak 2000)
  2. STIKES Wira Husada Yogyakarta sebagai kuliah formal pada setiap semester ganjil (sejak 2001)
  3. GKII Filipi Yogyakarta, diberikan sebagai rangkaian pelajaran pada persekutuan pemuda dan kebaktian Minggu di gereja (sejak 2009)
  4. Gereja Keesaan Indonesia (GEKINDO) Yogyakarta, diberikan sebagai rangkaian pelajaran pada persekutuan pemuda dan kebaktian Minggu di gereja (mulai 7 Februari 2010)
  5. Persekutuan Mahasiswa Kristen Asrama Malinau Kalimantan Timur, diberikan sebagai rangkaian pembinaan rohani setiap hari Rabu (mulai 3 Februari 2010).

Pelayanan SFC bermula dari tugas mengajar sebagai dosen agama Kristen yang dijalani Haryadi Baskoro di AKINDO dan STIKES Wira Husada sejak 2000. Setelah 10 tahun, ternyata muncul permintaan banyak kalangan untuk juga menerima pelajaran-pelajaran yang disampaikan di kampus-kampus itu. Sejak itulah Haryadi Baskoro mendisain SFC bukan hanya untuk perkuliahan resmi di kampus-kampus, namun juga bisa untuk konsumsi gereja dan persekutuan. Visinya kegiatan belajar mengajarnya sama, yaitu mempersiapkan mahasiswa untuk meraih sukses dan menjadi garam dan terang di marketplace.

SFC DI PERSEKUTUAN MAHASISWA KRISTEN MALINAU-KALTIM (MULAI 3 FEBRUARI 2010)

Foto: Haryadi Baskoro (berdiri paling kanan) bersama para mahasiswa Kristen di Asrama Malinau Kaltim Yogyakarta

Sejak 3 Februari 2010, Haryadi Baskoro mengajar SFC di persekutuan mahasiswa Kristen Malinau yang tinggal di Asrama Mahasiswa Malinau-Kalimantan Timur yang terletak di kawasan Seturan Yogyakarta. Pelajaran yang diberikan setiap hari Rabu sore ini diberikan sesuai standar perkuliahan 2 SKS dengan jumlah pertemuan sekitar 15 kali. Dengan demikian para mahasiswa mendapatkan bekal yang cukup.

Pelayanan SFC di mahasiswa Malinau ini bermula dari kesempatan yang diberikan oleh Pdt Rehabeam Bilung, Th.M yang selama ini menjadi pembimbing rohani bagi mereka. Visi untuk menjangkau, melayani dan memperlengkapi para mahasiswa memang sudah ada dalam diri Baskoro dan Bilung. Dalam pengajaran rutin itu Haryadi juga didukung oleh Mas Diono yang adalah salah seorang pengerja di gereja GKII FIlipi Yogyakarta.

Dalam kegiatan belajar mengajar, disamping ceramah juga diadakan tanya jawab. Pada kesempatan itu para mahasiswa berkesempatan untuk mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan. Beberapa bahan yang disajikan juga disesuaikan dengan latar belakang dan kebutuhan mahasiswa asal Kalimantan itu. Harapannya, kelak mereka akan kembali ke daerah asalnya untuk membangun Kaltim sebagai agen-agen transformasi yang efektif.

SFC DI GEKINDO YOGYAKARTA (MULAI 7 REBRUARI 2010)

Foto: Haryadi Baskoro (duduk paling kiri) bersama Pdt Cornelius dan jemaat pemuda GEKINDO Yogyakarta, bersantai setelah sesi pelajaran

Sejak 7 Februari 2010, pengajaran SFC diberikan untuk jemaat dan khususnya kaum muda di gereja GEKINDO Yogyakarta. Pengajaran diberikan dalam rangka kebaktian Minggu dan kebaktian pemuda yang diselenggarakan setiap Jumat. Pada pertemuan pertama, dibahas tentang politik dan kekristenan. Topik ini dipilih karena disamping merupakan salah satu pelajaran SFC, juga karena masalah politik sedang menjadi pembicaraan hangat di masyarakat.

Sebenarnya, Haryadi Baskoro sudah sering melayani di GEKINDO, baik dalam pelayanan ibadah Minggu maupun ibadah kaum muda. Komitmen Haryadi untuk GEKNDO dan gereja-gereja lain yang juga dilayaninya adalah memberi penopangan, persis seperti Harun-Hur menopang Musa (lihat juga www.smartchristianleader.wordpress.com).

Rencananya, sebegaimana sudah disepakati dengan ibu gembala Pdt. Andriane Sooai, Th.M, pengajaran SFC di GEKINDO tidak hanya diberikan dalam bentuk ceramah kelas. Akan diatur untuk pengajaran di luar dalam bentuk field trip. Hal itu akan meningkatkan efektifitas proses belajar.

SFC DI GKII FILIPI YOGYAKARTA (MULAI 2009)

Foto: Haryadi Baskoro mengajar di mimbar GKII Filipi

Pelajaran SFC diberikan hampir secara berkala di Gereja GKII FIlipi Yogyakarta sejak pertengahan 2009. Hal itu karena Haryadi Baskoro sering diundang untuk melayani di gereja ini, baik untuk ibadah Minggu maupun persekutuan pemudanya. Pelajaran SFC semakin efektif disampaikan setelah gereja ini memiliki sendiri peralatan LCD projector, sebab semua pelajaran SFC sudah disampaikan dalam bentuk slide show dan film.

Sebagian besar jemaat GKII Filipi adalah para mahasiswa, ada yang kuliah S-1 dan juga S-2. Hal itu sesuai sekali dengan visi dan pelayanan SFC yang memang bertujuan mempersiakan mahasiswa untuk menjadi agen-agen transformasi di marketplace. Apalagi ketika mereka kembali ke daerah asal untuk membangun, Tuhan akan memakai mereka secara luar biasa. Karena itu pelajaran SFC bersifat komprehensif. Tidak hanya memberikan bekal rohani dengan pelajaran-pelajaran rohani. Namun juga belajar tentang berbagai hal, mulai dari entrepreneurship sampai politik, pastinya dengan perspektif Alkitabiah.

Gembala GKII Filipi Pdt Rehabeam Bilung, Th.M mempunyai visi besar untuk pembinaan kaum muda. Dia merencanakan untuk mengadakan pembinaan kepemimpinan pemuda dengan nama Belsazar Leadership. Haryadi dengan pelayanan SFC -nya mendukung pelayanan setempat sebab memiliki kesamaan visi dan platform.

KULIAH AGAMA KRISTEN AKINDO SEMESTER GANJIL 2009/2010

Foto: Kunjungan belajar mahasiswa- mahasiswi Kristen AKINDO ke New Exotic Batik untuk belajar entrepreneurship bersama pelukis Irawan H.

Pelajaran agama Kristen yang diampu oleh dosen Haryadi Baskoro didisain sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Pelajaran agama seringkali dirasa membosankan dan membuat ngantuk karena bersifat teoritis, menggurui, dan bahkan menghakimi. Pelajaran agama harus dibuat membumi dan praktis, aplikatif, dengan tentunya tetap menjaga kualitas doktrinal.

Di bawah bimbingan Mas Dosen, para mahasiswa mengadakan kunjungan belajar ke kantor dan show room “New Exotic Batik” di bilangan Demangan Yogyakarta. Di sini mereka bertemu dengan disainernya, pelukis Irawan H dan owner-nya, Barliani Irawan. Dari pasangan entrepreneur ini diperoleh banyak kiat praktik untuk memulai dan menjalankan wirausaha di bidang seni, khususnya batik.

Dalam kesempatan ini, para mahasiswa juga belajar tentang bagaimana Irawan dan Barliani berdoa dan bekerja untuk menggapai sukses bisnisnya. Anak-anak Tuhan harus mengandalkan Tuhan dan meminta hikmat dalam menjalani karir di dunia wirausaha. Prinsip memberi (menabur) kepada orang lain juga merupakan kunci pencurahan berkat dalam bisnis kita.

Foto: Kuliah Agama Kristen mendatangkan nara sumber tamu di bidang hukum dari tim H2CLS (www.h2cls.wordpress.com)

Untuk mempelajari topik hukum dan kekristenan, Tim H2CLS (Hedy-Haryadi Christian Legal Solution) diundang menjadi nara sumber di kelas. Dengan mengundang nara sumber yang berkompeten di bidangnya, pembahasan menjadi lebih tajam dan akurat. Pada kesempatan itu pengacara Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan banyak informasi dan pelajaran yang berguna bagi para mahasiswa.

Pada kesempatan itu, mahasiswa diajar tentang konsep-konsep dasar hukum. Harapannya, mahasiswa memiliki kompetensi untuk bisa mengidentifikasi dan mengantisipasi masalah-masalah hukum apa yang kelak akan dihadapi di dunia kerja, terutama yang berkaitan dengan sektor informasi-komunikasi.

Dalam pelajaran itu tentunya juga dibahas bagaimana perspektif iman Kristen mengenai masalah-masalah hukum. Dengan demikian, anak-anak Tuhan memiliki pendekatan kasih ketika menghadapi masalah hokum. Orang Kristen juga percaya akan campur tangan Tuhan yang berkuasa menyatakan keadilan sejati.

Foto: Kunjungan belajar ke museum motor-mobil antik Merpati Motor Yogyakarta

Untuk mempelajari topik seni dan budaya, diadakan kunjungan belajar ke museum motor dan mobil antic Merpati Motor Yogyakarta. Dalam studi tour ini para mahasiswa mengamati dan menikmati koleksi-koleksi kendaraan bermotor kuna dan juga berbagai macam koleksi lainnya seperti patung-patung antik, jam-jam unik, kacamata-kacamata kreatif, batu-batu aneh dan sebagainya.

Pemilik museum ini, David Sunar Handoko merasa senang dengan kehadiran para mahasiswa. Ia sendiri juga berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan kesaksian sehubungan dengan aktivitas seninya itu. Menurutnya, hobi koleksi benda-benda antik bermanfaat sebagai hiburan yang sekaligus bernilai bisnis

Kekristenan adalah sistem kepercayaan yang menghargai seni sebab Tuhan sendiri menciptakan keindahan. Ibadah Kristen pun menggunakan seni seperti musik dan lagu untuk menyembah, syair dan puisi untuk menaikkan doa, serta tulisan sastrawi untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan.

Foto: Belajar entrepreneurship bersama entrepreneur Ev. David Sunar Handoko (Merpati Motor Yogyakarta)

Khusus untuk mahasiswa AKINDO, pelajaran tentang entrepreneurship mendapatkan penekanan khusus sebab bidang pekerjaan yang akan mereka tekuni nantinya sangat membutuhkan sentuhan kewirausahaan. Karena itu pada akhir semester, mereka belajar entrepreneurship lagi dari pengusaha David Sunar Handoko.

Namun, dalam sharing-nya yang dipandu oleh Mas Dosen, Om Han – demikian panggilan akrabnya – justru memberi banyak pembahasan rohani sehubungan dengan dunia kerja, karir, dan bisnis. Kesuksesan menurutnya sangat tergantung dari kedalaman akar spiritual kita.

Kepada para mahasiswa, Om Han menekankan pentingnya memiliki visi dan perencanaan hidup, prinsip yang juga menjadi topik kuliah Agama Kristen di AKINDO. Wirausahawan sukses ini mengingatkan bahayanya hidup tanpa visi, yaitu akan menjadi malas dan liar. Banyak anak muda bingung mencari kerja setelah lulus kuliah karena tidak mempunyai visi dan perencanaan.

KULIAH AGAMA KRISTEN STIKES WIRA HUSADA SEMESTER GANJIL 2009/2010

Foto: Kuliah Agama Kristen mendatangkan nara sumber tamu di bidang hukum dari tim H2CLS (www.h2cls.wordpress.com)

Topik tentang hukum dan kekristenan juga dipelajari dalam kuliah Agama Kristen di STIKES Wira Husada. Untuk itu dihadirkan nara sumber dari tim H2CLS Yogyakarta. Meskipun sifatnya pengantar, mahasiswa mendapatkan pemahaman lengkap mengenai masalah-masalah hukum.

Bekerja di bidang kesehatan dituntut untuk memahami masalah hukum. Malpraktek pelayanan kesehatan misalnya, bisa berbuntut di pengadilan. Setiap pekerjaan professional senantiasa bersinggungan dengan masalah hukum. Karena itu sedini mungkin para mahasiswa harus menguasai masalah hukum.

Dalam pembahasan tentang masalah hukum itu, mahasiswa juga diberi pemahaman tentang perspektif Kristen. Orang percaya hidup karena iman kepada Tuhan yang adalah Hakim yang adil. Meskipun di hadapan manusia diperlakukan tidak adil, Tuhan bisa turun tangan untuk membela kita yang mengasihi-Nya.

Foto: Renungan Natal Haryadi Baskoro di Natalan STIKES Wira Husada sekaligus merupakan bahan kuliah, mahasiswa yang hadir pun diabsen (9 Januari 2010)

Pada 9 Januari 2010 diadakan perayaan Natal segenap civitas akademika Kristiani (Kristen dan Katolik) STIKES Wira Husada. Karena kampus sedang dibangun, acara diadakan di gedung AKY yang berada di samping gedung STIKES Wira Husada. Pada Natalan itu Haryadi menyampaikan renungan sedangkan liturgi dipimpin oleh Frater dari Katolik.

Untuk menguraikan tema Natal “Membangun Persaudaraan dalam Semangat Natal”, Haryadi membahas pengajaran Yesus tentang cinta kasih seperti (1) mengasihi musuh, (2) mengampuni dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita, (3) membalas jahat dengan kebaikan, dan (4) menjadi pemimpin berhati hamba yang melayani. Bagi mahasiswa yang ikut kuliah Agama Kristen, renungan itu sekaligus merupakan materi pelajaran. Mahasiswa yang hadir pun diabsen.

Natal STIKES Wira Husada sangat berkesan karena juga berkenan dihadiri utusan dari mahasiswa Islam dan Hindu. Wakil-wakil mereka bersama mahasiswa Kristen memotong tumpeng bersama sebagai perlambang perdamaian dan persaudaraan.


B. SELAMAT DAN BERTUMBUH

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: SELAMAT DAN BERTUMBUH

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah

  1. Mahasiswa memahami konsep keselamatan dalam iman Kristen
  2. Mahasiswa memahami konsep pertumbuhan rohani
  3. Mahasiswa bisa menganalisa dan mengevaluasi masalah-masalah rohani

KESELAMATAN DALAM IMAN KRISTEN

Keselamatan manusia hanya ada di dalam Yesus Kristus. Hal itu ditegaskan oleh Injil, ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan hanya untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepadanya, ia tidak akan dihukum, barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh 3:16-18).

Keselamatan dapat dipahami sebagai berikut. Pertama, jika ditinjau dari sudut pandang peranan Allah Bapa maka keselamatan adalah proses PEMBENARAN (justification) dan ADOPSI (adoption). Kedua, jika ditinjau dari sudut peranan Allah Anak (Yesus) maka keselamatan merupakan pengalaman PENEBUSAN (redemption). Ketiga, keselamatan ditinjau dari sudut pandang peranan Allah Roh Kudus adalah proses LAHIR BARU (regeneration) dan PENYUCIAN (sanctification).

PEMBENARAN. Prinsipnya, manusia itu berdosa dan tidak bisa membenarkan dirinya sendiri (Rom 3:9-18, 23). Usaha perbuatan baik dan amal salehnya tidak bisa membuatnya benar di mata Tuhan yang Mahabenar. Manusia dibenarkan di hadapan Tuhan hanya jika ia percaya kepada Yesus Kristus. Alkitab menegaskan, ”Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rom 3:28). Alkitab juga menandaskan, ”Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rom 8:30). Karena dibenarkan oleh Kristus maka orang percaya dibebaskan dari hukuman (Rom 8:1, 33, 34) dan dibebaskan dari murka Tuhan (1 Ptr 2:24).

ADOPSI. Keselamatan adalah peristiwa adopsi atau pengangkatan anak. Maksudnya, orang yang percaya kepada Yesus diangkat menjadi anak-anak Tuhan (”Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” – Ef 1:5). Yesus menebus kita supaya kita menjadi anak Allah (”Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk pada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” – Gal 4:5). Karena percaya pada Kristus pada manusia menerima Roh Kristus yang menjadikannya anak Allah (”Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba ya Bapa” – Rom 8:15).

PENEBUSAN. Untuk pengertian Yesus menebus kita, dalam PB dipakai tiga kata. Pertama, agorazo, artinya membeli, membayar, menyerahkan sesuatu sebagai harga pembayaran yang setimpal. Manusia berada dalam dunia yang merupakan ”pasar dosa” dan Allah melalui Kristus yang tanpa dosa membeli manusia berdosa (1 Kor 6:20). Kedua, eksagoraso, artinya dibeli keluar atau dipindahkan dari pasar dosa. Kematian Yesus bukan saja untuk membayar dosa manusia, tetapi juga sekaligus memindahkan manusia yang percaya itu dari pasar dosa agar menjadi orang beriman dengan jaminan penuh (Yoh 10:28). Ketiga, lutroo, artinya membebaskan atau melepaskan dari belenggu dosa dan disuruh pergi sebagai orang merdeka (Mat 20:28, Mrk 10:45).

LAHIR BARU. Istilah lahir baru berasal dari kata Yunani, genethe anothen yang berarti dilahirkan baru (Yoh 3:3, 5). Arti teologisnya adalah aktivitas Roh Tuhan yang memberikan kodrat baru kepada seorang berdosa karena ia telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Kita yang percaya kepada Yesus menjadi ciptaan baru, hakikat baru dengan kapasitas dan keinginan baru yang menyenangkan Bapa (2 Kor 5:17). Alkitab menegaskan, ”Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan kekal” (1 Ptr 1:23).

PENYUCIAN. Manusia semua berdosa. Perbuatan baik dan usaha pendisiplinan hidup tidak bisa merubah status dan kodratnya sebagai orang berdosa. Namun begitu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, status atau posisi kita adalah orang kudus di mata Tuhan. Inilah yang disebut penyucian secara posisi (positional sanctification). Dasar penyucian itu adalah kematian Yesus (Ibr 10:10, 14). Meskipun secara de fakto orang percaya masih jatuh bangun dalam dosa, tetapi karena percaya pada Kristus maka ia disebut orang kudus seperti pada kasus orang-orang Kristen di Korintus (1 Kor 1::2).

KEWAJIBAN PERTUMBUHAN ROHANI

Keselamatan memang merupakan anugerah (sola grasia). Keselamatan harus diterima dengan iman (sola fide, hanya oleh iman). Namun, iman itu adalah tindakan aktif, bukan sikap yang pasif. Karena itu keselamatan merupakan peristiwa PERPALINGAN (conversion). Perpalingan adalah tindakan pembalikan yang dari segi negatif berarti pertobatan dan dari segi positif adalah iman kepada Kristus. Pertobatan sangat ditekankan dalam ajaran Yesus, Yohanes Pembaptis, dan Para Rasul (Mat 3:2; 4:17; Mrk 6:12; Kis 2:38; 20:21; 26:20). Namun bertobat tanpa iman tidak akan menyelamatkan. Orang beragama lain pun bisa bertobat. Bahkan orang ateis bisa bertobat dari dosanya. Tetapi hanya pertobatan dan iman kepada Kristuslah yang menyelamatkan.

Pertobatan sebagai tindakan iman itu sendiri harus dilakukan terus menerus. Maka, kekristenan adalah tindakan untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan (Rom 12:1). Dalam hal kekudusan, kita tidak boleh berhenti hanya sampai pada tahap positional sanctification. Namun harus mengejar/mengusahakan kekudusan secara terus menerus (progresive sanctification). Paulus juga menekankan supaya Timotius mengejar pertumbuhan kesucian dirinya (2 Tim 2:21).

Kewajiban untuk bertumbuh ditegaskan dalam Alkitab. Hal itu terlihat sangat jelas dari ukuran-ukuran pertumbuhan rohani. Paulus, misalnya, menegur jemaat Korintus sebagai orang-orang percaya yang masih duniawi dan belum dewasa (1 Kor 3:1). Penulis Ibrani membedakan antara ”Kristen anak-anak” dan ”Kristen dewasa” (”Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memaham ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” – Ibr 5:12-14).

Orang percaya disebut sebagai murid yang artinya harus terus belajar. Ada murid yang malas, ada murid yang tekun. Ada murid yang sering tinggal kelas. Namun ada murid yang bisa mengikuti kelas akselerasi. Demikian juga orang percaya, banyak yang bertumbuh dengan cepat, namun lebih banyak lagi yang tidak bertumbuh sekalipu telah melewati proses waktu.

CARA BERTUMBUH

Pertumbuhan rohani orang percaya terjadi karena dua hal. Pertama, tindakan orang percaya itu sendiri untuk bertumbuh. Tuhan tidak pernah memaksa atau menjadikan kita robot. Tuhan memperhadapkan kita pada berkat dan kutuk serta memberikan kita kebebasan untuk memilih (Ul 30:19). Paulus mendorong kita untuk bertumbuh: untuk mempersembahkan hidup (Rom 12:1) dan untuk mengejar kesucian (2 Tim 2:21).

Kedua, pertumbuhan terjadi karena karya Roh Kudus dalam diri manusia. Karya Roh Kudus dalam diri manusia, tahapan-tahapannya adalah, pertama, meyakinkan (convicting) manusia akan dosa, hukuman, dan keselamatan (Yoh 16:8-11). Kedua, Roh Kudus melahirkan kembali sehingga manusia percaya mendapatkan kodrat baru (Tit 3:5). Ketiga, Roh Kudus membaptiskan orang percaya (1 Kor 12:13). Keempat, Roh Kudus memeteraikan (2 Kor 1:22). Kelima, Roh Kudus mendiami orang percaya (1 Kor 6:19). Keenam, Roh Kudus memenuhi orang percaya (Ef 5:18).

Roh Kuduslah yang membuat kita memiliki buah-buah Roh – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-25). Dengan demikian, semakin dipenuhi Roh Kudus maka orang percaya semakin menjadi seperti Kristus. Pertumbuhan itu terjadi karena Roh Kudus memberikan kekuatan supranatural yang mengubahkan mental, karakter, dan kepribadian manusia yang sebelumnya telah rusak total (total depravity).

HADIAH PERTUMBUHAN

Pertumbuhan rohani menyenangkan hati Tuhan. Berkat di dunia dan di akhirat diberikan bagi mereka yang bertumbuh itu. Pertama, selama di dunia, jika kita bertumbuh maka akan diberi kepercayaan yang besar sebagai alat Tuhan. Paulus mengatakan, ”Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2 Tim 2:21). Kecuali itu, tentunya segala berkat akan diberikan jika kita hidup benar di hadapan Tuhan (Ul 28:1-14).

Kedua, jika kita bertumbuh terus maka kita akan diberi mahkota dalam pengadilan Kristus di akhir jaman. Mahkota kehidupan itu adalah pahala yang diberikan Tuhan bagi orang percaya yang berhasil mengalahkan kehidupan lamanya. Alkitab mencatat, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1 Kor 9:25).

MASALAH ROHANI: TERIKAT ROH JAHAT

Hal yang sering menghambat orang untuk bertobat dan bertumbuh adalah ikatan roh-roh jahat yang membelenggu dirinya. Manusia itu seperti rumah yang bisa dihuni setan-setan. Maka seharusnya manusia itu menjadi rumah Tuhan, bait Roh Kudus karena Roh Kudus berdiam dan memenuhi dirinya (1 Kor 6:19).

Mengenai bagaimana setan-setan bisa menguasai manusia, Yesus menjelaskan, ”Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatkannya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula” (Mat 12:43-45). Jadi, pertama, manusia itu seperti sebuah rumah. Kedua, iblis bisa menguasai rumah tersebut. Ketiga, iblis bisa diusir keluar dari manusia – makanya orang percaya diberi kuasa mengusir setan (Mrk 16:17) dan diperintahkan supaya mengusir setan (Yak 4:7). Keempat, setan yang telah diusir keluar pasti ingin kembali menguasai manusia itu karena ia ingin supaya semua orang menjadi miliknya. Bahkan ia mengajak lebih banyak roh lain untuk merebut kembali kekuasaannya atas manusia. Kelima, karena itu, jangan membiarkan rumah itu kosong, tetapi hendaklah kita didiami Roh Kudus (1 Kor 6:19) dan dipenuhi Roh Kudus (Ef 5:18).

MASALAH ROHANI: MENTALITAS

Cepat dan lambatnya pertumbuhan rohani juga dipengaruhi oleh mentalitas kita.. Ada orang yang rajin dan ada pula yang pemalas. Orang percaya diibaratkan seperti murid, ada yang rajin dan ada yang lamban. Paulus adalah hamba Tuhan yang mendorong jemaat untuk mengejar pertumbuhan.

Tuhan senantiasa bertindak sedemikian rupa untuk mendorong kita supaya bertumbuh. Bahkan seringkali Tuhan memaksa kita agar bertumbuh. Kitab Suci menggambarkan sikap Tuhan itu sebagai berikut: ”Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, memgembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya” (Ul 32:11).

MASALAH ROHANI: PEMBINAAN ROHANI

Untuk mempercepat pertumbuhan rohani, sangat diperlukan pembinaan rohani. Ayah atau kakak rohani tidak cukup hanya mendidik anak-anak atau adik-adik rohani mereka sacara kognitif. Pertumbuhan rohani adalah praktek kehidupan sehari-hari sehingga harus ada keteladanan (band. 1 Kor 4:15-16).

Menjadi anak rohani dan menjadi bapa rohani itu adalah amanat Alkitab. Itu merupakan bagian dari penginjilan – jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat 28:19-20). Hubungan Paulus dan Timotius memberikan contoh hubungan ayah dan anak rohani (1 Tim 1:12).

SOAL

  1. Jelaskan peristiwa dan proses keselamatan dalam iman Kristen!
  2. Apakah pertumbuhan rohani itu?
  3. Bagaimana cara supaya dapat bertumbuh secara rohani?

TUGAS

Evaluasilah pertumbuhan rohani anda. Sudahkah anda benar-benar dilahirkan baru? Sudahkah anda melakukan proses perpalingan yang nyata? Dan, apa saja yang menghambat pertumbuhan rohani anda selama ini?


C. ROH KUDUS

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: ROH KUDUS

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah

  1. Mahasiswa memahami siapa dan apa peran Roh Kudus dalam hidup Kristen
  2. Mahasiswa menerapkan hidup yang dipimpin Roh Kudus
  3. Mahasiswa menerapkan hidup yang diurapi Roh Kudus

ROH KUDUS ADALAH TUHAN

Roh Kudus adalah Tuhan, salah satu Oknum dalam Tritunggal. Alkitab jelas sekali mensejajarkan kedudukan Roh Kudus dengan Bapa dan Anak (Mat 28:19; 2 Kor 13:14). Perjanjian Lama juga menekankan Roh Kudus sebagai Yahweh (Yer 31:31-34). Menghujat Roh Kudus sama dengan menghujat Tuhan (Mat 12:31-32; Kis 5:3-4).

Sebutan-sebutan Roh Kudus membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Roh Kudus disebut sebagai Roh Yesus (Kis 16:7). Roh Kudus juga disebut sebagai Roh Allah kita (1 Kor 6:11). Pengertian Seorang Penolong yang lain juga menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Oknum dari Trinitas (Yoh 14:16).

Sifat-sifat Roh Kudus membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan. Sifat-sifat Roh Kudus itu adalah Mahatahu (Yes 40:13; 1 Kor 2:12), Mahahadir (Mzm 139:7), dan Mahakuasa (Ayb 33:4; Mzm 104:30).

Tindakan-tindakan Roh Kudus juga membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan karena Dia melakukan tindakan-tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Pertama, Roh Kudus menyebabkan terjadinya kelahiran Mesias lewat perawan Maria (Luk 1:35). Kedua, Roh Kudus memberikan ilham kepada para penulis Kitab Suci (2 Ptr 1:21). Ketiga, Roh Kudus terlibat dalam penciptaan dunia (Kej 1:2).

KARYA ROH KUDUS

Karya Roh Kudus dalam diri manusia, tahapan-tahapannya adalah, pertama, meyakinkan (convicting) manusia akan dosa, hukuman, dan keselamatan (Yoh 16:8-11). Kedua, Roh Kudus melahirkan kembali sehingga manusia mendapatkan kodrat baru (Tit 3:5). Ketiga, Roh Kudus membaptiskan orang percaya (1 Kor 12:13). Keempat, Roh Kudus memeteraikan (2 Kor 1:22). Kelima, Roh Kudus mendiami orang percaya (1 Kor 6:19). Keenam, Roh Kudus memenuhi orang percaya (Ef 5:18).

ROH KUDUS ADALAH PRIBADI TUHAN

Berbicara tentang Roh Kudus, sebagian orang Kristen sering tidak menghargai-Nya sebagai Pribadi. Kita hanya sebatas “aku percaya Roh Kudus”, titik. Atau, cenderung hanya mengkaitkannya dengan masalah kuasa, mujizat, dan tanda-tanda ajaib. Jika kita memperlakukan Roh Kudus sebagai Pribadi, kita akan menyapa-Nya, menyembah-Nya, berdialog dengan-Nya, menjaga hati-Nya supaya tidak berduka, dan seterusnya. Demikian juga Dia akan memperlakukan kita sebagai Pribadi: menjamah kita, menyapa kita, berbicara kepada kita, berdialog dengan kita, dan seterusnya.

Roh Kudus memiliki dan menunjukkan sifat-sifat suatu Pribadi. Roh Kudus memiliki kecerdasan (1 Kor 2:10-11), pikiran (Rom 8:27), dan bisa mengajar manusia (1 Kor 2:13). Roh Kudus menyatakan perasaan, dapat berdukacita karena dosa kita (Ef 4:30). Roh Kudus juga mempunyai kehendak, misalnya membagi-bagikan karunia kepada kita (1 Kor 12:11) dan memimpin aktivitas orang percaya (Kis16:6-11).

Roh Kudus juga melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi. Dia memimpin kita ke dalam kebenaran dengan cara mendengar, berbicara, dan menunjukkan (Yoh 16:13). Dia meyakinkan akan dosa (Yoh 16:8). Dia melakukan mujizat-mujizat (Kis 8:39). Dia juga berdoa syafaat (Rom 8:26).

Sebagai Pribadi, Roh Kudus menerima segala perlakuan yang hanya bisa diberikan kepada suatu Pribadi. Dia adalah Oknum yang harus ditaati (Kis 10:19-21). Dia dapat dibohongi (Kis 5:3), dapat ditentang (Kis 7:51), dapat dibuat berdukacita (Ef 4:30), dapat dihujat (Mat 12:21), dapat dihina (Ibr 10:29).

ROH KUDUS BERBICARA

Orang percaya seharusnya tidak pernah kekurangan tuntunan/pimpinan illahi. Pemazmur menulis: ”Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku…. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mzm 23;1-3). Artinya, karena Ia adalah gembala maka kita tidak akan kekurangan. Dalam hal apa kita tidak akan berkekurangan? Salah satunya dalah hal menerima tuntunan dari Tuhan.

Tuhan tidak kekurangan cara untuk menuntun kita, untuk berbicara kepada kita. Beberapa cara yang sering dipakainya adalah, pertama, melalui kesaksian batin. Saat Tuhan menyetujui sesuatu, Ia menumbuhkan perasaan mantab, yakin, setuju, dan sejahtera dalam hati kita. Kesaksian batin ini didefinisikan oleh Roberts Liardon (1995) sebagai isyarat roh atau sebagai tanda untuk ”jalan terus” atau ”stop” dari Roh Kudus.

Kedua, Tuhan memberi petunjuk melalui suara batin dalam diri kita. Kadang-kadang, roh kita yang sudah dipenuhi Roh Kudus, berbicara dengan lembut. Inilah yang disebut suara hati, yang harus dijaga kemurniannya supaya tidak tumpul (Rom 2:15; 9:1).

Ketiga, Tuhan berkata-kata melalui Roh-Nya (Roh Kudus). Kadang, suara Roh Kudus terdengar secara fisik di telinga kita. Hal ini dialami oleh Samuel kecil. Ia mendengar suara Roh Kudus yang dikira suara imam Eli: ”Samuel, Samuel!” (1 Sam 3:4).

Keempat, Tuhan berbicara melalui penglihatan-penglihatan (vision). Suatu malam, Paulus menerima penglihatan tentang orang Makedonia yang berdiri dan berkata: ”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” (Kis 16:9). Penglihatan dapat dibedakan: (1) penglihatan terbuka [open vision], penglihatan yang sangat nyata, terlihat tanpa menutup mata karena si pelihat langsung mengamati gejala adikodrati yang muncul di alam materi, misalnya ketika Maria dan para gembala melihat dan berdialog dengan malaikat [Luk 1:26-38; 2:8-15], (2) penglihatan yang diberikan pada saat kita diliputi Roh [semacam keadan trance karena jamahan Roh Kudus], misalnya seperti yang dialami Petrus di Yope [Kis 10:9-10].

Kelima, Tuhan berbicara melalui mimpi-mimpi (night vision). Jika Tuhan berbicara kepada Maria melalui open vision, Tuhan berbicara kepada Yusuf melalui night vision (Mat 1:20-21). Yusuf bin Yakub juga memperoleh petunjuk melalui mimpi-mimpi (Kej 37:5).

Keenam, Tuhan berbicara melalui nubuatan (prophecy). Peter Wagner (2000) mendefinisikan karunia nubuat sebagai suatu kemampuan istimewa yang diberikan Roh Kudus untuk menangkap dan mengkomunikasikan suara Tuhan melalui perkataan yang diurapi. Paulus mendorong supaya kita bertumbuh dalam karunia ini sehingga bisa menguatkan dan membangun orang lain (1 Kor 14:1).

ROH KUDUS MEMBERI KUASA

Pada awal berdirinya Gereja, Yesus memberikan janji tentang kuasa (dunamis). Kata-Nya, ”Tetapi kamu akan menerima kuasa (dunamis), kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Sejarah selanjutnya memang mencatat kebenaran itu. Petrus yang sebelumnya tidak berdaya – bahkan sempat menyangkali Kristus – bangkit setelah dipenuhi Roh Kudus. Sebegitu diurapinya dia sehingga sekali berkotbah saja 3.000 orang bertobat (Kis 2:40-41). Roh Kudus adalah ”faktor dinamika sentral” bagi pertumbuhan Gereja, juga sampai sekarang ini.

Kecuali mendiami dan memenuhi sehingga manusia percaya bisa bertumbuh semakin menjadi seperti Kristus, Roh Kudus juga memberikan kuasa (dunamis) supaya orang percaya bisa efektif menginjil dan melayani Tuhan. Paulus menegaskan bagaimana Roh Kudus memberikan karunia-karunia itu sebagai berikut: ”Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor 12:7-11).

Tidak heran jika banyak hamba Tuhan dipakai dalam pelayanan-pelayanan supranatural. Ada pengkotbah yang diurapi sehingga menyampaikan nubuatan-nubuatan. Ada para pemuji yang menyembah Tuhan dengan karunia bahasa roh. Ada penginjil-penginjil yang pelayanannya disertai mujizat-mujizat dan kesembuhan-kesembuhan illahi

SOAL

  1. Bagaimana cara memperlakukan Roh Kudus sebagai suatu Pribadi?
  2. Bagaimana saja cara Tuhan berbicara kepada orang percaya?
  3. Apa dan untuk apa karunia-karunia Roh Kudus itu?

TUGAS

Pelajarilah beberapa tokoh hamba Tuhan masa kini yang pelayanannya disertai dengan kuasa dan karunia-karunia Roh Kudus. Selidikilah mengapa Roh Kudus berkarya istimewa melalui hidup dan pelayanan mereka itu.


D. IMAN DAN DOA

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: IMAN DAN DOA

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah

  1. Mahasiswa memahami dan menerapkan iman dalam doa Kristen
  2. Mahasiswa memahami dan menerapkan beberapa jenis doa Kristen yang Alkitabiah

IMAN KRISTEN

Doa dan iman itu satu adanya. Doa tanpa iman hanyalah kegiatan membaca puisi. Sedangkan doa yang dinaikkan dengan iman sangat besar kuasanya (Yak 5:16b). Iman di sini adalah iman sebagai tindakan keyakinan yang berkuasa menciptakan mujizat. Saat mendoakan orang sakit, mendoakan kebutuhan hidup, atau lainnya, iman harus melandasi doa tersebut.

Crefflo A. Dollar (1993) merumuskan sepuluh langkah doa yang penuh iman itu sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi masalah (identity the problem). Sebelum berdoa, kita perlu mengerti lebih dulu apa penyebab timbulnya masalah. Misalnya, apakah itu karena dosa kita sendiri? Karena serangan iblis? Atau karena diijinkan Tuhan sebagai didikan rohani? Semua itu menentukan langkah berikutnya. Kalau ada dosa, ya bertobat dulu.

Kedua, mengambil keputusan dengan jelas (the quality decision). Tuhan tidak akan bergerak sebelum kita mengambil keputusan dalam hidup ini. Kita mempunyai pilihan bebas, bukan seperti robot. Tuhan berfirman: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ul 30:19).

Ketiga, temukan adanya peneguhan dari Tuhan (finding your “title deed”). Kita harus berdoa sampai mendapatkan peneguhan dari Roh Kudus tentang langkah apa yang harus kita lakukan. Ini menuntut kepekaan rohani dan ketekunan doa. Contohnya adalah ketika suatu kali kita terjebak oleh sebuah sungai yang dalam yang tak mungkin terseberangi. Tidak salah jika kita kemudian berpikir bahwa kita bisa berjalan di atas air untuk menyeberangi sungai itu. Justru salah (tidak beriman) kalau kita mengatakan bahwa itu mustahil. Namun, masalahnya adalah apa kehendak Tuhan. Petrus bisa berjalan di atas air sebab ia lebih dulu mendapatkan konfirmasi dari Yesus yang berkata: ”Datanglah!” (Mat 14:29). Kalau kita tidak mendapatkan peneguhan dari Tuhan (title deed), jangan sekali-kali melakukan tindakan konyol. Ada banyak orang karismatik melakukan tindakan konyol seperti itu karena emosi sesaat. Misalnya mereka meminjam uang milyaran di bank untuk membangun bisnis, pikirnya untuk kepentingan Tuhan, ternyata malah terjerat hutang.

Keempat, mendengarkan Firman (hearing). Untuk membangun iman, caranya adalah dengan mendengarkan Firman Tuhan (Rom 10:17). Tutuplah telinga kita dari suara-suara negatif dan berita-berita yang melemahkan iman.

Kelima, melakukan permenungan (succes through meditation). Kunci sukses Yosua, si ”penguasa matahari dan bulan” itu, adalah merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Yos 1:6). Permenungan mencakup tiga aktifitas: (1) mutter [berkomat-kamit], berkata-kata pada diri sendiri, speaking to yourself [Ef 5:19 KJV], (2) talking [memperkatakan], menyebut-nyebut kebaikan Tuhan [Mzm 77:12-13], (3) musing [meditasi, merenung], memikirkan, membayangkan, mengingat-ingat Firman Tuhan sampai yakin penuh [Mzm 143:5].

Keenam, melancarkan perkataan iman (harness the power of confession). Jangan terburu berkata-kata sebelum permenungan kita berhasil. Sepanjang kita masih ragu dan bimbang, perkataan kita tidak berkuasa (Mrk 11:23). Ketika hendak meruntuhkan tembok Yeriko dengan iman,Yosua memerintahkan bangsa Israel mengelilingi tembok itu sampai beberapa kali, baru kemudian berseru dengan iman (Yos 6:10). Tindakan mengelilingi itu adalah proses merenungkan kuasa Tuhan atas alam. Setelah mereka cukup beriman, mareka berseru dan mujizat pun terjadi: Yeriko roboh.

Ketujuh, melakukan Firman Tuhan (acting the Word). Kita bukan hanya mendengar, merenungkan, dan memperkatakan Firman, tetapi juga menjadi pelaku Firman itu. Setelah sepanjang malam para murid gagal menangkap ikan, Yesus berkata: “Bertolaklah le tempat yang dalam dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan!” (Luk 5:4). Kunci mujizat yang terjadi pada waktu itu adalah ketaatan untuk bertindak sesuai Firman itu (Luk 5:5). Mengapa Petrus bisa berjalan di atas air? Kuncinya adalah Firman Yesus “Datanglah” (Mat 14:29) yang dilakukannya, sebuah tindakan iman (faith in action).

Kedelapan, bersikap sabar (applying the pressure of patience). Dalam menanti jawaban doa, kita harus tetap beriman dan bersabar (Ibr 6:12). Ada kalanya Tuhan membuat mujizat secara instant, ada kalanya bertahap. Yang jelas Tuhan bekerja untuk kebaikan kita (Rom 8:28).

Kesembilan, menanti waktu Tuhan (waiting for God’s timing). Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah kolong langit ini ada waktunya (Pkh 3:1). Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh 3:11). Terkadang, kita terburu-buru. Ibu Yesus tidak sabar ketika melihat pesta perkawinan di Kana kekurangan anggur, katanya: ”Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Bukannya tidak mau mengadakan mujizat, tetapi Yesus menegur ibu-Nya sendiri: ”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba!” (Yoh 2:4).

Kesepuluh, menghadapkan terus jawaban doa (expect the answer). Artinya, jangan hilang pengharapan. Jangan berputus asa. Hanya pada Tuhan saja kita menjadi tenang, sebab daripada-Nyalah pengharapan kita (Mzm 62:6).

DOA OTORITATIF

Doa otoritatif adalah jenis doa yang dengannya kita bisa memerintah dengan kuasa perkataan iman. Pada waktu mendoakan orang sakit misalnya, kita berdoa, “Dalam nama Yesus, jadilah sembuh,” dan orang sakit itu pun sembuh. Prinsipnya di sini adalah perkataan iman yang diucapkan dengan doa.

Prinsip penting dalam doa otoritatif ini adalah keyakinan bahwa perkataan iman orang percaya sangat besar kuasanya. Alkitab menekankan pentingnya kuasa perkataan itu. Dalam Amsal dikatakan bahwa ”lidah” berkuasa menentukan kehidupan (Ams 18:21). Yakobus menulis bahwa meskipun kecil ”lidah” mempunyai kekuatan besar, seperti api kecil yang bisa membakar hutan (Yak 3:5). Ucapan kita menentukan apakah kita akan dibenarkan atau akan dihukum (Mat 12:37). Orang yang sempurna adalah orang yang tidak bersalah dalam perkataannya (Yak 3:2).

Bagaimana perkataan orang percaya bisa memiliki kuasa yang sangat besar? Pertama, kita adalah ”manusia super” karena didiami oleh Roh Tuhan (1 Kor 6:19). Dalam diri kita ada kuasa illahi, urapan Roh Kudus, kekuatan supranatural dari Kristus. Ucapan orang percaya memiliki kekuatan supranatural. Kedua, orang percaya mempunyai iman yang tumbuh dari Firman Tuhan (Rom 10:17). Yesus mengajarkan bahwa apa yang dikatakan dengan iman, asal tidak ragu dan percaya, memiliki kuasa untuk menciptakan mujizat. Kata Yesus: ”Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Mrk 11:23). Itulah formula doa otoritatif.

DOA PERMOHONAN

Yesus mengajar bahwa doa permohonan adalah prosedur standar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari Tuhan. Alkitab versi ”Penuntun Hidup Berkelimpahan” memberi komentar atas Injil Matius 7:7-11 sebagai berikut. Pertama, ”meminta” mengandung pengertian adanya kesadaran akan kebutuhan dan kepercayaan bahwa Tuhan mendengar permintaan kita. Kedua, ”mencari” berarti memohon dengan sungguh-sunguh yang disertai dengan ketaatan pada kehendak Tuhan. Ketiga, ”mengetok” berarti tekun dalam menghampiri Tuhan sekalipun Tuhan tidak memberi jawaban dengan segera. Keempat, prinsip ”meminta-mencari-mengetok” mengandung arti suatu usaha yang dilakukan terus-menerus.

Mengenai ketekunan dalam menaikkan doa permohonan, Yesus memberi dua perumpamaan. Pertama, perumpamaan tentang seorang sahabat yang tanpa malu meminta pertolongan kepada sahabatnya (Luk 11:5-8). Kedua, perumpamaan tentang seorang janda yang tiada henti memperjuangkan nasibnya di hadapan seorang hakim yang tidak adil (Luk 18:1-8).

Sehubungan dengan doa permohonan itu, Yesus sangat menghargai doa yang dinaikkan dalam kesehatian. Yesus berjanji: ”Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapaku yang di sorga” (Mat 18:19). Gereja (persekutuan orang percaya) yang tekun berdoa akan menerima banyak mujizat dari Tuhan.

DOA SYAFAAT

Sebelum bencana ”natural-supranatural” berupa hujan api dan belerang membumihanguskan kota Sodom dan Gomora, Abraham sudah menaikkan doa syafaat untuk segenap penduduk kota itu. Doa syafaat Abraham adalah memperjuangkan nasib kota itu supaya diampuni oleh Tuhan. Abraham memohonkan belas kasihan. Dalam syafaat itu, terjadi proses doa dialogis berupa tawar-menawar antara Tuhan dan Abraham seperti di bawah ini (Kej 18:24-32).

Jim W. Goll (1999) menunjukkan keunikan peran pendoa syafaat sebagai seorang perantara (intercessor) dengan ungkapan ”berdiri di celah antara” (standing on the gap). Maksudnya adalah ”berdiri” di antara manusia dan Tuhan. Ketika manusia melakukan dosa, terjadilah perseteruan antara manusia dan Tuhan. Kejahatan manusia memicu murka Tuhan. Syafaat menggerakkan hati Tuhan untuk memberi pengampunan. Abraham, seperti telah dibahas, berdiri di celah antara itu untuk memperdamaikan perseteruan manusia berdosa dengan Tuhan.

Yehezkiel menggambarkan posisi pendoa syafaat sebagai orang yang hendak mempertahankan negeri di hadapan Tuhan.”Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya. Maka Aku mencurahkan geram-Ku atas mereka dan membinasakan mereka dengan api kemurkaan-Ku; kelakuan mereka Kutimpakan atas kepala mereka, demikianlah firman Tuhan.” (Yehz 22:30-31).

Musa berdiri di celah antara bangsa Israel dan Tuhan. Ketika bangsa itu berdosa karena telah membuat patung berhala berupa anak lembu emas, Tuhan menjadi murka dan berencana untuk memberi hukuman berat. Namun, Musa berkata kepada Tuhan: ”Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu, dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dalam kitab yang telah Kautulis” (Kel 32:32). Karena sangat mengasihi bangsanya, Musa memperjuangkan nasib mereka di hadapan Tuhan. Ia rela berkorban apa pun demi bangsanya diselamatkan.

DOA PEPERANGAN ROHANI (MENGUSIR SETAN)

Pada dasarnya, doa peperangan adalah doa yang bersifat melawan, mengusir, dan menghancurkan setan-setan. Secara umum, doa peperangan sering dibedakan sebagai berikut. Pertama, doa peperangan tingkat dasar, yaitu mengusir setan-setan yang mengikat, mengganggu, dan menyerang orang secara individual (pelayanan pelepasan). Kedua, doa peperangan tingkat okultisme, yaitu menghancurkan kekuatan kuasa gelap yang terorganisir, misalnya praktek pedukunan, satanisme, gerakan gereja setan (satanic church), dan sebagainya. Ketiga, doa peperangan tingkat strategis, yaitu menghancurkan pemerintahan-pemerintahan roh-roh jahat yang menguasai wilayah tertentu (kota, desa, bangsa, dan sebagainya).

Selama Yesus melayani di muka bumi, para murid dilatih-Nya untuk melakukan doa-doa peperangan. Suatu kali para murid melayani pelepasan (doa peperangan tingkat dasar) seorang anak muda yang dirasuk setan sehingga menderita sakit ayan, namun gagal (Mat 17:14-16). Pada kesempatan yang lain, para murid berhasil secara luar biasa sehingga mereka sangat bersukacita, sampai ditegur Yesus karena keberhasilan mengusir setan tidak boleh dijadikan sebagai sumber sukacita (Luk 10:17-20).

Ketika melayani di Filipi, Paulus melancarkan doa peperangan tingkat okultisme. Di kota itu, seorang petenung perempuan mengganggu Paulus dengan seolah-olah memuji Paulus sebagai hamba Tuhan (Kis 16:16-17). Paulus akhirnya mengusir roh tenung itu keluar dari perempuan tersebut (Kis 16:18). Peperangan yang dilancarkan Paulus ternyata memicu “serangan balik” dari iblis berupa aniaya. Ketika tuan-tuan petenung perempuan itu tidak terima, mereka menangkap Paulus dan Silas, mengadukan mereka berdua kepada para penguasa kota, sampai akhirnya kedua hamba-Nya itu dijebloskan dalam penjara (Kis 16:19-24). Menyadari kuatnya serangan iblis itu, Paulus dan Silas terus berperang dengan tetap berdoa dan menaikkan pujian (Kis 16:25). Menurut Peter Wagner (2000), pujian yang dinaikkan Paulus dan Silas itu adalah pujian peperangan (battle song). Puji-pujian merupakan salah satu bentuk senjata peperangan rohani, seperti dulu dipakai oleh Yosafat pada saat berperang (2 Taw 20:17-22). Setelelah Paulus dan Silas berdoa dan menaikkan pujian peperangan, Tuhan menyatakan kuasanya yang dahsyat dengan manifestasi fisik berupa gempa bumi (Kis 16:26).

Dalam doa nabi Daniel, terjadi peperangan tingkat strategis. Alkitab memberi catatan demikian (Dan 10:12-14). Pertama, doa Daniel menggerakkan para malaikat untuk membawa jawaban doa kepadanya. Kedua, kedatangan malaikat itu dihambat, dihadang oleh roh-roh penguasa wilayah (roh-roh territorial). Dalam buku Commentar on The Old Testament karya Kiel dan Delitzch, sebagaimana dikutip Cho (1991), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “raja-raja orang Persia” adalah roh-roh jahat penguasa wilayah Persia. Ketiga, peperangan tingkat strategis ini sangat berat, memakan waktu (21 hari) dan perlu bantuan malaikat-malaikat lain (Mikael).

SOAL

  1. Bagaimana cara berdoa yang dilandasi iman itu?
  2. Apa beda doa permohonan dan doa syafaat?
  3. Apakah orang Kristen bisa mengusir setan dengan doa-doanya? Bagaimana caranya?

TUGAS

Identifikasikan beberapa masalah dalam hidup anda dan rumuskan strategi doa yang harus anda lakukan untuk mendapatkan mujizat dari Tuhan atas masalah itu!


E. PUJIAN-PENYEMBAHAN

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: PUJIAN-PENYEMBAHAN

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah

  1. Mahasiswa mengidentifikasi musik rohani dan musik non rohani
  2. Mahasiswa memahami dan menerapkan pujian dan penyembahan
  3. Mahasiswa memehami lirik lagu-lagu rohani

LAGU DUNIA DAN LAGU ROHANI

Orang sering membedakan antara lagu dunia dan lagu rohani. Terkadang, pembedaan yang dilakukan dengan ekstrem bersifat menghakimi lagu-lagu dunia sebagai dosa, sesat, dan tidak baik. Sementara itu, banyak lagu rohani (lagu Kristen) yang baik lirik maupun musiknya mirip-mirip seperti lagu dunia (misalnya lagu bertema cinta).

Lagu secara umum adalah kebudayaan. Adapun kebudayaan itu didefinisikan sebagai segala system gagasan, system perilaku, dan benda-benda hasil karya manusia yang dijadikan milik diri melalui proses belajar. Jadi, lagu merupakan system gagasan (ada liriknya, ada musiknya), system perilaku (ada cara menyanyi, cara memainkan musik), dan benda-benda hasil karya (kaset, CD, VCD, klip, alat musik, panggung, dst). Dan untuk menguasai lagu itu perlu proses belajar (belajar vocal, belajar musik, belajar tampil di panggung, dst).

Yang membedakan apakah suatu lagu itu rohani atau tidak, pertama pada system gagasan liriknya. Lirik lagu rohani berasal dari pelajaran Firman Tuhan, Alkitab, ide tentang Tuhan, wahyu dari Roh Kudus, dan seterusnya. Lirik lagu sekuler berasal dari pemikiran manusiawi, keinginan hawa nafsu kedagingan, dan bahkan ilham dari setan. Kedua, pada tujuan penciptaan dan penggunaan lagu itu. Lagu rohani untuk memuji Tuhan, membawa orang mendekat kepada Kristus. Lagu duniawi bertujuan untuk menghibur, mengungkapkan pikiran manusia, membina pergaulan sosiologis, bahkan untuk memuja setan. Ketiga, (seharusnya) pada penyanyi dan pemusiknya. Lagu sekuler menuntut semata-mata keahlian, ketrampilan, dan performansi. Sedangkan untuk menyanyikan lagu rohani seharusnya seorang pemuji (pemazmur) hidup kudus, motivasinya melayani Tuhan, dan tidak meninggikan diri.

Sedangkan pada unsur-unsur lainnya, lagu rohani dan lagu sekuler sama-sama merupakan karya budaya manusia. Keduanya menggunakan bahasa manusia, memakai alat-alat musik karya manusia, menggunakan teknik-teknik musik universal, dst.

Apakah semua lagu non-rohani sesat? Tidak! Tentunya ada lirik-lirik lagu sekuler yang sufatnya dosa (misalnya mengekspos kenajisan, perselingkuhan, kebencian, dst). Tetapi, seringkali/banyak kali lagu-lagu sekuler – meskipun tidak Alkitabiah – membawa pesan-pesan yang baik yang tidak bertentangan dengan pandangan Alkitab. Misalnya lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu pergaulan, persahabatan, lagu-lagu bertema pembangunan (misalnya ”Heal The World”-nya Michael Jackson), lagu-lagu etnis, dst. Orang Kristen tidak perlu anti dengan lagu-lagu seperti itu. Bahkan bisa memakainya untuk menyampaikan nilai-nilai Kristen dan pesan-pesan Alkitab.

Namun harus diingat bahwa kebudayaan itu bersifat pemujaan atau agama. Contoh, nasionalisme (semangat kebangsaan) itu pada dasarnya semacam ”agama”. Menurut Smith (2002), semangat kebangsaan tumbuh dari keyakinan akan semacam ”harta sakral” (sacred properties) yaitu, pertama, keyakinan akan keterpilihan etnik. Yaitu gagasan bahwa bangsa kita adalah anugerah dan pilihan Tuhan. Kita pun meyakini itu sehingga Tuhan diposisikan sebagai Penyebab pertama (kausa prima) dalam Pancasila. Kedua, keyakinan tentang tanah yang suci. Nasionalisme adalah cinta tanah air, tanah tumpah darah kita. Ketiga, keyakinan akan ”zaman keemasan”, yaitu sejarah masa silam yang hebat yang merupakan asal usul suatu bangsa. Karena itu, nasionalisme Indonesia sering dikaitkan dengan kebanggaan akan jaman Mahapahit, Sriwijaya, Mataram, dan sejarah yang menjadi asal-usul kita sekarang. Keempat, keyakinan akan adanya para pahlawan yang dalam konteks agama disebut orang-orang suci atau nabi-nabi dan rasul-rasul. Makanya, nasionalisme sering dikaitkan dengan penghargaan dan doa (mengheningkan cipta) untuk para pahlawan. Makanya, lagu-lagu bertema nasionalisme bersifat memuja dan menyembah sesuatu yang dituhankan yaitu bendera, negara, kejayaan etnis, ideologi, pahlawan, tokoh bangsa, dst.

Lagu sekuler sendiri pada tataran filosofi bersiat memuja apa yang bisa disebut illah tertetu. Misalnya memuja ”cinta”, memuja kekasih, memuja dunia, dst. Dunia entertainment itu sendiri bersifat pemujaan. Makanya penonton bisa menjadi sangat histeris dan mengkultuskan para penyanyi. Para artis menjadi ”idol” yang pada hakikatnya adalah dewa pujaan atau orang yang disembah (an image or representation of a god used as an object of worship; a person who is greatly admired or revered: a soccer idol). Dalam hal inilah orang Kristen perlu waspada tanpa harus menaruh rasa benci, menghakimi, dan menjadi paranoid terhadap lagu-lagu non Kristen.

LAGU SATANIS?

Di sisi lain memang ada lagu-lagu yang benar-benar diciptakan oleh ide dari kuasa kegelapan dan diciptakan untuk memuja-muji setan-setan. Bahkan para penyanyinya memang mempunyai kegiatan okultisme  yang berkaitan dengan setan-setan. Karena itu mereka memakai lambang-lambang satanis seperti pentagram, salib terbalik, dll yang jelas-jelas merupakan symbol-simbol setan dan pemujaan setan. Lambang-lambang seperti itu juga dipakai dalam ritual-ritual satanis seperti di gereja setan (satanic church).

HAKIKAT PUJIAN PENYEMBAHAN

Pujian dan penyembahan kita lakukan jika kita menyadari dan menghargai Tuhan yang adalah Raja. Yesaya dipanggil untuk melayani setelah berjumpa dengan Tuhan yang menyatakan diri sebagai Raja (Yehovah Melek). Alkitab mencatat pengalaman Yesaya: Namun mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan semesta alam (Yes 6:5). Pemazmur juga mengatakan: Tuhan adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya (Mzm 10:16).

Raja adalah Penguasa yang berdaulat penuh. Makanya kita berdoa: ”Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu” (Mat 6:10).Raja yang berdaulat juga berkuasa untuk memerintahkan bawahan-bawahannya. Demikianlah Tuhan berkuasa atas malaikat-malaikat. Kita pun (orang percaya), sekalipun lebih tinggi statusnya daripada para malaikat, adalah hamba-hamba Tuhan yang harus taat pada perintah-perintah-Nya.

Umat Tuhan yang adalah rakyat dari Sang Raja wajib memuji dan menyembah Dia. Para malaikat yang adalah para pelayan Raja wajib menyembah Dia. Siapa pun yang tidak menyembah Tuhan, apalagi yang menghina Tuhan, pasti akan dihukum dan dicampakkan ke dalam hukuman kekal.

KUASA PUJIAN

Saat kita memuji dan menyembah, Tuhan hadir. Ketika Dia hadir atau menyatakan kehadiran-Nya secara khusus, manifestasi dahsyat pasti terjadi. Hal itu bukan berarti Tuhan tidak hadir pada saat kita tidak sedang menyambah-Nya. Tuhan itu Mahahadir (omnipresen). Namun, Ia merespon pujian-penyembahan secara khusus sehingga menyatakan manifestasi kehadiran-Nya secara khusus pula.

Manifestasi dahsyat misalnya terjadi para saat pujian-penyembahan dinaikkan kepada Tuhan pada upacara penahbisan Bait Suci. Kitab Suci (2 Taw 5:12-14): ”Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus, dan kecapinya, bersama-sama 120 imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji Tuhan dengan ucapan: ”Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan, sehingga iman-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”

Manifestasi dahsyat juga terjadi pada saat Paulus dan Silas berdoa dan memuji Tuhan. Alkitab mencatat (Kis 16:24-26): ”Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah, dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.”

MENYANYI DENGAN ROH DAN AKAL BUDI

Alkitab mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh (jasmani), jiwa (akal budi), dan roh (”Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita – 1 Tes 5:23). Memuji Tuhan itu harus dengan segenap apa yang ada pada kita, ya dengan tubuh (bertepuk tangan, berlutut, menari, dst), ya dengan jiwa (bahasa dan nyanyian akal budi), ya dengan roh (bahasa roh). Makanya ada karunia berbasaha roh (1 Kor 12:10). Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya, oleh Roh ia mengucapkan hal-hal rahasia (1 Kor 14:2).

Paulus dengan jelas menekankan doa dan pujian dengan akal budi (jiwa) dan dengan roh. Katanya (1 Kor 14:15): ”Jadi apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku, aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”

TEKNIS IBADAH PUJIAN-PENYEMBAHAN

Ibadah yang di dalamnya biasa dilakukan pujian dan penyembahan biasanya memiliki corak beragam. Ada gereja Protestan yang mengutamakan keteraturan liturgis dengan pelantunan lagu-lagu pujian dari Kidung Jemaat atau sejenisnya. Ada pula gereja karismatik yang lebih memakai lagu-lagu populer rohani untuk memuji dan menyembah Tuhan.

Mengenai cara (teknis) memuji dan menyembah Tuhan juga bermacam-macam. Namun Alkitab memberikan variasi yang beragam tentang cara-cara itu, sebagai berikut. Pertama, memuji Tuhan dengan mulut, misalnya menyanyi (2 Taw 20:19-21; Mzm 100:4; Ef 5:18-19), mengeluarkan suara atau kata-kata yang memuji Tuhan (Luk 17:15; Mzm 109:30; Mzm 71:8), berseru, berteriak dan bersorak bagi Tuhan (Mzm 32:11; Yes 12:6; 2 Sam 6:15).

Kedua, memuji Tuhan dengan gerakan-gerakan tangan. Misalnya bertepuk tangan (Mzm 47:1; Yes 55:12; 2 Raj 11:12; Mzm 98:8. Kemudian juga memuji-menyembah Tuhan dengan mengangkat tangan ke atas (Rat 3:41; 1 Tim 2:8; Mzm 63:5; Mzm 88:10; Mzm 141:2; Mzm 134:2).

Ketiga, memuji dan menyembah Tuhan dengan ekspresi tubuh. Misalnya dengan berdiri (2 Taw 6:13-14; 1 Sam 12:7), membungkuk dan berlutut (Mzm 95:6; Rom 14:11; Flp 2:10), dan bahkan menari-nari bagi Tuhan (Mzm 149:3; 150:4; 30:20; Yer 31:12-13; Kel 15:20; 2 Sam 6:14; Kis 3:8; Luk 15:25; 1 Taw 15:28-29).

MUSIK

Tuhan ingin supaya kita memakai musik (alat-alat musik) untuk memuji Tuhan (Yes 38:20; 1 Sam 16:23). Tentang memuji Tuhan dengan musik, pemazmur menulis (Mzm 150): ”Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permaian kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan. Haleluya!”

DIVINE LYRIC

Kata lirik (lyric) berasal dari bahasa Yunani (lurikos) dan bahasa Latin (lyricus). Lirik adalah salah satu bentuk utama dalam seni sastra. Dalam terminologi seni, lirik merupakan ungkapan langsung tentang pengalaman-pengalaman perasaan subyektif yang sifatnya lebih personal. Istilah lirik kemudian dipakai untuk menunjuk pada syair dalam sebuah lagu (the words of a song).

Dalam konteks lagu-lagu pujian Kristen, kita mengenal banyak lirik yang terkenal. Sebagai contoh adalah lagu berjudul “Amazing Grace”, liriknya digubah oleh John Newton pada tahun 1779. Lagu “How Great Thou Art”, liriknya dikarang oleh Carl Gustaf Boberg pada tahun 1886. Sedangkan lagu “Silent Night” yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Malam Kudus”, syairnya ditulis oleh Joseph Mohr dan lagunya diciptakan oleh Franz Xaver Gruber pada tahun 1818.

Seiring dengan perkembangan kekristenan, lagu-lagu rohani pun mengalami evolusi dari coraknya yang bersifat himne menjadi lebih bernuansa “pop” seperti lagu-lagu pujian-penyembahan (praise-worship) sekarang ini. Seperti tak mau kalah dengan perkembangan lagu-lagu pop sekuler, lagu-lagu pujian-penyembahan Kristen pun berkembang secara luar biasa. Jonathan Prawira adalah salah seorang song writer yang sangat produktif. Sejak tahun 1995 sampai medio 2008, tak kurang dari 500 lagu karyanya tersebar di 440 album rohani dan 21 VCD rohani, dikeluarkan oleh 65 Recording Company.

Hal mendasar yang membedakan lagu rohani dengan lagu sekuler adalah pesan-pesan yang terkandung di dalam liriknya. Musiknya mungkin bisa sama, namun syair lagunya berbeda. Lirik-lirik lagu penyembahan karya Jonathan Prawira mengandung pesan-pesan Firman Tuhan yang membawa kita mengenal Tuhan. Banyak lagu rohani yang pesannya tidak jelas dan ambigu atau multi tafsir. Lagu-lagu Jonathan Prawira sangat powerfull dan jika dilantunkan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita masuk ke hadirat-Nya serta mengalami jamahan kuasa-Nya. Mengapa? Karena lagu-lagu itu menumbuhkan iman kita tentang Tuhan.

SOAL

  1. Mengapa anak Tuhan harus memuji dan menyembah Tuhan?
  2. Bagaimana cara memuji dan menyembah Tuhan itu?
  3. Apa beda lirik lagu rohani dengan lirik lagu sekuler?

TUGAS

Pilihlah beberapa lagu rohani dan adakan klasifikasi, apalah lagu itu cocok untuk misalnya memberikan penghiburan, membangkitkan iman, atau menyatakan kebenaran Injil. Selidikilah karakteristik itu dari lirik-liriknya.


F. SATANOLOGI/DEMONOLOGI

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: SATANOLOGI/DEMONOLOGI

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitabiah untuk membangun dasar kerohanian.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah:

  1. Memahami siapa dan bagaimana Setan itu
  2. Memahami pekerjaan Iblis dalam hidup manusia
  3. Memahami dan menerapkan prinsip Alktabiah untuk melawan dan mengusir setan

MENGENALI SETAN

Diambil dari buku “Doa Mengatasi Bencana Alam” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2009).

Iblis merupakan suatu pribadi jahat yang memiliki kuasa supranatural atas kosmos. Menurut sejarahnya, setan (dalam bahasa Latin disebut Lucifer) adalah penghulu malaikat yang memberontak kepada Tuhan. Sejak kekal, sebelum Adam dan Hawa diciptakan, Tuhan memerintah bersama para malaikatnya. Pemberontakan Lucifer terlihat dari keinginannya untuk menjadi penguasa yang melampaui Tuhan. Hal itu terungkap dari kata-kata ”aku hendak” seperti dicatat oleh nabi Yesaya (Yes 14:13-14): aku hendak naik ke langit; aku hendak mendirikan tahtaku mengatasi bintang-bintang; aku hendak duduk di atas bukit pertemuan jauh di sebelah utara; aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan; aku hendak menyamai Yang Mahatinggi.

Sebelum jatuh dalam dosa pemberontakan, Lucifer memiliki kepribadian yang sangat luar biasa. Menurut Ryrie (1991), Yehezkiel membandingkan kelebihan raja Tirus dengan kelebihan Lucifer sebelum kejatuhannya (Yeh 28:12-15). Lucifer memiliki kesempurnaan hikmat dan keindahan, tempat tinggal yang mulia, kemeganan busana, fungsi yang hebat, dankesempurnaan integritas yang tak bercela.

Karena memberontak, Tuhan menghukum Lucifer dan melemparkannya ke bumi. Ia jatuh seperti kilat dari langit (Luk 10:18). Dalam kejatuhannya itu, Lucifer mempengaruhi sepertiga dari malaikat-malaikat yang lain. Karena itu, dalam keberadaannya kemudian, setan memiliki kerajaannya sendiri. Setan mempunyai sistem pemerintahan yang besar dan rapi (Ef 6:12). Mereka menjadi kelompok kekuatan besar yang selamanya berseteru dengan Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, dipakai beberapa istilah seperti setan, iblis, dan si jahat. Setan berasal dari kata Ibrani (satan) yang berarti musuh atau lawan [adversary] (Za 3:1; Mat 4:10; Why 12:9; 20:2). Iblis berasal dari kata Yunani (diabolos) yang mengandung arti pemfitnah (Mat 4:1; Ef  4:27; Why 12:9; 20:2). Yohanes menyebutnya sebagai si jahat (Yoh 17:15; 1 Yoh 5:18-19). Sifat iblis itu sangat jahat.

Paulus menggambarkan sifat-sifat iblis dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef 6:10-12) sebagai berikut. Pertama, iblis sangat licik. Pada ayat 11, Paulus menekankan soal “tipu muslihat iblis”. Dengan cara itu, iblis menghalangi karya Tuhan dalam kehidupan manusia. Iblis membuat manusia terombang-ambing dalam permainan palsu dan segala bentuk kelicikan (Ef 4:14).

Kedua, iblis adalah musuh yang mempunyai kuasa supranatural. Ketika Paulus menandaskan supaya kita menjadi kuat di dalam kekuatan kuasa Tuhan, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang kekuatan dan kuasa si iblis itu (ayat 12). Iblis mempunyai system pemerintahan dan organisasi kekuasaan yang kokoh. Ketika para murid gagal mengusir setan yang menguasai seseorang (dalam pelayanan pelepasan), Yesus memberi penjelasan bahwa itu terjadi karena mereka kurang beriman (Mat 17:17) dan karena pelayanan pengusiran itu membutuhkan doa dan puasa (Mat 17:21). Menurut Thomas J. Sappington (1998), para murid waktu itu agak meremehkan kekuatan setan. Kenyataannya, setan mempunyai kuasa dan kita harus melawannya dengan persiapan rohani yang khusus.

Ketiga, iblis adalah musuh yang sangat jahat. Pada ayat 12, Paulus menunjuk pada masalah “roh-roh jahat”. Ini merupakan sifat dasar iblis, yaitu sangat jahat. Sappington (1998) memperingatkan supaya kita tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran lain. Mereka mengatakan adanya roh-roh gaib yang jahat dan yang baik. Ilmu gaib pun ada dua, putih (white magic) dan hitam (black magic). Pengajaran Alkitab tentang dunia mahkluk halus sangat jelas, semua iblis jahat, apapun bentuk dan manifestasinya!

Charles Ryrie (1991) mengklasifikasi kejahatan setan sebagai berikut. Pertama, dalam hubungannya dengan Kristus, setan berusaha menggagalkan misi Yesus untuk mati bagi penebusan dosa manusia. Hal itu jelas sejak Herodes berusaha membunuh bayi-bayi yang baru lahir (Mat 2:16). Kedua, dalam hubungannya dengan Tuhan, setan melawan Tuhan dengan cara mengembangkan segala bentuk kepalsuan. Jangan heran jika sekarang muncul banyak agama palsu (2 Tim 3:5), hamba-hamba Tuhan  palsu (2 Kor 11:15), ajaran-ajaran palsu (1 Tim 4:1-3). Puncak pemalsuan adalah kemunculan Antikris yang akan menyesatkan banyak orang dengan tipu muslihatnya (2 Tes 2:9-11). Ketiga, dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa, setan menyesatkan mereka (Why 20:3). Akibatnya, bangsa-bangsa mengembangkan sistem ideologi dan politik yang menghalangi pemberitaan Injil. Pada akhir jaman, iblis akan menipu sehingga bangsa-bangsa menyembah Antikris (Why 13:2-4). Keempat, dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak percaya, setan membutakan pikiran mereka sehingga tidak mau menerima Injil (2 Kor 4:4). Mereka mengedepankan akal budi dan pikiran rasional sehingga sulit untuk percaya. Mereka terjerat dalam ajaran agama-agama palsu, penyembahan berhala, dan okultisme. Kelima, dalam hubungannya dengan orang-orang percaya, setan mencobai supaya berbuat jahat (Kis 5:1-11), menyerang usaha pemberitaan Injil (1 Tes 2:18), dan menuduh kita di hadapan Tuhan (Why 12:10).

MANUSIA BISA DIKUASAI SETAN

Yesus menjelaskan dengan gamblang bagaimana manusia bisa dikuasai setan (Mat 12:43-45): ”Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersir tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” Penjelasan itu memberikan beberapa poin penting, pertama, manusia itu seperti sebuah rumah. Kedua, iblis dapat masuk, tinggal, dan menguasai rumah itu. Iblis dapat diusir keluar dari rumah itu (Mrk 16:17; Yak 4:7). Ketiga, iblis akan masuk kembali dan merebut manusia itu kembali karena memang ingin menghancurkan manusia (Yoh 10:10). Keempat, maka rumah itu jangan dibiarkan kosong, harus diisi dengan Penghuni baru (Roh Kudus) sehingga manusia percaya menjadi rumah Tuhan, Bait Roh Kudus (1 Kor 6:19).

Bagaimana setan bisa masuk dalam diri manusia? Pertama, bisa karena kutuk garis keturunan. Seorang anak bisa terikat iblis sejak lahir karena faktor orangtua yang juga terikat kuasa gelap. Makanya ada penyakit turunan, kutuk turunan, kutuk warisan, dan juga ilmu gaib warisan. Kedua, keterlibatan pada okultisme. Ketiga, sakit-penyakit yang menyebabkan pertahaan jasmani-rohani kita lemah sehingga iblis bisa menerobos masuk. Keempat, kelemahan jiwa (stress, depresi, ketakutan, marah, benci, patah hati, dst) menyebabkan pertahanan rohani lemah dan iblis pun masuk. Kelima, serangan kuasa gelap (misalnya terkena sihir, tenung, guna-guna). Keenam, diserang iblis yang berkuasa atas wilayah tertentu (misalnya diserang iblis yang ada di kuburan atau tempat angker, rumah angker, dll). Ketujuh, dimasuki iblis karena belajar ilmu gaib, tenaga dalam, dll. Kedelapan, dikuasai iblis karena sengaja menyembah iblis (misalnya mengikuti ritual seks, ritual gereja setan, dll). Kesembilan, dikuasai iblis karena hidup dalam dosa (perzinahan menyebabkan orang terikat roh najis, pembunuhan membuat si pembunuh dikuasai roh jahat, dst).

KUASA MENGUSIR SETAN

Diambil dari buku “Doa Mengatasi Bencana Alam” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2009).

Pada dasarnya, setiap orang percaya bisa mengusir setan-setan di dalam nama Yesus (Mrk 16:17). Seriap murid Kristus diberi perintah dan kuasa untuk mengusir setan (Mat 10:8). Namun, untuk melancarkan peperangan tingkat strategis, tidak sesederhana melayani pelepasan secara personal. Para pendoa harus memperhatikan hal-hal berikut ini. Pertama, harus ada persiapan rohani. Kegagalan para murid dalam mengusir setan disinyalir disebabkan oleh kurangnya persiapan karena Yesus menyarankan supaya mereka lebih serius dalam iman, doa, dan puasa (Mat 17:20-21).

Kedua, harus mengenakan selengkap senjata Tuhan (Ef 6:14-18), meliputi: (1) ikat pinggang kebenaran, yaitu hidup dalam kebenaran Firman, (2) baju zirah keadilan, yaitu hidup benar, suci, murni, tulus, lurus, (3) kasut kerelaan memberitakan Injil, yaitu tujuan untuk membawa jiwa-jiwa kepada Kristus, (4) perisai iman, (5) ketopong keselamatan, yaitu pikiran yang berpusat pada Kristus Juruselamat, (6) pedang Roh, yaitu Firman Tuhan, (7) doa yang terus menerus.

Ketiga, harus ada pengayoman (coverage) dari para pemimpin. Tuhan menetapkan para pemimpin sebagai pengayom jemaat secara spiritual (Ibr 13:17). Doa mereka memerisai kehidupan rohani segenap jemaat. Dalam melakukan peperangan, kita perlu perisai rohani.

Keempat, harus menutup semua celah, tidak memberi peluang masuk sedikit pun kepada iblis (Ef 4:27). Kemarahan, kesedihan, dosa, dan sebagainya menjadikan celah terbuka sehingga iblis mempunyai peluang untuk menyerang dan merangsek masuk. Banyak pendoa peperangan jatuh karena hidupnya memiliki celah-celah menganga.

SOAL

  1. Siapakah setan itu?
  2. Bagaimana iblis bisa masuk?
  3. Bagaimana cara mengusir setan?

TUGAS

Selidikilah kegiatan-kegiatan di masyarakat kita yang bersifat satanis. Mengapa pekerjaan iblis itu bisa tetap eksis di masyarakat kita? Bagaimana orang Kristen harus bersikap?


G. THE POWER OF VISION

January 15, 2010

PENGANTAR

Judul Materi: THE POWER OF VISION

Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai dengan materi ini adalah: Mahasiswa mampu merumuskan dan menerapkan visi untuk berdampak menjadi garam dan terang dunia dengan kompetensi dan kreatifitas unggul.

Indikator-indikator pencapaian KD itu adalah:

  1. Memahami dan menerapkan visi
  2. Menerapkan strategi perencanaan untuk mewujudkan visi

KUALITAS HIDUP TERGANTUNG DARI TUJUAN HIDUP

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Apakah perbedaan antara manusia dengan hewan? Para ahli sekuler cenderung tidak melihat adanya banyak perbedaan. Para evolusionis percaya bahwa monyet atau hewan sejenisnya (the missing link) adalah nenek-moyang manusia modern sekarang ini. Para sosiolog menyebut manusia sebagai the social animal. Manusia tidak lebih dari seekor ”hewan yang berpikir”.

Kalau tujuan hidup Anda tidak lebih dari urusan memenuhi kebutuhan perut dan seks, maaf, Anda tidak lebih dari seekor hewan. Taruhlah anjing sebagai contoh. Ia hidup melulu untuk makan, minum, dan seks, titik. Manusia memang lebih canggih. Untuk memenuhi kebutuhan perut, ia menutut ilmu dan bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan seks, manusia menciptakan sistem kekerabatan, ritual perkawinan, dan mitos-mitos tentang cinta. Namun, intinya tetap seputar urusan perut dan seks, bukan?

Bahkan, manusia sering lebih biadab ketimbang hewan. Hewan masih mengenal musim kawin. Seekor burung merpati selalu setia dengan pasangannya. Manusia? Nggak punya aturan! Homoseksualitas dan lesbianisme, itu buktinya. Bahkan, manusia doyan berhubungan seks dengan mayat (necrophillia).

Sejarah kehidupan mencatat bahwa manusia diciptakan berbeda dengan hewan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, lebih tinggi kodratnya daripada hewan dan tumbuhan (Kej 1:26-27). Namun, karena jatuh, manusia putus hubungan dengan Tuhan. Kehidupan moral-spiritualnya rusak (total depravity). Manusia hidup dalam daging. Karena itu, kehidupannya sedemikian merosot sampai kadang-kadang tidak lebih baik daripada hewan.

Bagaimana dengan anak Tuhan? Orang Kristen sejati berbeda dengan hewan dan berbeda dengan manusia duniawi. Pertama, ia adalah ”mahkluk illahi” karena Roh Tuhan berkenan tinggal dan memenuhi dirinya (1 Kor 6:19). Kedua, tujuan hidupnya berbeda. Ia hidup bukan sekedar untuk urusan perut dan seks. Orang Kristen hidup untuk Tuhan. Hidup untuk Kristus (Flp 1:21).

Namun, ciri kekristenan yang kedua ini sering tidak disadari dan dijalani oleh anak-anak Tuhan. Meski sudah didiami dan bahkan dipenuhi Roh Kudus, orang Kristen tidak hidup dengan tujuan illahi yang jelas. Akibatnya, mereka hidup liar karena tidak mempunyai visi (Ams 29:18). Banyak orang Kristen hidup seperti orang-orang duniawi, melulu untuk urusan perut dan seks. Hidupnya berkisar pada life cycle: lahir, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu, pensiun, lalu mati. Selesai!

ORANG KRISTEN VISIONER: PUNYA TUJUAN ILLAHI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Tidak semua orang Kristen visioner. Banyak anak Tuhan hidup tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas. Tentu saja, tidak sedikit orang Kristen yang mempunyai cita-cita dan obsesi. Namun, cita-cita dan obsesinya tidak selalu selaras dengan panggilan hidup dan pelayanan yang diberikan Tuhan. Cita-cita dan obsesi berorientasi pada kepentingan diri, sedangkan visi berorientasi pada panggilan Tuhan.

Sebutan ”Kristen” yang pertama kali muncul di Antiokia menunjuk pada para murid Kristus (Kis 11:26). Dengan demikian, sebutan Kristen secara historis merefer pada anak-anak Tuhan dalam masa pertumbuhan gereja mula-mula. Kekristenan pada waktu itu bukan sekedar kehidupan beragama secara tradisional, tetapi sebuah kehidupan spiritualitas yang mendalam (band. Kis 2).

Orang Kristen sejati bukan hanya berhenti pada tahapan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun bertumbuh dalam karya Roh Kristus. Dalam diri setiap orang percaya, Roh Kudus bekerja sebagai berikut: Melahirkan baru (Yoh 3:5; Tit 3:5), Memeteraikan (2 Kor 1:22; Ef 1:13), Mendiami (1 Kor 6:19), Memenuhi (Ef 5:18), Memberi karunia-karunia Roh (1 Kor 12:7-11), Menumbuhkan buah-buah Roh (Gal 5:22-23). Dengan demikian, menjadi Kristen berarti bertumbuh ke arah Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus, dalam kehidupan yang penuh kasih dan kuasa illahi.

Selanjutnya, orang Kristen harus hidup dengan tujuan illahi. Dalam buku The Purpose Driven Life, Rick Warren mengatakan bahwa tujuan hidup setiap anak Tuhan secara umum adalah sbb. Pertama, Hidup untuk menyenangkan hati Tuhan. Kedua, hidup untuk menjadi Keluarga Tuhan (Gereja). Ketiga, hidup untuk menjadi serupa dengan Kristus. Keempat, hidup untuk melayani Tuhan. Kelima, hidup untuk memberitakan Injil (Mission).Namun, itu baru merupakan visi umum (general vision). Itu merupakan tujuan yang harus dicapai oleh semua orang Kristen. Bagaimana dengan visi khusus masing-masing anak Tuhan?

VISI SEBAGAI TUJUAN KHUSUS

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Setiap anak Tuhan diciptakan spesifik: you are very special. Panggilan Tuhan atas setiap anakNya sangat spesifik. Itulah yang disebut dengan visi. Georga Barna memberikan definisi visi Kristen sebagai berikut: visi adalah suatu gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang lebih baik yang ditanamkan oleh Tuhan kepada hamba pilihanNya dan didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang Tuhan, tentang diri sendiri, dan tentang lingkungannya.

Pertama ,visi adalah gambaran mental yang jelas tentang masa depan. Visi adalah sebuah konsep atau rumusan cita-cita yang rinci yang memberi arah atau tujuan jelas menuju masa depan.

Kedua, visi diimpartasikan oleh Tuhan. Sedangkan cita-cita, obsesi, atau ambisi, muncul dari pikiran, perasaan, dan kehendak diri sendiri. Visi adalah cita-cita masa depan yang diberikan Tuhan.

Ketiga, visi diberikan kepada hamba Tuhan. Artinya, visi adalah sebuah panggilan pelayanan. Visi bukan sekedar rasa terbeban, tetapi sebuah tugas yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya.

Keempat, visi diperoleh (ditemukan, digali, ditangkap) melalui proses belajar, memahami Tuhan, memahami diri sendiri, dan memahami lingkungan.

Tokoh-tokoh besar dalam Alkitab adalah orang-orang visioner. Paulus memiliki visi yang jelas, yaitu menjadi penginjil, rasul, dan pengajar (2 Tim 1:11). Demikian juga dengan Musa (Kel 3:1-10), Yosua (Yos 1:1-5), Nehemia (Neh 1:3; 2:4-5, 12), Daud (1 Sam 23:15-18), Yesaya (Yes 1:1; 6:1-10), dan Yeremia (Yer 1:1-28). Mereka menjalani hidup dan pelayanan dengan cita-cita illahi yang jelas.

KARAKTERISTIK VISI KRISTEN

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Kini, banyak orang menetapkan visi sebagai bagian dari intelektualitas dan profesionalitas.. Perusahaan-perusahaan mempunyai visi. Kalau orang membuat organisasi seperti yayasan atau lembaga, juga membuat visi dan misi. Pada tataran individu, orang-orang sukses adalah para visioner.

Baik visi, cita-cita, obsesi, atau idealisme sama-sama merupakan konsep tentang rumusan masa depan yang akan dicapai. Tetapi kita harus jeli melihat perbedaannya.

CITA-CITA biasanya merupakan obsesi masa depan menurut pikiran kita sendiri (manusia). Anak kecil sudah ditanya dan diajari untuk mempunyai dan mengejar cita-cita. Misalnya ketika ditanya, si anak menjawab kalau ia ingin menjadi dokter atau insinyur. Cita-cita adalah keinginan diri untuk berhasil menurut ukuran dunia ini.

IDEALISME biasanya semacam cita-cita yang bersifat ideologis atau filosofis. Suatu ambisi yang didasarkan pada pemikiran ideal tentang sesuatu yang lebih dari sekedar urusan kepentingan jasmaniah-lahiriah-material-finansial (makan minum, kawin mawin, uang dan kekayaan). Para penggiat LSM misalnya, terkadang mempunyai idealisme. Mereka berjuang untuk, misalya kaum buruh, untuk orang miskin, dst. Mereka bahkan rela berkorban, mau dipenjara, dan bahkan rela mati demi idealisme mereka. Seniman yang idealis tidak hanya berkiprah untuk mencari duit tetapi ia akan berprinsip seni untuk seni. Muhammad Hatta, proklamator dan wapres pertama kita, adalah seorang nasionalis yang idealis. Pada 1945 ketika berusia 43 tahun, beliau berkata, ”Aku belum akan menikah dulu sampai Indonesia meraih kemerdekaan!” Cita-cita hidupnya sangat mulia, tinggi, filosofis, tidak terkungkung oleh kebutuhan-kebutuhan sesaat yang rendahan.

VISI lebih dari cita-cita dan lebih dari idealisme. Visi adalah cita-cita idealis yang ditanamkan (diimpartasikan) oleh Tuhan dalam rangka melakukan panggilan pelayanan (mandat Tuhan). Hal itu bukan berarti harus menjadi pendeta atau penginjil.Apa pun pekerjaan kita – termasuk bekerja di ranah sekuler – merupakan visi jika itu merupakan cita-cita yang diberikan Tuhan dan dilakukan untuk Tuhan.

Jadi, sebagai contoh, ada orang Kristen menjadi dokter karena sekedar cita-cita, atau karena idealisme, atau karena visi illahi. Kalau sekedar cita-cita, ia hanya ingin menjadi kaya dan sukses lewat profesi itu. Kalau dokter idealis, biasanya bekerja untuk cita-cita kemanusiaan, tidak sekedar mencari uang. Sedangkan dokter Kristen yang visioner akan menjalani profesi itu untuk memuliakan Tuhan, dalam rangka menjalani panggilan pelayanan kepada Kristus. Masalah visi akan berimplikasi sangat luas pada tataran praksisnya.

VISI TERKAIT DUA MANDAT ILLAHI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Visi setiap anak Tuhan harus kait mengait dengan 2 mandat illahi yang diberikan Tuhan. Pertama, mandat pembangunan: tugas untuk mengelola dan membangun bumi menjadi baik (Kej 1:28). Kedua, mandat pembaharuan rohani: amanat Agung, penginjilan, misi (Mat 28:19-20). Kedua mandat itu saling berkaitan. Keduanya merupakan satu paket tugas yang diberikan Tuhan. Keduanya adalah pelayanan kepada Tuhan. Jadi, jangan menarik garis pemisah antara tugas sekuler dan tugas rohani.

Dengan demikian, menjadi dokter, insinyur, atau pengacara – jika dalam rangka melaksanakan mandat illahi – adalah sebuah pelayanan. Sebaliknya, menjadi penginjil atau pendeta – jika tidak dalam rangka melaksanakan mandat illahi – bukan sebuah pelayanan. Sekarang, banyak orang menjadi pendeta supaya kaya, menjadikan gereja sebagai bisnis.

Kecuali itu, kedua mandat itu saling melengkapi. Pelaksanaan pembangunan dunia dilakukan untuk membuka jalan bagi penginjilan. Sebaliknya, penginjilan harus membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik, bukan hanya secara rohani, namun maju secara duniawi (pendidikan, kemapanan ekonomi, status sosial, kemajuan IPTEK, dll).

CARA MENANGKAP VISI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Kalau cita-cita, pada dasarnya adalah keinginan diri sendiri. Kalau idealisme, adalah cita-cita yang dirumuskan dengan berpikir mendalam, filosofis, tidak sekedar dangkal saja. Sedangkan visi, dirumuskan dengan berkonsultasi dengan Tuhan dan Firman-Nya, karena visi adalah panggilan illahi, cita-cita illahi.

Menangkap visi illahi tidak semudah merumuskan cita-cita manusiawi. Kita dapat dengan mudah memutuskan untuk menjadi dokter, insinyur, atau bahkan menjadi pendeta. Anak kecil pun bisa menyebut cita-citanya saat ditanyai gurunya. Persoalannya adalah apakah itu sekedar cita-cita, atau suatu idealisme, atau visi illahi.

Seringkali, Tuhan memberi visi pada saat tidak terduga. Ketika Musa sibuk dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai penggembala, Tuhan memberi visi untuk menjadi pemimpin dan pembebas umat-Nya (Kel 3:1-4). Bahkan, Paulus menerima panggilan pada saat ia giat melawan Tuhan (Kis 9:1-5).

Tetapi, pada umumnya, pemberian visi itu dilakukan Tuhan seiring dengan pertumbuhan kehidupan rohani. Paulus berkata kepada Timotius bahwa jika ia semakin hidup kudus, maka Tuhan akan memberi kepercayaan yang besar (2 Tim 2:20-21). Tuhan akan mempercayakan visi illahi kepada anak-anak-Nya yang memenuhi syarat.

Faktor kesetiaan juga penting. Jika kita setia melakukan visi yang kecil, Tuhan akan memberikan visi-visi yang lebih besar (band. Mat 25:23).

Seringkali, orang mau visinya, tetapi tidak mau memenuhi tuntutannya. Ingin dipakai Tuhan, melakukan perkara besar, dan diberkati. Tetapi, ia tidak mau memenuhi syarat-syaratnya. Maunya, instan dan serba menyenangkan.

VISI TUHAN VS CITA-CITA DAN IDEALISME DIRI SENDIRI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Visi illahi yang diberikan Tuhan terkadang berbeda, dan bisa jadi bahkan berseberangan dengan cita-cita diri. Pikiran Tuhan dan pikiran manusia berbeda jauh seperti langit dan bumi. Rancangan Tuhan bukan seperti rancangan manusia (Yes 55:8-9)

Kadang kala, kita harus mengorbankan cita-cita diri demi mengikuti visi illahi. Akibatnya, sering terjadi konflik batin, tarik ulur, perbantahan, dan pemberontakan. Apalagi jika visi illahi itu tidak menyenangkan secara daging. Tidak heran jika Yunus menolak visi untuk melayani di Niniwe, malahan lari ke Tarsis (Yun 1:1-3). Dalam hal ketaatan, Yesus memberi teladan ketaatan. Keputusan-Nya adalah: ”Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”  (Mat 26:39).

Namun, visi yang dari Tuhan itu indah adanya. Rancangan Tuhan itu membukakan masa depan yang cerah (Yer 29:11). Sekalipun sepertinya buruk, di dalam pusat kehendak-Nya pasti ada kedahsyatan.

Seringkali, kita mengkompromikan visi Tuhan dan cita-cita/ambisi/obsesi diri. Di satu sisi, ingin melakukan panggilan-Nya. Di sisi lain, masih ingin mengejar obsesi diri. Ketaatan yang setengah-setengah tidak akan maksimal. Tuhan sendiri menuntut anak-anak-Nya untuk tidak menjadi suam-suam kuku (band. Why 3:15-16).

Berkat Tuhan tercurah maksimal manakala kita berada di pusat kehendak-Nya (in the center of God’s plan). Hidup dalam totalitas panggilan dan visi illahi akan membukakan berkat Tuhan. Jika setengah-setengah, malah susah. Karena tidak fokus dalam visi, bangsa Israel harus mengembara 40 tahun, bukan?

CARA MENANGKAP VISI: PAHAMI DIRI SENDIRI

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Kalau Tuhan menaruh (mengimpartasi) visi, jiwa kita akan dicengkeram olehnya. Karena itu, sangat penting untuk menyelidiki hal-hal berikut ini. Pertama, talenta dan karunia apa yang ada pada kita? Setiap talenta dan karunia yang sudah diberikan Tuhan pasti akan dipakai Tuhan. Kedua, kerinduan-kerinduan rohani apa yang kuat? Tidak semua rasa terbeban merupakan indikator adanya visi illahi. Namun, jika Tuhan menaruh visi, pasti muncul kerinduan-kerinduan untuk melayani jiwa-jiwa. Ketiga, dalam hal apa hati kita berkobar-kobar? Visi illahi akan membuat hati seorang visioner berkobar-kobar. Bahkan, ia rela berkorban dan bahkan berani mati demi visi itu. Keempat, pelayanan apa yang paling menarik minat? Kertertarikan pada sebuah pelayanan bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk faktor-faktor ingin menjadi terkenal dan kaya. Namun, kalau Tuhan memberi visi, kita akan tertarik untuk melayani bukan karena hal-hal yang fana. Kelima, pekerjaan apa yang paling membahagiakan? Melakukan pekerjaan atau pelayanan yang sesuai visi akan memberi kepuasan batin.

CARA MENANGKAP VISI: DENGAR SUARA TUHAN

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Menangkap visi illahi berarti mendengar suara Tuhan. Bagaimana Roh Kudus berbicara? Melalui penerangan (iluminasi) saat membaca dan mempelajari Alkitab. Melalui kesaksian/suara batin (Rom 9:1). Melalui suara supranatural Roh Kudus (Kis 10:19-23; 1 Sam 3:2-4). Melalui karunia nubuat (1 Kor 14:1,3). Melalui penglihatan-penglihatan – dalam suasana diliputi Roh (Kis 10:9-10), penglihatan terbuka (Luk 1:26-38), dan mimpi-mimpi (Mat 2:13). Namun, setiap penyataan supranatural harus diuji (1 Tes 5:19-21). Karena itu, kita harus tinggal dalam komunitas rohani yang bisa memberi pertimbangan dan peneguhan (1 Kor 14:29-31).

Untuk bisa menangkap visi, seorang anak Tuhan harus dewasa secara rohani. Ia dekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan Roh Kudus. Ia tulus dalam motivasi dan mencintai Tuhan, sehingga hidup dalam ketaatan akan panggilan illahi.

UKURAN SUKSES SEORANG VISIONER

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Definisi sukses (success) adalah the accomplishment of an aim or purpose. Sukses terjadi apabila kita memenuhi atau mencapai tujuan atau sasaran kita. Sedangkan tujuan atau sasaran orang Kristen sejati adalah visi illahi tersebut. Jadi, orang Kristen disebut sukses jika ia menyelesaikan visinya.

Sukses orang Kristen diukur dari pencapaian visinya. Dan, itu bukan soal kaya atau miskin. Bukan soal mempunyai rumah megah atau mobil mewah. Juga bukan soal mempunyai gereja mentereng dan jemaat ribuan. Namun, soal menyelesaikan panggilan hidup dan pelayanan yang sudah diberikan Tuhan.

Dari sudut pandang dunia, kehidupan Yesus berakhir dengan sangat mengenaskan. Ia dikhianati oleh Yudas dan disangkali oleh Petrus, murid-murid kepercayaan-Nya sendiri. Menjelang ajal, Yesus mengalami tekanan batin yang berat (Mat 26:38), sementara para murid-Nya tidak peduli dan tertidur (Mat 26:40, 43). Bahkan, semua murid meninggalkan-Nya (Mat 26:56). Akhirnya, Yesus meninggal setelah mengalami siksaan yang tak terperikan. Meskipun demikian, Yesus berkata: “It’s finish!” (Yoh 19 :30). Dengan kata lain: “Mission accomplished!” Artinya, Yesus berkata: “Aku sukses, Aku berhasil!”

Perjalanan hidup dan akhir hidup Paulus juga menyedihkan. Paulus membuat daftar panjang penderitaannya dalam suratnya kepada jemaat Korintus (2 Kor 11:23-28). Menjelang dihukum mati, Paulus mendekam di dalam penjara dan dilupakan banyak orang. Namun, Paulus berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir!” (2 Tim 4:7). Paulus menilai bahwa dirinya sukses! Jadi, ukuran sukses bagi Yesus dan Paulus adalah penyelesaian visi. Meski menderita dan miskin, kita disebut sukses jika berhasil menunaikan panggilan Tuhan!

Tapi, jangan kuatir soal berkat. Kalau mengutamakan visi, Tuhan pasti memberkati. Kalau kita mengutamakan Kerajaan Allah, semua berkat pasti ditambahkan (band. Mat 6:33). Kalau kita hidup demi visi, Tuhan akan mendukung hidup kita dengan berlimpah berkat. Perhatikan hidup Yesus, kaya dan makmur! Ia disupport oleh wanita-wanita kaya (Luk 8:1-3). Perahu-perahu, rumah-rumah, kamar-kamar tamu dan keledai-keledai siap bagi-Nya (Luk 5:1-3; Mrk 14:12-16; 11:1-7). Yesus punya bendahara dan selalu membantu orang-orang miskin (Yoh 12:4-8).

VISI DAN PERENCANAAN

Diambil dari Buku ”Succesful Christian Visioneries” oleh Haryadi Baskoro (Penerbit Pena Persada, 2007).

Visi akan tinggal tetap menjadi mimpi jika tidak diwujudkan melalui perencanaan yang praktis. Karena visi, seorang bisa menjadi pembual dan pendongeng. Itulah yang dialami oleh Yusuf bin Yakub manakala ia menerima visi dari Tuhan (Kej 37:1-11). Kepolosan seorang visioner menjadikan dirinya dibenci dan ditolak sebelum visi itu jadi.

Menjadi visioner harus membumi. Pikirannya tidak hanya melayang di awan. Ia harus berikhtiar sedemikian rupa supaya mimpi-mimpinya itu menjadi kenyataan dalam hidupnya di dunia.

Alkitab menekankan pentingnya sebuah perencanaan. Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang (Ams 24:6). Tuhan adalah Perencana Agung. Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah kehidupan dari kekal menuju kekal berada dibawah perencanaan-Nya. Bagaimana Yesus lahir, mati, bangkit, dan naik sudah diatur menurut time schedule yang sangat rinci. Dan, agenda-agenda illahi itu sudah disharingkan-Nya dalam bentuk nubuatan sejak dulu melalui perantaraan para nabi dan penulis Alkitab.

Tokoh-tokoh visioner dalam Alkitab adalah perencana-perencana yang mangkus. Nehemia berhasi membangun Yerusalem karena melakukan perencanaan yang matang. Paulus berhasil mengadakan perjalanan-perjalanan misi karena membuat perencanaan yang baik.

Perencanaan dimulai dari visi. Tanpa visi yang dirumuskan dengan jelas, takkan ada perencanaan. Langkah-langkah berikutnya adalah sbb. Pertama, merumuskan sasaran-sasaran yang nyata. Kedua, mengumpulkan data tentang posisi saat ini. Ketiga, menganalisis kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang-peluang (opportunities), dan ancaman-ancaman (threats) yang ada. Keempat, menetapkan alternatif-alternatif strategi untuk usaha pencapaian tujuan. Kelima, mengkategorikan strategi-strategi ke dalam perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek (1 th) harus dibuat terinci dan implementatif. Keenam, membuat agenda (time scheduling) dari setiap tindakan strategi pencapaian tujuan-tujuan. Ketujuh, memperhitungkan implikasi-implikasi setiap strategi seperti dana yang dibutuhkan, SDM yang terlibat, waktu, dll.

Membuat perencanaan membutuhkan pemikiran rasional dan sekaligus kepekaan pada pimpinan Roh Kudus. Terkadang, Roh Kudus melakukan interupsi, seperti dialami oleh Paulus dalam perencanaan perjalanan penginjilannya (Kis 16:4-12). Di sisi lain, mengandalkan Roh Kudus bukan berarti mengesampingkan pemikiran-pemikiran rasional.

SOAL

  1. Jelaskan perbedaan antara cita-cita, idealisme, dan visi!
  2. Apakah ukuran sukses dalam hidup Kristen itu?
  3. Mengapa orang visioner harus membuat perencanaan?

TUGAS

Rumuskan visi anda dan buatlah perencanaan taktis dan strategis untuk mewujudkan visi anda itu supaya menjadi kenyataan.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.